Sumber: Kompas.

Salon-salon kecil yang melayani rias pengantin, potong rambut, dan pasang sanggul tersebar di lorong-lorong kampung di Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, yang berbatasan dengan Kota Medan.

Keberadaan salon-salon itu tak lepas dari jasa Sari Hanum Siregar (50), guru kecantikan yang mengajar para ibu dan perempuan muda dari desa ke desa.

Sari tinggal di Jalan Garuda Raya 41, Perumnas Mandala, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. Ia tinggal di rumah yang sekaligus menjadi Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Pendidikan Luar Sekolah Masyarakat (PLSM) Evit, yang menyediakan kursus menjahit, kecantikan rambut dan kulit, serta tata rias pengantin.

Jangan mencari dia dengan nama Bu Sari sebab orang lebih mengenal dia dengan nama Ibu Evit, nama PLSM yang dipimpin dan sekaligus nama panggilan anak pertamanya, Eliza Elviana (32).

Ibu empat anak dan nenek empat cucu itu tiap hari mengajar para ibu dan remaja putri menjahit dan rias kecantikan. Tetapi, kursus yang paling digemari para ibu adalah kursus rias pengantin.

Rosmiyati (50) dan Zuraida (50) adalah dua dari ribuan murid Sari. Keduanya memulai kursus saat berusia lebih dari 35 tahun. Ros sudah 13 tahun membuka usaha salon dan rias pengantin, sedangkan Zuraida sudah lebih dari 10 tahun membuka usaha yang sama.

“Saya tersemangati karena Bu Evit. Dia selalu teriak mengajak para ibu dan remaja putri datang ke kursusnya. Bu Evit juga tak pernah membicarakan biaya,” tutur Zuraida.

Membuat mandiri

“Pada dasarnya saya ini suka berdandan dan gaya-gayaan,” kata Sari. Lewat kegiatan yang ia sebut dandan dan gaya-gayaan itu, sudah ribuan orang, khususnya kaum perempuan, mempunyai keterampilan. Lewat keterampilan itu mereka mampu mandiri dan berpenghidupan layak.

Tak heran jika September lalu, penguji nasional tata rias pengantin di Deli Serdang itu menerima penghargaan dari Departemen Pendidikan Nasional kategori lembaga kursus berprestasi nasional dari rumpun kesenian. Untuk mendapatkannya, ia mengikuti berbagai saringan dan penilaian yang dilakukan Departemen Pendidikan Nasional. Ia tersedu-sedu sewaktu dinyatakan sebagai pemenang.

Semua dimulai pada tahun 1973, saat Sari mengikuti kursus menjahit di Medan. Saat itu ijazah SMA belum ia dapat. Setelah lulus SMA tahun 1974, Sari menikah. Ia mulai menerima jahitan di rumahnya.

Ia menerima jahitan borongan dari pabrik sehingga punya tujuh karyawan. “Tahun 1984 saya baru buka kursus pertama, kursus jahit,” katanya.

Sembari membuka kursus jahit, ia mengikuti kursus kecantikan. Lalu ia membuka salon kecantikan di rumahnya dan dua tahun kemudian ia membuka kursus kecantikan. Alasannya, karena pakaian dan kecantikan saling mendukung.

Perempuan kelahiran 8 Juni 1956 itu kemudian mengikuti kursus rias pengantin pada 1986. Dua tahun kemudian ia membuka kursus rias pengantin. Ruangan kursus harus diperbesar dari ruang tamu ukuran sekitar 3 meter x 2 meter menjadi 10 meter x 40 meter.

Selesai kursus ia selalu ikut orang yang sudah ahli untuk memperdalam kemampuannya. Kemudian ia membuka usahanya sendiri. Setelah merasa mampu, ia menularkan ilmunya dengan membuka kursus baru.

Ini pula yang kemudian ia terapkan kepada anak didiknya. Mereka diharuskan mengikuti teori. Setelah itu mereka diikutkan orang untuk mempraktikkan teori, baru kemudian membuka usaha sendiri. Meskipun demikian, tidak sedikit murid yang mengikuti Sari bekerja sebab ia pun sering diminta orang merias pengantin.

Boleh pinjam

Sari dikenal tidak pelit berbagi banyak hal dengan siswanya. Siswa dapat pinjam dua-tiga bulan peralatan salon hingga mampu membeli sendiri. Tak jarang ia menemani siswa ke pasar membeli peralatan kerja yang murah.

“Saya sudah punya langganan, jadi bisa dapat barang murah. Modal Rp 1,5 sudah bisa buka salon. Kalau mau lengkap, ya, Rp 5 juta,” kata Sari yang sekitar 40 hari lalu ditinggal suaminya, Darwin Ritonga, untuk selama-lamanya.

Sari tidak menerapkan sistem klasikal, tetapi mengajar siswa satu per satu. Dalam satu periode belajar, bisa jadi empat siswa mendapat materi berbeda. Satu anak masih belajar teori, satunya membuat pola, satu memotong, satu sudah menjahit. Itu yang ia terapkan hingga kini.

“Coba kalau semua perempuan punya keterampilan, tidak perlu ada yang jadi pembantu di luar negeri, bukan?” katanya. Kalau orang berketerampilan, ia punya pilihan lain selain bekerja di sektor rumah tangga.

Sore itu lantai ruangan kursusnya sedang dibenahi. “Kami mau meninggikan lantai tempat kursus,” kata Sari yang bergabung dalam Seksi Ujian Nasional Himpunan Seluruh Pendidik dan Penguji Indonesia DPD Sumut. Rupanya, air sering memenuhi ruang kursus saat hujan deras.

Meski hanya lulusan SMA, prestasinya mengalahkan mereka yang sarjana. Ia menjadi dosen tamu di Universitas Negeri Medan, mengajar di SKB berbagai kabupaten di Sumut dan lembaga kursus lain.

Ia juga tengah menunggu penerbitan bukunya tentang Tata Cara Pengantin Tapanuli Selatan, berisi mulai dari adat istiadat hingga model pakaian yang dikenakan. Buku itu akan menjadi buku pegangan kursus pakaian daerah Tapsel tingkat nasional. []