Sumber: Kompas.

Berawal dari kekhawatiran punahnya bahasa Jawa jika tidak ada upaya penyelamatan, ditambah keprihatinan melihat ketidakmampuan sebagian guru menyampaikan mata pelajaran Bahasa Jawa secara pas, membuat Sutarno berjuang agar bahasa Jawa tetap berkibar.

Oleh karena itu, ia terus menulis geguritan (puisi berbahasa Jawa) serta menyusun sekar macapat (tembang/lagu) juga dalam bahasa Jawa dan menyebarkan kepada siapa pun yang berminat. Malah semasa aktif sebagai guru di Sekolah Menengah Pertama (SMP) I Yogyakarta tahun 1965-1986, Sutarno membuat buku “Metode Belajar Membaca dan Menulis Aksara Jawa”. Buku tersebut hingga sekarang masih dijadikan pegangan sejumlah guru di Provinsi DI Yogyakarta (DIY) dan Jawa Tengah (Jateng) yang diberi tanggung jawab menyampaikan muatan lokal Bahasa Jawa pada sekolah menengah pertama dan atas.

Saat ditemui pekan lalu, Sutarno tengah duduk di atas sofa di ruang tamu yang bersebelahan dengan warung telekomunikasi dan toko kelontong miliknya di Kampung Terban, Gondokusuman, pinggir utara kota Yogyakarta.

Sesekali ia memandang ke luar lewat sisi pintu yang sedikit dibiarkan terbuka. Pada kali lain ia terlihat mencoret-coret beberapa kalimat yang sebelumnya ditulis di atas kertas. Bagian kalimat yang tidak dicoret kemudian dipindahkan ke kertas lain. Demikian seterusnya sampai merasa kalimat yang ditulis tepat.

Di siang yang panas itu Sutarno tengah menjalani proses kreatif, yakni menulis geguritan dan sekar macapat. Karena sangat produktif, tak terhitung lagi jumlah geguritan dan sekar macapat yang telah ia tulis. Namun, semua karya itu tak dibukukan berhubung pernah dikecewakan sebuah penerbit di sebuah kota di Jateng.

“Karya saya dicampakkan. Tak ada penjelasan diterima atau ditolak. Saya sakit hati,” tutur bapak empat anak dan kakek 10 cucu pensiunan kepala sekolah pada SMP II Tepus, Gunung Kidul, DIY, tahun 1992 itu. “Saya tak mau lagi berurusan dengan penerbit,” katanya menambahkan. Padahal, ada yang mengingatkan bahwa atas karya cetak, seorang pengarang berhak memperoleh royalti.

Bak air bah

Meski tak dibukukan, karya Sutarno—5 Maret 2006 genap berusia 74 tahun—terus mengalir bak air bah. Para sobat, tak hanya dari dalam kota, nyaris tiap hari menyambangi rumahnya untuk sekadar berbincang soal sekar macapat, geguritan, atau kebudayaan Jawa. Di antara mereka ada juga yang minta dibuatkan sekar macapat sebagai pertanda sebuah kehidupan, entah kelahiran, pernikahan, atau ulang tahun.

Atas pesanan seorang sahabat yang merayakan setengah abad perkawinan, meluncurlah sekar macapat pupuh sinom:

Duk mudha wus palakrama/Mangkana sang swami-estri/Pinayungan Hyang Ma Kwasa/Risang penganten sarimbit/… seterusnya hingga larikan (baris) terakhir atau ke sembilan.

Pada sekar macapat setiap baitnya mempunyai baris kalimat (gatra) tertentu, setiap gatra mempunyai jumlah suku kata (guru wilangan) tertentu, dan berakhir pada bunyi sanjak akhir (guru lagu; guru suara tertentu).

“Yang juga perlu diingat larikan pertama harus terdiri dari empat suku kata,” ujar Sutarno yang pernah mengajar PMP, menyanyi, dan Bahasa Jawa di SMP I Yogyakarta, sebelum menjadi kepala sekolah di kawasan yang sulit air. Ada sejumlah konvensi yang cukup rumit saat menulis sekar macapat. Dan ini tak boleh dilanggar.

Tak hanya sinom. Masih ada sepuluh pupuh lain dalam sekar macapat yang mengisahkan kehidupan manusia. Watak dilukiskan dalam tiga pupuh berturut-turut, gambuh, dandanggula, dan sinom, kemudian untuk menunjukkan kekerasan digambarkan dalam pupuh pangkur dan durmo, disusul pupuh asmaradana dan kinanti untuk menggambarkan percintaan, serta kesusahan (maskumambang dan megatruh), pekerjaan (mijil), serta diakhiri pupuh pucung untuk humor.

Pangesthi Jawi

Pandemen (penggemar) sekar macapat, demikian pula para pemerhati kebudayaan Jawa, sebulan sekali saat bulan purnama—untuk April jatuh tanggal 14—bertemu di Kaliurang, Sleman, utara Yogyakarta, untuk tukar pikiran. Para pandemen tergabung ke dalam wadah Pangesthi Jawi. “Mereka yang berminat juga diberi kesempatan nembang (menyanyikan) sekar macapat,” ungkap Sutarno yang di Pangesthi Jawi dipercaya berbicara soal sekar macapat.

Menurut Sutarno yang memiliki nama pena Ki Dhongkol (artinya mantan), tak hanya mereka yang berusia senja yang “masuk” ke Pangesthi Jawi. Kaum muda pun banyak yang datang ke acara tersebut. Oleh karena itu, ia tak khawatir jika bahasa Jawa bakal punah. Apalagi kini dijadikan muatan lokal di sekolah dasar hingga sekolah menengah atas di DIY dan Jateng.

Saat diberi tahu bahwa seluruh punggawa di Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, “wajib” menggunakan bahasa Jawa setiap tanggal 20, mata suami Chr Sumartini itu berbinar-binar. (Sumartini merupakan istri kedua, istri pertama Rumiyati meninggal pada tahun 1992). Ini berarti upaya Sutarno ngleluri (melestarikan) bahasa Jawa tampak berbuah.

“Boten pitados? Mongga tindak Bantul saben tanggal kalih dasa…,” tutur Bupati Bantul H Idham Samawi saat mencanangkan penggunaan bahasa Jawa di Bantul awal tahun 2004. Angka 20 dipilih karena merupakan tanggal kelahiran Kabupaten Bantul yang tahun ini genap 174 tahun. []