Sumber: Kompas.

Memang tidak mudah mengembangkan usaha sendiri di negeri ini. Butuh tulang baja, otot kawat, dan bakat untuk dapat membangun usaha mandiri. Abdul Rosyid (40), anak Betawi asli yang menekuni usaha bengkel mebel di kawasan Pulo Gadung, Cakung, Jakarta, telah merasakannya.

Berkat keseriusannya dan bakat manajerial, usaha yang dimulainya tahun 1995 dengan modal Rp 300.000 itu kini telah beromzet Rp 60 juta sebulan. Saat tutup buku 31 Desember 2006, pengusaha mebel ini telah memiliki aset bernilai Rp 125 juta.

“Semua itu saya usahakan sendiri. Awalnya saya hanya menjual mebel produksi Ayah dari Sukabumi. Tetapi setelah dia meninggal tahun 1996, saya menjalankan sepenuhnya bisnis ini mulai dari memproduksi hingga memasarkan,” kata Rosyid, yang ditemui saat berpameran di Plasa Pameran Perindustrian, Gedung Departemen Perindustrian, Jakarta, Selasa (13/2).

Sarjana agama lulusan Institut Agama Islam Negeri Bandung yang pernah menjadi guru di sebuah madrasah aliah di Pulo Nangka, Jakarta Timur, ini mengawali bisnisnya saat masih mengajar tahun 1993. Ketika itu, dia berusaha memasarkan mebel produk bengkel ayahnya.

Setiap hari dia berkeliling dari satu toko ke toko meminta kesediaan pemiliknya menerima dan memamerkan mebelnya. Upaya itu berhasil. Para pemilik toko di kawasan Jakarta Timur bersedia memamerkan mebelnya dengan sistem pembayaran sebulan kemudian.

Berkat kegigihannya pula, ayahnya, Abdul Wasih (almarhum), mampu membeli mobil bak terbuka bekas. Kendaraan tersebut dipakai untuk mengangkut mebelnya dari Sukabumi ke Jakarta.

Sambil menjajakan mebel ayahnya, Rosyid mulai merintis usahanya sendiri. Bermodalkan Rp 300.000, dia mulai membeli mebel setengah jadi dari perajin dan memberi sentuhan akhir di Jakarta.

Setelah selesai, setiap akhir pekan dia selalu memamerkan mebel-mebel buatannya di pinggir jalan di kawasan Pulo Gadung. “Lumayan juga hasilnya. Orang tidak hanya membeli mebel yang sudah jadi, tetapi ada juga memesan agar dibuatkan sesuai keinginannya,” kata Rosyid.

Suami dari Sri Rejeki (39) ini pun semakin membulatkan tekadnya berbisnis mebel sejak ayahnya meninggal. Ayah dari Fauzi Adam (10) dan Wildan Hamdan (8,5) ini memanfaatkan tanah warisan orangtuanya yang berada di sekitar Kawasan Industri Pulo Gadung. Dia menempati lahan seluas 200 meter persegi, yang sebagian di antaranya sebenarnya masih dimiliki PT JIEP, pengelola Kawasan Industri Pulo Gadung. “Saya meminta izin untuk memanfaatkan dulu selama PT (JIEP) itu belum memakainya,” terang Rosyid.

Lahan yang sebagian ditumbuhi semak tersebut dibaginya menjadi tiga bagian. Bagian pertama, yang berada di dekat jalan masuk seluas 30 meter persegi, menjadi bengkel perakitan dan pengecatan mebel.

Bagian kedua yang berada di depan bengkel pertama menjadi lokasi penumpukan potongan-potongan mebel yang akan dirakit. Ruangan yang hanya memiliki tiga dinding ini juga menjadi tempat penumpukan potongan-potongan bahan baku kayu dan kerangka sofa.

Bagian ketiga, yang dipisahkan oleh teras rumah Rosyid, menjadi tempat penumpukan mebel yang sudah selesai dirakit tetapi belum mendapat sentuhan akhir. Puluhan lemari yang belum dicat disusun bersesakan di ruangan tersebut. “Ya, bisa disebut gudang, lah,” ujarnya sambil tersenyum.

Bengkel tempat Rosyid berproduksi memang menyatu dengan rumahnya. Kesan bersahaja, terbuka, dan dinamis terasa ketika memasuki lingkungan bengkel itu. Pekerja, tetangga, dan keluarga bisa menyatu. Keakraban dapat dirasakan di tengah kebersahajaan bengkel.

“Kalau sedang waktunya kerja, ramai banget di sini, suara ketukan palu di sana-sini. Enggak bakal bisa tidur,” kata Sri Rejeki, istri Rosyid yang berasal dari Jawa Tengah.

Kebersamaan

Rosyid memiliki 10 pekerja tetap. Empat tukang kayu, tiga pemroses akhir, pekerja gudang, sopir, dan pemasar. Jika memperoleh pesanan dalam jumlah melebihi 100 unit untuk waktu yang sangat singkat, misalnya seminggu, dia akan membagi order itu dengan pengusaha mebel tetangganya.

“Usaha kecil seperti kami ini, kalau tidak saling membantu sesamanya, ya, bisa hancur. Kami tidak punya modal banyak. Selama ada pesanan dan arus kasnya cukup, lebih baik kami saling berbagi pesanan jika order sedang ramai,” kata Rosyid, yang juga Sekretaris Koperasi Industri Kayu dan Mebel Jakarta Timur.

Kebersamaan ini dibangun sendiri oleh mereka. Salah seorang pengusaha mebel tetangga Rosyid adalah Jamal. “Kalau tidak saling membantu, ya kami akan hancur. Apalagi akibat banjir kemarin, belum ada bantuan sedikit pun dari pemerintah,” kata Jamal, yang rumah dan bengkelnya juga terendam banjir.

Meski terus berusaha sendiri tanpa bantuan modal dari mana pun, Rosyid tetap menuntut para pekerjanya agar mandiri. “Jangan sampai mereka selamanya menjadi tukang. Suatu saat, mereka harus punya usaha sendiri,” ujarnya.

Karena itu, Rosyid menjaminkan dirinya pada perusahaan pembiayaan agar mau menyalurkan kredit sepeda motor bagi pekerjanya. “Agar mereka bisa menabung sebagian kecil gajinya untuk modal usaha,” kata Rosyid.

Saling membantu dan mendukung agar sama-sama menikmati kesejahteraan dari usahanya. Mereka berusaha untuk saling menjaga agar tidak ada pengusaha yang terpuruk akibat buruknya manajemen. Rosyid pun rela membantu teman-temannya menyusun laporan keuangan secara gratis semata-mata untuk mendukung kelangsungan usaha.

Selain itu, para pengusaha mebel kecil menengah juga sangat antusias memanfaatkan sarana pameran gratis yang disediakan pemerintah. Seperti Plasa Pameran Perindustrian di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, dan ruang pamer Koperasi Industri Kayu dan Mebel Jakarta Timur di Jalan Jatinegara Kaum Nomor 2, Jakarta Timur.

Kebersamaan ini pulalah yang menginspirasi Rosyid untuk mengembangkan sistem pameran mebel di jalanan setiap hari Minggu di Jalan Pulo Sidik, Kawasan Industri Pulo Gadung. “Kami menjual mebel-mebel seharga Rp 200.000 hingga Rp 800.000 per unit. Ya, target pasarnya memang hanya untuk buruh dan masyarakat kelas bawah,” kata Rosyid.

Dia menambahkan, “Omzetnya lumayan. Saya bisa mendapat Rp 3 juta hingga Rp 4 juta per hari.”

Dengan bangga Rosyid meneguhkan, “Dari jalanan ke pameran”. []