Sumber: Kompas.

Ada kebun pepaya di belakang rumah Abdul Karim Sidik di Kelurahan Lamaru, Balikpapan, Kalimantan Timur. Pohon-pohon pepaya di kebun seluas 2,5 hektar itu tak tinggi.

Namun, paras Karim begitu berseri tatkala menunjukkan batang-batang pohon pepayanya dipenuhi buah yang gemuk berkulit kencang seperti lebah berkerumun membangun sarang.

Hidup lelaki kelahiran 57 tahun silam itu memang tak lepas dari pepaya. Sudah 25 tahun Karim menaruh kesetiaan pada pepaya. Buah tanpa musim itu pun balas memberikan jasa kepada Karim: kesejahteraan, kemasyhuran, dan kemenangan.

Pengalaman mengembangkan pepaya kerap membuat Karim disorot dan “dipaksa” ikut lomba. Berbagai piagam penghargaan, piala, dan medali dia peroleh. Ada yang dari wali kota, gubernur, menteri, hingga pemimpin negeri.

“Wah, banyak! Saya enggak menghitung sudah berapa yang saya dapat,” kata Karim soal penghargaan yang dia terima.

Beberapa yang dicatat ayah seorang putra itu adalah penghargaan dari Kalimantan Timur untuk bidang pelestarian sumber daya alam dalam usaha pertanian. Pada 1996, dia menjuarai lomba ketahanan pangan yang digelar Pemerintah Kota Balikpapan.

Pada tahun itu juga Karim diganjar predikat Petani Teladan Nasional oleh Presiden Soeharto. Terakhir, tahun lalu, dia menjuarai lomba buah tingkat nasional yang digelar Departemen Pertanian. Dia memperoleh piala, medali emas, dan dua piagam penghargaan sekaligus.

Karim pantas meraih semua itu. Dia telah jauh mengembangkan sendiri teknik budidaya pepaya yang memenuhi standar nasional dari aspek jarak tanam, penggunaan bibit, pemupukan, alat pertanian, dan juga pencatatan.

Hasil kebunnya berorientasi ekspor. Karim juga piawai dalam memasarkan pepayanya. Dia tak menyerah dan pasrah kepada pedagang perantara. Banyak hotel, rumah makan, dan perusahaan multinasional di Balikpapan jadi pelanggannya sehingga pepaya Karim dihargai secara pantas.

Karim adalah juga petani yang tak lelah beruji coba. Salah satu hasilnya adalah pepaya balikpapan yang dia kembangkan selama delapan tahun.

“Banyak penduduk di Balikpapan adalah pendatang. Saya memikirkan cara agar ada sesuatu yang khas yang bisa mereka bawa ke kampung halaman dari kota ini,” kata Karim.

Pepaya balikpapan berkulit hijau kekuningan dan berbintik cokelat kehitaman, rata-rata hanya seberat satu kilogram, dengan daging buah kenyal dan sangat manis.

Pepaya ini adalah varietas baru hasil kawin silang antara pepaya yang diproduksi di Pontianak, Kalimantan Barat, dan beberapa jenis pepaya lain.

Magang

Awalnya, Karim yang anak karyawan Pertamina bukanlah petani pepaya. Lulus sekolah dasar, dia mencoba menjadi nelayan dan petani sayur.

Dia berpikir, penghasilannya akan semakin besar jika ia berusaha pada banyak bidang. Akan tetapi, jalan yang dia tempuh gagal mewujudkan “teori”-nya.

Inspirasi lalu datang ketika sakit. Karim sembuh setelah berobat kepada seorang dokter spesialis. Dia pun membandingkan biaya berobat ke dokter spesialis yang jauh lebih mahal daripada tarif dokter umum.

“Begitu duduk dan konsultasi saja sudah mahal. Itulah yang mengilhami saya sehingga memutuskan jadi spesialis. Mengembangkan pepaya saja,” ungkap Karim.

Pengalaman budidaya pepaya tidak didapat begitu saja, tetapi melalui belajar. Karim menyebutnya magang.

Dia memilih lokasi magang di Malang, Jawa Timur, dan sekitarnya yang kondang sebagai penghasil buah dan sayuran. Untuk itu, Karim menjual tanah warisan orangtua.

Dalam masa magang itu Karim mengenal Tuminah yang kemudian dia nikahi. Selepas magang, Karim kembali ke Balikpapan dan mencoba menanam 100 batang pepaya. Usaha pertama gagal.

Karim memutuskan kembali ke Jawa dan belajar lagi selama tiga bulan. Sebidang tanah dia jual lagi untuk bekal biaya magang ini.

Hasil magang kedua kalinya dicoba lagi di Balikpapan dengan menanam sebanyak 300 batang. Usaha kedua itu berhasil. Mulai saat itu, Karim mulai melakukan kawin silang berbagai jenis pepaya sehingga menghasilkan pepaya unggul.

“Pepaya saya memang untuk konsumsi hotel meski ada juga sebagian untuk orang yang ingin membeli di kios depan rumah,” tutur Karim, mantan Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kota Balikpapan selama 16 tahun.

Satu ciri Karim dalam bertani pepaya adalah tidak menggunakan pestisida. Dia juga memiliki pengetahuan praktis yang tak banyak dipahami petani lain, misalnya mengetahui jenis bibit jantan dan betina hanya dengan melihat. Juga tahu waktu paling tepat untuk memanen pepaya, yakni di atas pukul 09.00 agar embun dan getah tidak banyak ikut sehingga memperlambat pembusukan buah.

“Saya ingin meningkatkan harga jual pepaya, tetapi juga terjangkau oleh masyarakat sehingga petani tetap untung,” ujar Karim seraya tersenyum. []