Sumber: Republika.

Tidak mudah menjadi pengajar bagi tuna netra, terlebih bila materi yang diajarkan bersifat keterampilan. Untuk berhasil, diperlukan kiat tersendiri, yaitu merasakan menjadi seorang tuna netra sebelum menyampaikan materi pelajaran. Itulah pengakuan Dedi U Handi, seorang pengajar tuna netra di lokasi pelatihan kerja dan keterampilan pertanian, Yayasan Peyantun Wiyata Guna, Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung. Pada awalnya, sekitar 15 tahun silam, Dedi merasa pesimis dan bingung ketika Yayasan Wiyata Guna menempatkan dirinya sebagai pengajar ilmu pertanian untuk para tuna netra.

Pria kelahiran Kuningan, 14 Desember 1957 itu, beranggapan bahwa ilmu pertanian hanya bisa diaplikasikan oleh kalangan manusia awas. Namun, anggapan itu akhirnya pudar setelah ia menjalani profesinya selama satu tahun. Dedi baru merasa optimis ketika melihat langsung muridnya mampu mengikuti pelajaran pertanian. Mulai dari materi teoritis hingga praktik di lapangan. Menurutnya, kunci utama keberhasilan mengajar tuna netra justru terletak pada pengajarnya. ”Memang tidak ada teori yang mengupas tentang teknik menyampaikan ilmu pertanian kepada tuna netra. Lebih-lebih, di negara kita ini hanya Yayasan Wiyata Guna yang membuka pelatihan sosial bagi tuna netra,” papar Dedi yang juga kepala balai pelatihan tersebut.

Bagaimana Dedi mulai menerapkan metode pengajarannya ini? Ayah dua anak ini mencoba merasakan menjadi seorang tuna netra. Dedi menutup matanya dengan kain saat mengaplikasikan ilmu pertaniannya. Bahkan, ia sempat seharian berkebun dengan mata tertutup. Tak pelak, perilaku Dedi itu ditertawakan oleh rekan-rekannya. Namun, baginya cemoohan bukanlah kendala yang berarti dalam meraih cita-citanya. Dari kiatnya itu, ia berhasil menemukan metode menyampaikan materi pelajaran kepada tuna netra. Sebab, dengan berlatih menjadi orang buta, kata dia, bisa memahami benar kebutuhan dan cara menyampaikan ilmu kepada orang buta.

Yang paling utama, untuk orang buta kita harus menjelaskan ilmu dengan bantuan alat rambaan. ”Ketika kita menerangkan cangkul, maka tuna netra itu harus mendengarnya sambil memegang cangkul,” ujarnya kepada Republika sambil mempraktikkan pola pengajarannya. Dengan cara meraba barang yang dijelaskan, imbuhnya, maka tuna netra itu akan mudah mengerti. Tak heran bila di ruang kelas tempat dirinya mengajar selalu dipenuhi dengan alat-alat pertanian. Dan seluruh alat pertanian yang digunakan oleh para tuna netra bersifat manual. Kesabaran dan ketekunan Dedi mengajar tuna netra membuahkan hasil. Kini, 15 siswanya mampu menggarap lahan perkebunan, mulai dari penyediaan bibit, penanaman, hingga penjualan hasilnya ke pasar.

Masing-masing tuna netra yang ikut pelatihan tersebut diberi jatah lahan garapan seluas 300 meter persegi. Seminggu pertama, para tuna netra menanam bibit sayuran. Kemudian, setiap dua hari sekali, mereka memantau perkembangan tanamannya dengan cara meraba. Perkebunan itu tidak kalah rapi dengan perkebunan garapan orang awas. Pasalnya, dalam mempetak lahan kebun, mereka menggunakan garis pembatas berupa tali sehingga tidak akan ada sayuran yang ditanam di luar garis tersebut. Moto yang diterapkan pria berwajah teduh itu adalah ”kemandirian dalam berkarya”. Itulah sebabnya seluruh siswa pelatihan dituntut mandiri yang tidah hanya terbatas dalam bercocok tanam, tetapi dalam kehidupan sehari-hari juga.

”Mereka harus melakukan sendiri hal-hal mulai dari merapikan kamar, memasak, mencuci pakaian, hingga berkebun,” tutur Dedi. Maka, setelah satu tahun mengikuti pelatihan tersebut, ujar Dedi, seorang tuna netra mampu berwirausaha. Karena itu, pelatihan ini lebih diprioritaskan menampung tuna netra yang kurang produktif. Saking lamanya berbaur dengan tuna netra, tak heran bila Dedi sering menitikkan air mata ketika melihat tuna netra menjadi pengemis. Terlebih jika ia pernah menjadi anak didiknya . Itulah agaknya yang membuat Dedi malas bepergian dan lebih memilih tinggal di rumah dinasnya yang berada di kompleks pelatihan seluas 5,7 hektare itu. []