Sumber: Republika.

Lebih dari 30 tahun menjadi guru di pedalaman Papua membuat Mathias Naad menjadi bagian dari masyarakat setempat. Lelaki kelahiran Kupang, 1 Mei 1951, ini mengenal betul karakter dan kebiasaan masyarakat tempatnya mengajar. Dia pun merasakan masyarakat memberi hormat padanya. Penduduk kerap memanggilnya, ”Bapak Guru”.

Mathias bertugas di Provinsi Papua sejak setamat dari Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Kupang, Nusa Tenggara Timur, 1969. Dengan bekal ijazah pendidikan guru, dia mecoba mengikuti sebuah program yang dibina oleh Departemen Dalam Negeri untuk menjadi guru di daerah pedalaman di Indonesia. Lulus dari seleksi, dia kemudian ditempatkan di pedalaman Provinsi Papua.

Pria berkulit gelap yang selalu tampak riang ini mengaku, sebelum berangkat ke tempat tugasnya itu, dia mendengar cerita tak sedap mengenai perilaku penduduk Papua. ”Ada yang bilang masih makan orang,” kisahnya. Tapi cerita-cerita itu tidak menyurutkan niatnya untuk berangkat. Terbukti, setelah lama berada di sana, dia membuktikan ketidakbenaran cerita yang pernah didengarnya tersebut. ”Ternyata tidak,” tuturnya.

Padahal, saat pertama kali menjadi guru di Papua, 1970, dia ditempatkan di Sekolah Dasar Negeri Sima yang letaknya di pedalaman, jauh dari keramaian kota. Dia tidak bisa menghitung jarak lokasi itu dari kota kecamatan atau kabupaten terdekat, kecuali hanya menyebut perkiraan lama waktu tempuh dengan menggunakan pesawat udara. ”Sekitar 1 jam dari Nabire dengan menggunakan pesawat,” ujarnya.

Lalu, bagaimana ayah empat anak ini bisa bergaul dengan masyarakat lokal? Seperti yang biasa dilakukan banyak orang, Mathias mencoba berbaur dengan masyarakat. Dia beradaptasi, menyatu dengan penduduk tanpa membuat jarak pemisah yang tegas. Prinsip itu yang membuat ia mudah menjalankan tugas, nyaris tak ada hambatan yang berarti.

Dalam perjalanan waktu, dia kemudian dipindahkan ke SD Inpres Yaromakmur, kabupaten Nabire. Di sekolah yang dibangun pada 1997 ini, Mathias dipercayakan menjadi kepala sekolah. Jabatan itu masih diembannya hingga kini.

Meski tidak lagi mengajar di pedalaman yang jauh, tapi tempat tugasnya yang terakhir ini masih juga tidak bisa dibilang dekat dari kota. Paling tidak, dibutuhkan waktu sekitar 2,5 jam perjalanan dengan menggunakan mobil. Itu pun harus melintasi tiga sungai.

Toh, Mathias tetap saja tersenyum. Dia dengan senang hati mendidik anak-anak negeri yang berada di pedalaman ujung timur Indonesia itu. Sebagai kepala sekolah, dia harus mampu mengatur kondisi yang ada untuk kepentingan anak didiknya.

Maklum, SD Inpres Yaromakmur, bukan sekolah istimewa yang memiliki ruang kelas cukup dan fasilitas yang memadai. Sekolah ini hanya terdiri atas tiga ruang kelas, padahal anak didiknya terdiri atas enam rombongan belajar: dari kelas I sampai kelas VI. Mau tidak mau, dia terpaksa membagi tiga ruang kelas yang ada untuk enam rombongan belajar bagi 110 siswanya. Dia membagi dua bagian tiap ruang kelas yang ada sehingga mampu menampung semua siswa untuk menerima pelajaran.

Di tengah ketenangan belajar di ruang kelas yang sederhana, badai akhirnya datang. Gempa bumi yang melanda daerah itu, Februari lalu, merusak tiga ruang kelas sekolah yang dipimpinnya tersebut. Mathias tidak bisa berbuat banyak. Dia hanya bisa pasrah, menatap gedung sekolahnya yang nyaris runtuh.

Apa boleh buat, hampir sebulan dia tidak mengangtifkan anak didiknya. Memang, selama masa itu, proses belajar tidak bisa dilangsungkan. Apa lagi, katanya, karena saat itu gempa susulan masih saja sering terjadi, sehingga banyak orang tua yang kuatir bangunan sekolah roboh. Bila itu terjadi, akibatnya bisa fatal bagi anak didik.

Mathias menyukuri, Pemda setempat memberikan bantuan tenda. Tenda tersebut dibangun di lokasi sekolah. Dari ruang kelas darurat yang terbuat dari tenda itulah para siswa menerima pelajaran. ”Di tenda itu anak-anak belajar,” dia menuturkan.

Bantuan dari pemerintah pusat yang disalurkan melalui Departemen Pendidikan Nasional untuk membangun kembali SD Inpres Yaromakmur membuat Mathias kembali tersenyum. Itu karena rencana tersebut bakal mewujudkan impiannya untuk bisa menambah ruang kelas. Tidak hanya tiga, tapi enam kelas, sesuai jumlah rombongan belajar. Rencana itu sudah membahagiakan Bapak Guru dari Nabire ini. []