Sumber: Republika.

Namanya Sutomo. Tutur katanya masih kental, medok Jawa. Hampir 20 tahun menjadi guru di pedalaman Kabupaten Jayawiyaya, Provinsi Papua, tapi lelaki kelahiran Magetan, Jawa Timur, 8 Juni 1962 ini merasa betah tinggal bersama anak-anak di desa. Panggilan hati kecil yang biasa menggodanya untuk kembali ke kampung, ternyata tidak kuat menariknya pulang. Tanggung jawab kepada anak didik lebih kuat menahannya.

Sutomo kini merasa sudah menjadi ‘orang Papua’. ”Jiwa saya sudah begitu, sudah Papua,” tutur ayah dua anak ini. Sebagian lekak lekuk pedalaman di provinsi ujung timur Indonesia itu sudah dipahaminya. Kebiasaan masyarakat setempat bukan lagi budaya asing bagi lelaki bertubuh kecil ini. Kehidupan Sutomo adalah kehidupan masyarakat Papua: hidup dengan kesederhanaan.

Tidak jarang dia harus menginap di honai, rumah khas penduduk Papua. Ini dilakukan, selain untuk mengusir rasa sepi tinggal di rumah dinas, sekaligus kian mengakrabkan diri dengan masyarakat. Saking akrabnya dengan penduduk setempat, dia mengaku sudah terbiasa mengisap sebatang rokok bergantian bersama tiga orang. ”Meski ada niat untuk pulang, setelah ditimbang-timbang, berat meninggalkan anak-anak karena sudah merasa sepiring,” ujarnya.

Kecintaannya kepada anak-anak di pedalaman Papua, dia akui, bermula saat awal ditugaskan di provinsi ini, 1985. Sebelum berangkat ke tempat tugas, dia bersama sejumlah calon guru lainnya diberi pengarahan di Jayapura, ibu kota Provinsi Papua — kala itu masih bernama Irian Barat.

Pesan-pesan dari pembekalan yang diterimanya, hingga kini masih membekas dalam hati Sutomo. Dia masih ingat nasihat yang diperoleh dalam pembekalan itu, yang memintanya untuk ikut memikirkan anak-anak di pedalaman daerah itu. ”Tolong kasihani adik-adik kamu (dipedalaman).” Kalimat semacam itulah yang senantiasa mengiang di telinganya. Batinnya terpanggil untuk memberikan ilmu yang dipunyainya kepada anak-anak di desa.

Usai tiga pekan mengikuti pembekalan, Sutomo benar-benar ditugaskan di pedalaman, sebuah desa bernama Bokondini, sekitar 90 km dari Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Masa itu, tak banyak pilihan jalan menuju desa ini, kecuali berjalan kaki. Itu pilihan satu-satunya, pilihan yang ia jalani selama dua hari melintasi hutan-hutan dan lembah-lembah.

Tiba di tempat tujuan, Sutomo mengaku sempat kaget. Tapi kekagetan itu cepat berlalu, berganti dengan rasa haru menyaksikan anak-anak usia sekolah yang dilihatnya jauh tertinggal dibandingkan dengan anak-anak desa di kampungnya. Dia pun merasa senang bisa mmengajari anak-anak di sekolah dasar di desa itu.

Dua tahun di Bokondini, Sutomo dipindahkan ke Wosiala, sebuah desa yang terletak sekitar 27 km dari Wamena. Dia dipindahkan bersama seorang guru wanita seangkatannya yang dinikahinya setahun sebelumnya. ”Kami dipindahkan ke Wosiala, tinggal di rumah dinas,” tuturnya. Di SD Wosiala itulah Sutomo bersama istrinya mengajar, hingga kini.

Selain menjadi pendidik, kedua pasangan guru ini tetap berusaha berbaur dengan masyarakat. Dengan cara itu, dia merasa tidak mendapatkan kesulitan menjalankan tugas sebagai guru, sama tidak sulitnya ia bersosialisasi dengan masyarakat. ”Kami merasa sudah seperti saudara sendiri,” tutur lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Magetan, 1980 ini.

Mengandalkan penghasilan sebagai guru semata, dirasakannya tidak terlalu menggembirakan. Apalagi, di daerah tempat tugasnya hampir semua jenis kebutuhan pokok tidak ada yang murah. Semua mahal, karena harus didatangkan dari luar Wamena dengan pesawat udara. Karena itu, Sutomo bersama istri membuka usaha sendiri untuk menambah penghasilan.

Semula mereka memelihara kambing di halaman rumah yang ditinggalinya setelah tidak lagi menempati rumah dinas. ”Pernah sampai 80 ekor, sekarang tinggal 30 ekor,” tuturnya. Dua tahun silam — dengan sebuah mobil Toyota Kijang bekas yang dioperasikan orang lain — dia membuka usaha baru: angkutan umum.

Kini, dua anaknya telah duduk di bangku sekolah menengah atas. Jenjang pendidikan sebelumnya, keduanya bersekolah di Papua, bersama anak-anak di daerah itu. ”Sekarang mereka bersekolah di Magetan, ikut neneknya,” dia menuturkan.

Sutomo bangga, anak-anaknya yang berasal dari lembaga pendidikan di Papua, kini bisa diterima di sekolah favorit di Magetan, Sama bangganya ia bisa mengajar anak-anak di Papua yang oleh banyak kalangan dianggap masih tertinggal dibandingkan dengan anak-anak di provinsi lain. Kebanggaan itulah yang agaknya membuat ia betah tinggal di desa demi anak didik. []