Sumber: Kompas.

Pupuan di Kabupaten Tabanan, Bali, terkenal dengan cuacanya yang sejuk dan pemandangan alam yang asri. Daerah yang berjarak sekitar 60 kilometer dari Kota Denpasar itu selain menjadi lumbung padi Bali juga menghasilkan kopi dan kakao.

Di tengah alam yang asri dan menyimpan kedamaian ini, ada sesosok lelaki yang mengabdikan dirinya untuk menangkarkan hewan langka seperti rusa, kijang, dan monyet ekor panjang.

Lokasi penangkaran milik I Ketut Karnita ini terletak di Banjar Bangsing, Desa Batungsel Kelod, Pupuan, Kabupaten Tabanan. Untuk menuju ke desa itu, dari jalan raya Denpasar-Gilimanuk, kita akan melalui jalan berkelok-kelok dengan pemandangan persawahan menghijau yang menggunakan sistem terasering (bangku) di kanan dan kiri jalan.

I Ketut Karnita (58) adalah sosok yang dengan segenap kecintaan dan pengorbanan berkeinginan untuk melestarikan hewan-hewan yang terbilang langka. Semua itu ia lakukan tanpa mengharap bayaran, tidak juga ia komersialkan. Sebaliknya, laki-laki kelahiran 1948 yang hanya mengenyam pendidikan formal sekolah lanjutan umum (setingkat SMP) ini telah keluar biaya yang tidak sedikit sejak ia merintis penangkaran hewannya pada tahun 1991. Di atas lahan produktif seluas 80 Ha miliknya, Karnita memelihara dan dengan caranya sendiri mengembangbiakkan berbagai hewan miliknya.

Kini, di lahan penangkaran yang ditumbuhi banyak jenis pepohonan keras dan buah-buahan tersebut, terdapat 16 rusa, 12 kijang, 12 monyet, seekor beruk, serta beberapa ekor burung langka seperti kakaktua bayan dan elang bondol. Selain itu, juga ada kura-kura, kelinci, dan puluhan ekor itik yang dengan bebasnya berkeliaran di kebun. Bahkan, menurut Karnita, di kebun itu ia pernah memelihara beruang, biawak, ular piton, dan lebah madu.

Menurut Karnita, kalau saja tidak ada permintaan untuk hewan caru (korban) yang biasa digunakan untuk keperluan ritual pada hari raya di Bali, hewan yang dia tangkarkan sudah melebihi jumlah yang ada sekarang. Memang, terkadang datang orang yang mengantongi izin untuk membeli rusa, kijang, atau monyet yang nantinya digunakan sebagai caru untuk keperluan ritual.

Tentu saja keberadaan hewan-hewan yang terbilang langka di Batungsel Kelod itu menarik perhatian orang yang kebetulan lewat, baik mereka yang berasal dari daerah sekitar maupun yang datang dari daerah lain. Tak terbilang orang yang telah berkunjung ke “kebun binatang” milik Ketut Karnita ini. Mereka dengan bebas dapat menikmati keberadaan hewan-hewan yang ada tanpa dipungut bayaran.

Ular memangsa kijang

Ayah empat anak dan kakek dari lima cucu itu mengungkapkan, “Saya memang ingin mengembangbiakkan hewan-hewan itu agar mereka tetap lestari. Saya khawatir, dengan pola hidup manusia seperti sekarang ini, nantinya hewan-hewan tersebut akan punah dan tidak dapat dinikmati oleh anak cucu. Kasihan jika anak cucu saya nanti tahu tentang binatang hanya lewat gambar saja, tanpa bisa melihat langsung dengan mata kepala sendiri”.

Usaha Karnita ini terinspirasi setelah ia menyaksikan seekor ular piton memangsa kijang yang sedang bunting di kaki Gunung Batukaru, Tabanan. Dia berpikir, ular piton akan memangsa binatang seperti kijang atau rusa sekali dalam tiga bulan, sedangkan kijang hanya beranak satu dalam setahun. Jika perkembangbiakan kijang atau rusa dibiarkan tidak diawasi, bukan mustahil dalam beberapa tahun mendatang binatang-binatang itu akan punah.

Karena itulah, sejak 1991 Karnita mulai memelihara dan menangkarkan kijang serta rusa. Awalnya, ia hanya memelihara satu pejantan dan dua betina kijang. Ada pula sepasang rusa. Sambil memelihara satwa-satwa itu, Karnita berusaha mengurus izin penangkaran melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Direktorat Jenderal Kehutanan dan Perkebunan setempat.

Setahun kemudian, ia berhasil mengantongi izin penangkaran yang menelan biaya lebih dari Rp 1 juta. Dengan izin tersebut Karnita setiap bulannya harus memberikan laporan tentang perkembangan yang terjadi.

Untuk mempertahankan roda penangkaran hewannya, Karnita harus berjuang sendiri. Biaya tak sedikit mesti dia keluarkan dari kantong pribadi, yakni dari hasil kerjanya sebagai petugas derek mobil. Adapun untuk makanan hewan yang ditangkarkan, dia lebih mengandalkan berbagai macam buah-buahan yang tumbuh subur di kebunnya.

“Pernah ada yang menghitung, jika dirata-rata seluruh hewan di sini biaya makannya Rp 300.000 per hari. Untung saja buah dan rumput tumbuh subur di kebun, jadi untuk urusan makan hewan dapat diatasi dari itu. Kadang ada bantuan dari tetangga, mereka biasanya menawari kami untuk memetik sendiri buah di kebun,” tutur Karnita.

Atas usahanya yang tanpa pamrih, suami dari Ni Wayan Pastini yang menjabat Kepala Sekolah Dasar I Batungsel itu mendapat penghargaan Pencinta Lingkungan Tingkat Tabanan tahun 1998, Pencinta Puspa Tingkat Bali Tahun 1999, dan Perintis Lingkungan Nasional Tahun 2000 yang diberikan oleh Presiden Abdurrahman Wahid.

Dalam kesederhanaannya, Karnita berjanji akan terus melanjutkan usahanya ini. Baginya, hobi memelihara binatang memberikan manfaat positif bagi dirinya dan juga sesama. Dengan penangkaran ini dia berharap akan memberikan warisan tak ternilai bagi anak cucu. []