Sumber: Kompas.

“Kami yang tinggal di sini memang warga serba kekurangan. Tetapi, itu bukan alasan untuk menyerah. Perubahan ke arah yang lebih baik harus diperjuangkan. Minimal dalam bentuk kesadaran untuk berubah.”

Kalimat penuh “tenaga” ini begitu ringan diucapkan Mustofa Hayat (32). Tentu saja ia tidak sekadar bicara. Pemuda asli Betawi yang lahir dan besar di kawasan padat penduduk di RT 007 RW 02, Kelurahan Ancol, Jakarta Utara, itu telah membuktikan bahwa keinginan untuk berubah yang disertai tindakan nyata bisa mendatangkan berkah.

Permukiman padat penduduk di Gang Shoho I yang tadinya sangat kumuh, kini berangsur asri dan mulai tertata. Jalan setapak selebar kurang dari 1,5 meter yang mengapit rumah-rumah penduduk yang berimpitan, diisi aneka tanaman dalam pot yang dijejer rapi di sisi gang.

Keterlibatan PT Pembangunan Jaya Ancol—sebagai wujud dari tanggung jawab sosial perusahaan tersebut terhadap lingkungan sekitarnya—memang ikut mendorong semangat warga untuk berubah. Namun, di atas segalanya, semangat dan kesadaran warga untuk berubah adalah kuncinya.

Bersama warga, Mustofa membentuk apa yang mereka namakan Komunitas Peduli Lingkungan. Selain menata lingkungan permukiman, komunitas ini juga mulai bergiat dalam usaha daur ulang kertas bekas dan pembuatan kompos dari sampah organik. Dari kegiatan daur ulang kertas dan pembuatan kompos ini, mereka yang terlibat di dalamnya sudah mulai memetik manfaat ekonominya.

Penghargaan Kehati Award (2007) dari Yayasan Keragaman Hayati Indonesia yang diperoleh lewat PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk, yang mampu mengubah permukiman kumuh menjadi tempat hunian yang lebih layak, adalah bukti keberhasilan warga Gang Shoho yang dipelopori oleh Mustofa. Begitu pun pada Danamon Award (2006), mereka ikut memberi andil besar pada PT Pembangunan Jaya Ancol yang meraih juara III.

Berawal dari musibah

Kebakaran hebat yang menghanguskan rumah-rumah warga di sejumlah RT/RW di Kelurahan Ancol pada 2001, bisa dibilang merupakan titik balik munculnya benih-benih kesadaran mereka untuk berubah.

Musibah tersebut memang menimbulkan kerugian tidak kecil. Sebagian besar rumah warga hanya tinggal puing. Di tengah penderitaan yang mereka hadapi, tiba-tiba berembus isu bahwa kawasan kumuh yang sudah terbakar itu akan digusur oleh pemerintah.

“Boleh jadi, penderitaan setelah kebakaran dan kekhawatiran akan dibongkarnya tempat itu ikut menumbuhkan ikatan emosi antarwarga,” tutur Mustofa.

Meskipun isu penggusuran tak terbukti, benih-benih kesadaran untuk saling memerhatikan dan mengingatkan justru kian berkecambah. Mereka yang sebelumnya tak terlalu peduli satu sama lain, sejak itu mulai merasakan pentingnya kebersamaan.

Awalnya hanya kerja bakti untuk membersihkan puing-puing yang berserak, saling bantu memperbaiki rumah, serta bersama-sama menata lingkungan agar sedikit tampak teratur. Di sinilah sosok Mustofa amat berperan. Ia kemudian diminta menjadi ketua RT, dan enam bulan kemudian didaulat sebagai ketua RW.

Sebagai bujangan berpendidikan luar biasa tinggi untuk ukuran lingkungan di sana, Mustofa sebetulnya tak tertarik menjadi ketua RT. Akan tetapi, selain karena desakan sejumlah warga, penyandang gelar master bidang komputer ini mengaku akhirnya mau menerima tanggung jawab itu karena ingin mengubah pandangan warga tentang hidup dan kehidupan.

“Kami orang susah. Sejak kelas III SD saya sudah cari uang dengan berjualan koran, membantu ibu jualan nasi uduk dan bapak yang bekerja sebagai satpam. Waktu saya SMP, bapak meninggal, sehingga beban ibu bertambah berat untuk menghidupi kami sekeluarga. Saya tidak bisa membiarkan ibu bekerja sendirian,” tutur Mustofa.

Ketika pada tahun 2002 PT Pembangunan Jaya Ancol mengembangkan Program Ancol Sayang Lingkungan, Mustofa tampil sebagai pelopor. Mula-mula ia hanya dibantu oleh 10 tenaga inti, sebelum akhirnya berkembang hingga 40 orang lebih.

Pengelolaan dan penataan kampung kumuh itu mulai membuahkan hasil. Selain aktivitas penghijauan dengan cara arisan tanaman, yang kemudian ditindaklanjuti dengan sedikit meniru model “bedah rumah” seperti acara di televisi, warga juga mulai dikenalkan dengan pemanfaatan daur ulang kertas dan pembuatan kompos dari sampah organik.

Hasilnya, selain lingkungan yang tadinya sangat kumuh itu mulai tertata rapi dan sedikit tampak asri, juga mulai terbuka peluang ekonomi bagi warga. Bersama sejumlah warga RT 007, Mustofa mulai serius menekuni kegiatan memproduksi aneka barang dari daur ulang kertas bekas.

Kini, setiap malam, sudut sempit di pojok bagian belakang MCK umum itu selalu ramai oleh aktivitas usaha daur ulang kertas bekas. Padahal, semua warga di sana tahu, sebelumnya lokasi itu justru kerap digunakan sebagai arena “pesta narkoba”.

“Ah, jangan begitu. Saya jadi malu,” kata anak ke-6 dari delapan bersaudara ini setiap kali pembicaraan mengarah pada perannya menghimpun dan membangkitkan semangat serta kesadaran baru terhadap warga di sekitarnya untuk menapaki hidup lebih baik.

Mustofa kini memang sudah mandiri. Dia juga tak lagi menjadi ketua RW setempat. Ruang kecil bagian bawah rumahnya di lorong sempit selebar kurang dari 1,5 meter di Gang Shoho I di sisi Jalan Lodan Raya, Kelurahan Ancol, ia gunakan sebagai tempat usaha: kantor dan jasa penyewaan komputer, sekaligus tempat ia menjual barang alat-tulis-kantor alias ATK. Ia juga melayani jasa perbaikan dan atau pemrograman komputer.

Dari kegiatan itu, ia kini bisa merekrut beberapa anak muda di sana untuk membantunya bekerja. Hidup memang harus berubah…. []

* Pendidikan: SD 01 Pagi Ancol (1987); SMP Negeri 113 Kampung Bandan, Jakarta (1990); SMA Negeri 40 Jakarta Utara (1993); Akademi Asuransi Trisakti (1996); STIE Indonesia (2001); Magister Komputer, Universitas Bina Mulya (2005).