Sumber: Kompas.

Jika Anda sempat mengunjungi Disneyland di Hongkong, perhatikan keindahan berbagai bentuk dan warna panil kaca patri yang ada di lokasi wahana hiburan tersebut.

Anda mungkin tak mengira bahwa kaca patri di Disneyland itu merupakan karya putra Indonesia kelahiran Semarang yang pada pertengahan Agustus nanti genap berusia 60 tahun. Dia adalah Brian Yaputra, bapak tiga anak dan kakek lima cucu yang berkibar lewat bendera Eztu Glass Art (EGA) 1981.

Nama Eztu diambil dari istilah bahasa Jawa, sa’estu (sungguh-sungguh) dan sae estu (benar-benar bagus). Setelah dirangkai dan huruf S—biar keren—diganti Z jadilah Eztu Glass atau benar-benar kaca.

“Pada awalnya banyak orang mengira produksi saya berasal dari bahan plastik,” tutur Brian di pabriknya seluas 8.000 meter persegi di Cikupa, Tangerang, Banten, pekan lalu. Di sini bekerja lebih dari 300 karyawan yang sekaligus menjadi lokasi gudang bahan baku impor yang bernilai ratusan juta rupiah.

Menurut Brian, seni kaca patri diciptakan pada abad ke-11 di Eropa yang awalnya untuk rumah ibadah. Daya pikat dari sinar yang menembus terbukti telah membuat suasana damai, khusyuk, dan tenang. Seiring perkembangan desain interior, para arsitek dan desainer kemudian menerapkannya ke bangunan umum dan perumahan.

Di Indonesia, kaca patri semula diperkenalkan para seniman Belanda pada dekade 1900-an. Akibat ketiadaan bahan baku, seni kaca patri pun menghilang selama 50 tahun, sebelum akhirnya marak kembali hingga sekarang.

Rekor Muri

Disneyland Hongkong yang dikerjakan tahun 2004 hanyalah salah satu contoh sentuhan Brian, anak keempat pasangan Yap Tek Liong-Sowana. Masih ada sederet bangunan lain di luar negeri yang juga kena sentuhannya.

Tentang hasil karya di Hongkong, Brian menyebut, “… job yang sangat bergengsi telah kami selesaikan. Pekerjaan ini merupakan bukti reputasi kami setelah prestasi mengerjakan panil kaca untuk 10 gereja dan beberapa restoran yang juga diselesaikan secara baik.” EGA satu-satunya perusahaan di luar Amerika Serikat yang ikut “mewarnai” Disneyland Hongkong.

Tak hanya di luar negeri. Karya lain di dalam negeri pun pantas disebut, di antaranya kaca patri seluas 12 meter x 30 meter di Johar Shopping Center, Semarang, yang masuk rekor Museum Rekor Indonesia (Muri).

Kemudian tercatat pula Museum Bank Indonesia karya seniman Belanda, Jan Sihoten Frinsenhof, sebagai salah satu bangunan kuno di bilangan Jakarta Kota, yang kemudian kena sentuhan Brian. Museum BI merupakan bangunan tahun 1924, lebih muda enam tahun dibandingkan dengan Museum Dr Sun Yat Sen di Hongkong yang juga diserahkan restorasinya kepada EGA. “Keduanya sangat monumental,” ujarnya menambahkan.

Ke Eropa

Brian mulai terpesona pada kaca patri saat ia berkesempatan jalan-jalan ke Eropa akhir tahun 1970-an, di sela-sela kesibukan mengelola pabrik peralatan elektronik milik keluarga.

Berbagai bangunan seperti gereja dan masjid di Eropa dihiasi kaca patri dan tampak sangat menawan. “Saya tertarik, tetapi enggak mengerti cara bikinnya,” tutur Brian. Sepulang ke Tanah Air, ia mengimpor kaca patri untuk dipelajari.

Setelah berkali-kali mencoba dan sering pula mengalami kegagalan—termasuk luka di tangan akibat tersayat pisau—pada awal 1981 Brian mulai berhasil menyusun kaca patri.

Seiring gencarnya pembangunan kawasan real estate, order pun terus berdatangan. Karena itu, produksi yang semula hanya dikerjakan di garasi dengan tiga karyawan pada 1986 dipindahkan ke Cikupa. Untuk mendukung pemasaran, Brian membuka ruang pamer di Jalan S Parman dan di Jalan Biak, Jakarta.

Setiap bulan EGA mendapatkan sekurangnya 10 order, di samping jasa desain dan pemasangan. Satu order biasa selesai dalam waktu tiga-empat bulan. Maklum, dalam sehari tiap karyawan di bagian produksi rata-rata hanya bisa menyelesaikan 0,25 meter persegi kaca patri. Sebegitu jauh ia tak bersedia menyebutkan harga jual.

Dalam perkembangan kemudian, EGA juga memperkenalkan sistem triplon glass atau unit triple glazed yang merupakan pelapisan panil kaca patri atau panel bevel dengan kaca tempered. Selain bermanfaat menghemat energi, triplon glass juga bisa berfungsi sebagai peredam suara.

Perawatannya pun amat mudah seperti merawat kaca polos biasa. EGA memopulerkan pula seni pelumeran kaca dari Italia yang lebih dikenal dengan melton glass (pelumeran kaca float) dan moons glass (pelumeran art glass warna-warni).

Prestasi prestisius kaca patri produksi EGA: menghiasi 29 gedung, 38 tempat ibadah, 11 hotel/spa, 10 restoran, dan sebagainya yang tersebar di berbagai negara dari Asia hingga Eropa.

Brian yang sudah menyerahkan tongkat estafet kepada kedua anaknya berpesan, “… dalam berusaha jangan mengurangi mutu bahan baku, berikan nilai lebih kepada pembeli atas uang yang dibayarkan, kerjakan dengan sepenuh hati, jangan menyusahkan pemberi order, jangan menipu, dan memberikan keterangan yang menyesatkan”. []

Tentang Brian Yaputra

  • Lahir: Semarang, 12 Agustus 1947
    – Chinese English School, Semarang, lulus 1966
    – Akademi Bahasa Asing Indonesia, Jakarta, lulus 1971
    – Jabatan owner PT Eztu Adimore, pengelola EGA 1981
    – President Rotary Club, Jakarta Menteng, 1988-1989
    Penghargaan: Citation dari Rotary International
  • Keluarga:
    – Istri: Flora Wijaya (58)
    – Anak:
    1. Mounty Augusta (34),
    2. Ken Binsar (32),
    3. Dien Moontly (30)