Sumber: Kompas.

Seperti kali-kali lainnya di Jakarta, nasib Kali Sentiong, Kemayoran, Jakarta Pusat, sangat memprihatinkan. Kesan tidak terawat, kumuh, penuh sampah, dan bau menjadi pemandangan keseharian. Kakus-kakus menggantung di pinggiran kali.

Lebih setengah abad masyarakat di sekitar pinggiran kali yang membentang sepanjang tiga kilometer dan melintasi Kecamatan Johar Baru, Senen, dan Kemayoran itu menerima apa adanya. Tetapi, sejak Januari 2005 wajah Kali Sentiong berubah: bersih dan tampak lebih indah.

Daerah pinggiran kali, baik sisi kiri maupun sisi kanan, sudah tertata rapi. Pepohonan di sekitar kali tampak lebih rapi. Bunga bugenvil menghiasi pinggiran kali. Di beberapa titik sepanjang kali dibangun taman-taman bunga, termasuk bekas lokasi 16 kakus gantung di sepanjang pinggiran sudah berubah menjadi taman.

Perubahan wajah Kali Sentiong itu tidak lepas dari hasil kerja keras Piryanto SH. Dengan melibatkan campur tangan para Alumni Karang Taruna (Akar) Kelurahan Serdang RW 01, pria lajang itu berhasil menggerakkan warga sekitar untuk membersihkan dan menata kali.

Selain menyumbangkan tenaga, masyarakat sekitar kali juga tidak segan membantu pendanaan demi terciptanya Program Kali Bersih (Prokasih) yang dicanangkan di Kelurahan Serdang pada 15 Januari 2005, bertepatan dengan Hari Lingkungan Hidup. Saat itu, mantan Menteri Negara Lingkungan Hidup Sarwono Kusumaatmadja juga hadir.

Masyarakat juga membenahi lingkungan permukiman yang sebelumnya kumuh. Sampah tak lagi bertebaran sebab sekarang tong sampah dari kaleng bekas dan dicat berwarna-warni dan dari anyaman bambu tampak di depan rumah warga.

“Pada awalnya, bagi sebagian orang, obsesi saya ini dianggap mimpi di siang bolong. Alhamdulillah, kali bersih dan indah bisa terwujud,” kata Piryanto, Senin (15/1).

Swadaya

Untuk mewujudkan cita-cita itu, Piryanto bersama Akar menggalang dana dari masyarakat. Dalam satu tahun terkumpul dana Rp 113,5 juta. Ada juga yang menyumbang rokok, kue, kopi, dan makanan untuk masyarakat yang bekerja bakti membersihkan kali.

Boleh dikatakan, baru Prokasih Kali Sentiong yang sepenuhnya melibatkan swadaya dan swadana masyarakat. Sedangkan penataan Kali Cideng dilakukan oleh Pemprov DKI dan Kali Manggarai-Setiabudi merupakan program Departemen Pekerjaan Umum dengan dana pemerintah.

Kerja Piryanto dan warga Serdang tersebut membuahkan penghargaan Adipura untuk Kotamadya Jakarta Pusat pada tahun 2005 dan 2006. Unsur yang dinilai adalah kebersihan kali, permukiman, dan kebersihan lingkungan. Serdang menyumbang nilai tinggi untuk program kali bersih.

Piryanto membenahi kali karena prihatin melihat kehidupan masyarakat sekitar kali, termasuk orangtuanya, Hadi Sumasno (alm), yang sekitar 50 tahun hidup di pinggiran kali itu.

Menurut Piryanto, selama itu masyarakat tidak pernah protes atas perlakuan tidak adil dari pemerintah yang hanya membangun kawasan mewah dan jalan-jalan protokol, sementara masyarakat di pinggir kali tidak diperhatikan.

Lelaki kelahiran 19 Desember 1960 ini kemudian melakukan pendekatan sosial kepada masyarakat. Ia tidak segan nongkrong lama di warung kopi untuk sekadar mengobrol santai. Melalui obrolan ini ia ingin menanamkan kesadaran kepada masyarakat untuk bangkit dari kondisi kumuh.

Ketua Akar RW 01 Serdang ini juga mendatangi ketua RT, RW, sampai lurah untuk menyampaikan keinginannya mengangkat derajat daerah tempat kelahirannya ini.

Semangat untuk berubah

Setelah mendapat lampu hijau dari kelurahan, Piryanto dibantu anggota Akar 01 membuat konsep, menata lahan, dan mengurus perizinan. Selanjutnya, mereka menggerakkan masyarakat untuk kerja bakti secara gotong royong dengan sistem padat karya.

Pengurus Nasional Karang Taruna bidang Bencana dan Lingkungan ini sadar betul tidak mudah mengubah pola hidup dan pandangan masyarakat. Tetapi, dia yakin masyarakat memiliki semangat untuk mengubah sikap dan pola hidup.

Menurut Piryanto, bila ada kesan seakan masyarakat tertutup, tidak mau berubah, itu karena pemerintah tidak mampu merangkul mereka. Masyarakat tidak dijadikan sebagai orang dalam pembangunan. Mereka dibiarkan menjadi penonton sekaligus korban pembangunan.

“Perilaku pemerintah seperti ini harus diubah. Justru masyarakat di kawasan kumuh yang harus diperhatikan,” papar sarjana hukum lulusan Universitas Jayabaya ini.

Piryanto membutuhkan waktu tiga bulan secara intensif mendekati masyarakat. Apalagi mengingat hanya 20 persen dari 3.619 keluarga Kelurahan Serdang berpendidikan sarjana. Selebihnya berpendidikan paling tinggi SMA, berpenghasilan menengah sampai rendah, serta bekerja sebagai pedagang atau menjadi pengangguran.

Melihat kondisi itu, Piryanto berpikir, masyarakat harus dilibatkan dalam program Prokasih agar mereka merasa memiliki sehingga mau menjaga, merawat, dan memelihara kali ini.

Satu lagi yang dilakukan Piryanto. Dia sengaja tidak melibatkan Pemprov DKI dalam menata kali ini. Dalam pandangan masyarakat, keterlibatan petugas Pemprov DKI dalam menata kawasan kali identik dengan kekerasan. Penggusuran.

“Saya khawatir bisa terjadi konflik dengan masyarakat bila melibatkan petugas dari DKI,” tambah Piryanto.

Ke depannya, Piryanto masih punya cita-cita. Setelah kali bersih, tertata baik dan indah, kawasan ini menjadi Kampung Bugenvil, kampung taman yang dipenuhi bunga bugenvil. []