February 2007


Raja Dima Siregar (37) hanya petani dari desa. Namun, bagi warga Dusun Sigoring-goring, Desa Pangirkiran Dolok, Kecamatan Barumun Tengah, Tapanuli Selatan, dia adalah pahlawan.

Pahlawan, karena dia menjadi guru bagi anak-anak dusun dari kelas I hingga kelas VI hanya dengan bayaran 80 kaleng beras per tahun satu kaleng beras setara dengan 16 kilogram. Selain itu, dia juga guru mengaji tanpa imbalan. Saya melakukan ini karena merasa harus melakukannya. Saat itu anak- anak tidak sekolah selama tiga bulan karena tidak ada guru, saya tidak tega melihatnya, kata Raja Dima. (more…)

Advertisements

Kerajinan dari kayu atau batu tidak sulit kita cari tempat pembuatannya, lebih-lebih di Pulau Jawa. Beberapa suku di Papua dan Kalimantan bahkan sudah mengenal seni ukir kayu sebagai bagian dari keseharian mereka. Namun, seni ukir tanduk kerbau, sejauh ini, tercatat hanya ada di dua tempat di Pulau Jawa, yakni di Kabupaten Magelang di Jawa Tengah dan Kabupaten Sukabumi di Jawa Barat.

Di Sukabumi, perajin tanduk kerbau terkonsentrasi di Kampung Inggris, Desa/Kecamatan Sukaraja. Dua orang yang tersisa dari belasan perajin tanduk kerbau di Kampung Inggris sejak tahun 1975 adalah Djudjuh Djuahaedi (53) dan Maman Kasim (50). Dua orang itu jugalah yang sejak kerajinan tanduk mengalami masa kejayaan sejak tahun 1975 hingga tahun 1998 sangat kompak dan rajin mencari celah pasar baru. (more…)

“Pak Zainal, sabar ya. Sepertinya anak Bapak memiliki kelainan,” kata seorang rekan kerjanya, yang kebetulan dokter di Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Jawa Barat, beberapa hari setelah istrinya melahirkan anak keduanya, Rima Nur Yuliyanti, 17 Juli 1988.

Zainal Arifin (48) yang saat itu bekerja sebagai staf perencanaan di kantor tersebut amat sedih mendengar pernyataan rekannya. Ia mengerti apa yang tersurat dari kata-kata itu; bayinya berkebutuhan khusus.

Dari fisiknya sudah jelas, bayinya adalah tunagrahita. Makin besar tubuhnya, makin mudah mengidentifikasi ketunagrahitaan itu. Secara umum, kata Zainal, fisik orang tunagrahita antara lain berambut kaku, tangannya gemuk seperti bayi tetapi kasar, lidahnya tebal serta pendek jika dijulurkan, alisnya tebal kaku, dan beberapa anak biasanya bermata sipit seperti orang mongol. (more…)

Tengah malam itu hujan bagai tercurah dari langit. Ajid bersama istri dan enam anaknya berkumpul berimpitan dalam sebuah gubuk beratapkan seng bekas. Gubuk menempel di ujung lapangan di Kampung Mesjid, Jombang, Tangerang, beberapa ratus meter dari Stasiun Kereta Api Sudimara. Kegemparan terjadi saat gubuk ambruk tak kuasa menahan gempuran air hujan.

Ajid dan anggota keluarganya panik. Dalam sekejap keluarga Ajid basah kuyup, membuat tubuh keluarga itu menggigil. Penderitaan harus mereka lalui sampai subuh tiba, saat hujan reda, saat Ajid berupaya menegakkan kembali gubuknya yang sudah rata tanah. (more…)

Tangan tuanya dengan saksama dan hati-hati memindahkan kardus-kardus dalam lemari kecil di warungnya. Tangan itu merogoh lemari yang gelap, meraba-raba mencari plastik kresek hitam yang membungkus baju kampret dan celana pangsi hitam.

Jarum jam menunjuk pukul 11.30. “Bu, di mana bajuku? Kamu lihat tidak? Coba, di mana ya bajuku?” ujar Salam Mulyadi, sembari mengaduk- aduk isi lemari di rumahnya di kompleks Kebun Binatang Bandung.

Minggu pertama hingga ketiga, setiap bulannya, ia dan teman-temannya yang sudah renta mementaskan kesenian Sunda Ketuk Tilu. Kesenian tari zaman baheula ini merupakan asal-muasal berbagai seni tari sunda lainnya, termasuk Tayub, Ibing, dan Jaipongan. (more…)

Bila Anda menuju Desa Santong, Anda mesti melewati Dusun Empak Mayung, Kecamatan Kayangan, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Di Dusun Empak Mayung yang terletak paling hilir di kecamatan itu ada lahan seluas 12 hektar yang tampak hijau dan sejuk oleh rindang dedaunan beragam jenis pohon dan tanaman.

Kondisi lahan rusak akibat perambahan hutan Rinjani, dan bertambah parah oleh aksi penggalian batu apung yang selama ini justru menjadi sumber penghasilan penduduk setempat. Padahal, tanah di kawasan yang berjarak sekitar 60 kilometer arah utara Mataram itu terbilang labil dan poros. (more…)

Matahari musim kemarau di Kampung Golempang tepat berada pada puncaknya. Di gubuk yang merangkap sebagai kandang kambing Uha Juhari berteduh. Sekeliling tanah garapannya yang sudah menjadi gurun ditanami pohon buah naga. “Bulan November nanti akan panen,” ujarnya bersemangat.

Kampung Golempang terletak di Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Pemandangan di kaki selatan Gunung Tampomas (1.684 meter) itu ironis. Eksploitasi isi perut bumi kampung tersebut berupa pasir dan batu telah menjadikan daerah itu menyerupai mangkuk raksasa, dengan permukaan berupa kerikil dan batu belaka. (more…)

Next Page »