Sumber: Republika.

Kenalilah budaya setempat, jika ingin kelancaran bertugas di daerah berjalan sesuai harapan. Itulah yang dilakukan Malikidin Soltif saat merintis SMK Koya di kampung Nafri. Sebagian besar penduduk di wilayah pinggiran kota Jayapura ini dikenal berkarakter keras. Tapi, sifat yang keras itu tidak membuat Malikidin patah arang dalam mendidik siswa di sekolah kejuruan kelompok pertanian tersebut.

Bagaimana ia mengenal budaya masyarakat Papua di kampung yang dekat dari perbatasan Papua New Guinea (PNG) ini? Malikidin melakukan pendekatan dengan ketua adat dan orang tua siswa. Tidak jarang ia mendatangi rumah-rumah penduduk, berkumpul bersama. Saat-saat seperti itulah dia menjelaskan pentingnya pendidikan bagi anak-anak mereka. ”Sebelum masuk, air saja tidak boleh dipakai,” tutur pria kelahiran Sorong, 1 Mei 1965 ini.

Usai bertugas di sekolah ini, sejak 2002 dia dipercaya menjadi kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 3 Jayapura. Sekolah yang sebelumnya bernama Sekolah Teknik Menengah (STM) memiliki sekitar 2000 siswa. Dengan cara pendekatan pula, dia perlahan-lahan bisa mengubah perilaku banyak siswa.

Maklum yang namanya siswa STM, umumnya dikenal agak nakal dan bandel. Tapi dengan pendekatan, kesan itu bisa berubah. Selain pendekatan, Malikidin juga minta guru agama dan guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganeraan (PPKn) berperan ganda. ”Sekarang tidak nakal,” ujarnya. ”Mereka bahkan lebih takut kepada guru daripada tentara.”

Sekolah ini, sesungguhnya bukan lingkungan asing bagi Malikidin. Dia memang pernah belajar di lembaga pendidikan itu. Malikidin termasuk salah satu alumnus sekolah tersebut, lulus tahun 1986. Beruntung, setelah lulus dari sini dia memperoleh ikatan dinas untuk belajar ke Bandung. Di kota Kembang ini Malikidin mengikuti Technical Education Development Center (TEDC) yang dilaksanakan oleh Balai Penataran Guru (BPG) bekerja sama dengan IKIP Bandung.

Usai merampungkan program ikatan dinas di Bandung, dia kembali ke Jayapura. Malikidin ditugaskan kembali ke almamaternya. Kehadirannya di sekolah itu, tentu saja bukan lagi sebagai siswa, tapi menjadi guru. Dia mendidik ‘adik-adiknya’, mengajar di sekolah kejuruan kelompok pertambangan dan indusrtri tersebut. Dari sinilah kemudian dia dipercaya merintis pendirian SMK kelompok pertanian di Koya, daerah pinggiran kota Jayapura.

Dalam perjalanan waktu, Malikidin akhirnya ditugaskan kembali ke SMK Negeri 3, sekolah tempatnya pertama kali mengajar setelah menjalani masa dua tahun menjadi kepala sekolah di SMK Koya. Kehadirannya di SMK Negeri 3 Jayapura kali ini, bukan lagi hanya sebagai guru, melainkan menjadi kepala sekolah.

SMK di kota Jayapura ini, menurut Malikidin, tergolong sekolah yang sudah lama didirikan, sejak zaman Belanda. Lulusannya sudah menyebar ke berbagai instansi pemerintah dan swasta. ”Semua PU (Dinas Pekerjaan Umum) kabupaten di Provinsi Papua, ada lulusan sekolah ini,” tuturnya. Bahkan, kata dia lagi, ada yang bekerja di Astra, Jakarta.

Kini, SMK Negeri 3 Papua lah yang dipercaya melakukan renovasi sekolah-sekolah di daerah pinggiran kota bersama komite sekolah setempat. Dia mensukuri, perencanaan dan pengawasan program merupakan baru kali pertama diselenggarakan di provinsi di ujung timur Indonesia itu diserahkan kepada sekolah yang dipimpinnya. ”Kita akan prioritaskan 28 SD di pinggiran kota,” ujarnya.

Lahir dari keluarga petani, sejak masih di sekolah menengah pertama Malikidin memang berniat masuk sekolah kejuruan. Pilihan itu diambil karena dia mengaku berasal dari keluarga petani. Lantaran itu pula, setamat SD dan SMP di kota kelahirannya, Sorong, dia berangkat ke Jayapura. Di ibu kota provinsi ini dia memilih masuk ke STM. ”Waktu itu tidak ada STM di Sorong,” alasannya.

Di sekolah yang kini bernama SMK Negeri 3 Jayapura itulah ia mengawali karirnya sebagai pengajar. Sebagai guru, dia sadar, diperlukan cara tersendiri dalam mendidik siswa. Itu telah ia buktikan, tidak hanya di SMK Negeri 3 Jayapura, tapi juga saat memimpin SMK Koya. []