Sumber: Kompas.

Mulutnya komat-kamit sesaat sebelum masuk ke dalam kandang. Entah doa apa yang ia panjatkan. Namun, tiba-tiba saja seekor sapi berdiri tertatih, lalu mendekati lelaki gempal itu.

Oh, kakinya cuma keseleo,” begitu ucap pria yang akrab disapa Dul Aman saat melihat cara jalan si sapi yang pincang. Sambil terus bergumam, seolah ada yang diajak bicara, tangan Dul Aman mulai menjelajah bagian tungkai kanan belakang ternak tetangganya itu.

Mendadak, sapi itu melenguh keras dan tubuhnya mengejang. Dul Aman pun beranjak mundur dan membiarkan si sapi tenang sendiri. Lima menit kemudian, ia kembali memijat bagian yang sakit tadi, dengan campuran parutan jahe, cabai rawit, dan alkohol.

Ramuan itu pun rata dibalurkan ke sekujur kaki sapi, mulai dari pangkal paha hingga lutut bawah. Setelah itu, warga Desa Segoroyoso, Pleret, Bantul, ini bergegas meninggalkan kandang.

“Tak lama lagi, sapi itu pasti berontak. Rasa param itu memang panas. Saya pernah digigit kuda yang terkejut karena rasa panas itu,” ujar Dul Aman, seraya menunjuk paha kirinya yang pernah mati rasa.

Menyembuhkan hewan ternak melalui pijatan memang menjadi keahlian pria bernama asli Abdul Rohman ini. Dul Aman yang lahir tahun 1949 mengaku tidak pernah belajar memijat secara khusus. Keahlian itu, menurut dia, adalah “ilmu” yang diturunkan dari ayah dan kakeknya.

Seingatnya, sejak duduk di bangku sekolah dasar, ayahnya kerap membaca doa-doa wirid saat mereka sedang bersama. Seiring waktu, Dul Aman pun hafal bacaan wirid tersebut, dan tiba-tiba saja dapat memijat ternak pada tahun 1983, tepat setelah ayahnya meninggal dunia.

Segala macam penyakit, selain patah tulang, pada hewan ternak besar, seperti sapi, kerbau, dan kuda, dapat ia sembuhkan. Ada kelelahan, salah urat, keseleo, dan gomen, penyakit yang tidak jelas penyebabnya.

Mendeteksi penyakit pada hewan, diakui Dul Aman, gampang-gampang susah. Apalagi, hewan tidak bisa memberitahukan apa yang dirasakan pada tubuhnya. Untuk itu, Dul Aman memiliki beberapa cara khusus untuk mendeteksi penyakit pada hewan.

Hal pertama yang wajib dilakukan adalah membaca basmalah. Setelah itu, beberapa doa wirid lain khusus untuk hewan. Biasanya suasana “akrab” segera tercipta antara Dul Aman dan “pasiennya”. Baru kemudian, Dul Aman mulai memijat tubuh ternak itu.

“Bagian tubuh yang sakit biasanya terasa lebih panas. Selain itu, tekstur dagingnya terasa lebih kenyal dibandingkan dengan bagian lain. Jika bagian ini ditekan, biasanya hewan akan marah,” kata Dul Aman. Selanjutnya, jari-jari kuat Dul Aman yang akan beraksi.

Kuda keraton

Ayah Dul Aman juga berprofesi sebagai tukang pijat hewan. Seingat Dul Aman, ratusan hewan sudah pernah dipijat oleh bapaknya. Bahkan, kuda-kuda milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat pun tak luput dari jamahan jemari bapaknya, terutama jika akan dipersiapkan untuk acara gerebeg atau kirab prajurit.

Kabar adanya pemijat hewan ampuh di Bantul pun segera tersebar luas hingga keluar Yogyakarta. Dari mulut ke mulut, sekitar tahun 2000, akhirnya sampailah Dul Aman ke salah satu pacuan kuda di Pulo Mas, Jakarta. Selama beberapa hari, ia bertugas memijat dan menjaga stamina fisik kuda-kuda pacuan. Hingga saat ini sudah lebih dari tiga kali ia bolak-balik Yogyakarta-Jakarta untuk memijat.

Meski berat dan melelahkan, Dul Aman tidak pernah menolak order memijat hewan. Sekali muncul kata “tidak”, maka ia harus bersiap kehilangan ilmu pijat yang dimilikinya. Itu belum seberapa, masih ada beberapa akibat lain yang enggan ia ceritakan.

“Lagi pula, saya suka kasihan kalau ada orang yang susah karena hewannya sakit. Bagi sebagian orang, hewan juga berarti harta mereka,” tukas ayah lima anak yang mulai membangun rumahnya kembali akibat hancur diguncang gempa 27 Mei 2006.

Seikhlasnya

Dul Aman tidak pernah memasang tarif dalam bekerja. Semua ia kembalikan kepada yang membutuhkan jasanya. Singkat kata, terserah saja. Seikhlasnya. Tidak memberi juga tidak mengapa.

Dari hasil memijat, pria yang pernah merasakan menjadi duda selama 40 hari ini bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga perguruan tinggi. Tidak hanya itu, ia juga memperluas rumahnya agar seluruh keluarganya bisa berkumpul bersama.

“Kalau sama-sama ikhlas, menjalani hidup itu enak sekali. Tidak ada sakit hati, apalagi dendam. Yang ada adalah saling menyayangi, seperti saya dan si mbok, istri saya,” guraunya disusul tawa lepas.

Keikhlasan pula yang membuat Dul Aman senang berbagi pengetahuan seputar ternak dan cara pemeliharaannya dengan orang lain. Beberapa kali ia juga diundang dalam penyuluhan dan pelatihan para peternak se- Bantul, Kulonprogo, dan Sleman.

Belum terbersit dalam pikiran Dul Aman untuk menurunkan ilmu yang ia miliki kepada salah satu putranya. Ia beranggapan, sesuatu yang dipaksakan belum tentu mendatangkan hasil yang baik. Oleh sebab itu, bapak yang sehari-hari gemar memakai kaus singlet ini pilih menunggu kemauan dari sang anak.

“Dulu, ayah saya memang sengaja ’mengisi’ saya karena saya adalah anak laki-laki satu-satunya. Tapi, kalau sekarang, ya terserah saja. Kalau ada yang meneruskan, ya syukur, kalau tidak ada, ya mau bagaimana lagi?” ucapnya datar dalam tatapan hampa.

Meskipun demikian, Dul Aman tetap akan setia pada pekerjaannya ini. Selama tubuh masih kuat dan pikiran masih sehat, baginya tidak ada kata menyerah untuk terus berusaha.

“Semoga saja saya diparingi umur panjang oleh Gusti Allah,” panjat Dul Aman menutup pembicaraan. Dan, lelaki itu hingga kini tetap menjadi satu-satunya orang yang memiliki keahlian secara otodidak dalam soal pijat-memijat hewan. Keahlian yang langka karena tidak semua bisa dan mau. []