Sumber: Republika.

Nun jauh di pedalaman Nabire, Irian Jaya, tepatnya di Desa Putapa, Manfred Wakei menjalani hidup yang lebih berarti: mendidik anak bangsa agar mereka melek angka dan aksara. Tak cuma sukses mendidik anak orang lain, guru golongan III D ini juga sukses mendidik anaknya sendiri.

Tinggal di kota besar, apalagi seperti Jakarta, tak pernah terbayangkan oleh Manfred Wakei. Baginya, kehidupan yang jauh dari keramaian lebih berarti daripada tinggal di perkotaan yang penuh hiruk pikuk kendaraan. Di pedalaman yang jauh dari keramaian dan kemacetan lalu lintas layaknya terjadi di kota besar, lelaki berkulit hitam berambut keriting ini menemukan kebahagiaan.

Lebih dari separo usianya, ia habiskan untuk mendidik anak-anak bangsa di Putapa, sebuah desa di pedalaman Irian Jaya. Sejak 1965, Manfred muda menjadi guru di satu-satunya sekolah yang ada di kampung tersebut. Kala itu usianya belum genap 20 tahun, tak lama setelah ia menyelesaikan pendidikan Kursus Pendidikan Guru (KPG) di Nabire.

Pengabdian tulus Manfred yang lebih dari 30 tahun menjadi guru di daerah terpencil, mendatangkan penghargaan dari pemerintah. Menjelang peringatan Proklamasi Kemerdekaan RI ke-56 lalu, Manfred –bersama puluhan guru terpencil dari berbagai penjuru Tanah Air lainnya– diundang pemerintah untuk menghadiri peringatan itu di Istana Negara. “Tak pernah saya bayangkan sebelumnya, saya bisa melihat Jakarta dan Istana Negara,” ujarnya kepada Republika.

Selama di Jakarta, Manfred menjadi manusia supersibuk. Ia menerima undangan dari sejumlah menteri dan pejabat tinggi negara lainnya. Ia juga mengunjungi tempat-tempat rekreasi yang ada di Jakarta. Tidak ketinggalan ia menghadiri undangan Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Abdul Malik Fadjar, dan mengikuti kuis Siapa Berani di salah satu televisi swasta.

Dengan tekun Manfred mengikuti setiap acara yang diperuntukkan baginya [oleh panitia]. Ia pasang telinga lebar-lebar, dan menyimak pembicaraan setiap kali menghadari undangan kendati ia mengaku tidak mengenal sosok yang tengah berbicara di hadapannya. Bahkan terhadap Mendiknas Malik Fadjar sekalipun.

Dengarlah pengakuan polos Manfred saat diterima Malik Fadjar di kantor Depdiknas.

“Paitua kenal siapa yang berbicara di atas?” Dia terdiam, lalu menggelengkan kepala.

“Itu Menteri Pendidikan.”

“Oh, Bapak Pendidikan.” Manfred kemudian mengambil sebungkus rokok dari saku kemeja batik yang dikenakannya. Dia menulis nama Malik Fadjar di balik bungkus rokok tersebut.

Wajar saja jika Manfred tak terlalu mengenal wajah-wajah tokoh dan petinggi negeri ini. Putapa, desa tempatnya mengajar, sama sekali belum tersentuh teknologi komunikasi. Jangan kan televisi, radio pun tak ada. Informasi dengan dunia luar seakan terputus. Kesehariannya dicurahkan untuk mengajar dan berbaur dengan masyarakat. “Semua hutan,” ujarnya.

Putapa, cerita Manfred, sebuah desa di pelosok Irian Jaya. Hubungan lalu lintas tak mulus. Jalanan memang sudah ada, tapi jembatan kayu yang memotong sungai di sepanjang perjalanan, sulit dilalui kendaraan beroda empat. Jembatan kayu itu akan roboh jika kendaraan roda empat melintas di atasnya.

Masyarakat di Putapa, kata Manfred, terpaksa harus berjalan kaki, melintasi perbukitan, dan menembus hutan untuk bisa bepergian ke daerah lain. Untuk bisa sampai ke Nabire, misalnya, pria bertubuh kecil ini harus menghabiskan waktu tak kurang dari lima jam. Nabire merupakan satu-satunya tempat terdekat bagi siswa Manfred untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Tapi sebelum ke Nabire, mereka harus menyelesaikan jenjang SD di desa lain. Jaraknya sekitar dua jam perjalanan kaki. Maklum, SD YPPK tempat Manfred mengajar, hanya sampai kelas IV saja. Tak ada kelas V dan VI di SD ini. Apa boleh buat, para siswa yang ingin melanjutkan ke kelas V dan kelas VI harus pindah ke SD di desa yang lain.

Tak sia-sia Manfred mengabdikan diri di desa yang jauh di pedalamam provinsi ujung timur Indonesia itu. Dalam perjalanan waktu, kini sudah ada bekas muridnya yang berhasil menjadi ‘orang’. “Siswa pertama saya ada yang menjadi anggota DPR,” ujarnya. Tampak rasa bangga dalam diri ayah delapan anak –dua di antaranya sudah meninggal– ini saat mengucapkan kalimat itu.

Komitmen pada pendidikan tak hanya dibuktikan dengan pengabdiannya mendidik anak-anak desa di pedalaman Irian Jaya. Meski tidak seberapa penghasilan yang diperolehnya dari guru dengan pangkat golongan III D, tapi pendidikan putera-puterinya tetap saja menjadi prioritas Manfred.

Putera sulungnya telah menyelesaikan jenjang S1 di salah satu perguruan tinggi di Bandung. Putera kedua, kini masih kuliah di Yogyakarta. Sedangkan dua anaknya yang lain kini duduk di bangku SMU di Nabire, dua lainnya masih di SD. Lalu bagaimana ia bisa membiayai pendidikan anak-anaknya?

Manfred berterus terang mengatakan, sebagian besar penghasilannya memang digunakan untuk membiayai pendidikan anak-anaknya. “Biar saya bersama masyarakat, makan ubi atau ketela. Tidak usah pakai garam, tidak usah makan supermie,” ujarnya. Supermie, bagi penduduk Desa Putapa, termasuk makanan mewah. Dan Manfred lebih memilih hidup jauh dari kesederhanaan di balik kesadaran pentingnya pendidikan bagi putera puterinya. []