Sumber: Kompas.

Di depan pintu ruang tamu, seorang pria tampak sibuk membagikan kertas-kertas kecil. “Please come in, the lessons will start in a few minutes,” ujarnya. Anak-anak usia sekolah dasar yang baru saja berdatangan, langsung tergopoh-gopoh bergegas masuk.

Siang itu, kursus bahasa Inggris gratis di Desa Ngargogondo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, hendak dimulai.

Pria itu, Hani Sutrisno (33), menyilakan para tenaga pengajar masuk. Tak berapa lama terdengar celotehan ramai anak-anak menjawab apa yang diinstruksikan guru-gurunya.

Ini kesibukan yang biasa terjadi setiap Selasa hingga Minggu. Aktivitas kursus gratis inilah yang akhirnya membuat Desa Ngargogondo ditetapkan sebagai “Desa Bahasa” oleh Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo pada 28 Januari lalu. Sejak dirintis tahun 1998, jumlah peserta kursus tercatat mencapai sekitar 400 orang.

“Sebagian lulusan dari sini bahkan ada yang sudah menjadi guru honorer, membantu mengajar di sekolah-sekolah sekitar sini,” ungkap Hani bangga.

Program yang saat ini berjalan adalah kursus bahasa Inggris, Jepang, dan Jawa Kawi. Di masa datang, dia berencana untuk mengembangkan dengan membuka kursus bahasa Perancis dan Jerman.

Modal hidup

Di mata Hani, keterampilan berbahasa asing bisa menjadi modal hidup bagi setiap orang, termasuk bagi dirinya sendiri.

Saat duduk di bangku SMP, Hani terpaksa membantu ekonomi keluarga dengan berjualan kartu pos di kawasan Candi Borobudur. Ketika itu, dengan kemampuan bahasa Inggris yang dia miliki, ia pun merasa lebih mudah berkomunikasi dan menjajakan barang dagangannya. Walhasil, barang dagangan laris dibeli para turis asing.

“Melihat ini, para pedagang lain akhirnya banyak yang datang kepada saya dan minta diajari bahasa Inggris,” tuturnya.

Setelah lulus SMP, Hani dikirim ibunya untuk melanjutkan sekolah di luar kota, yaitu Madrasah Aliyah (MA) Negeri Darul Ulum Jombang, Jawa Timur. Namun, didorong keinginan untuk bekerja, saat itu ia mencuri- curi waktu menjadi pemandu wisata di Gunung Bromo dan Pantai Kenjeran, Surabaya.

Sadar bahwa bahasa Inggris sangat diperlukan, Hani memutuskan untuk mengikuti kursus guna memperdalam kemampuannya. Namun, karena tidak punya biaya, setelah lulus MA, dia mengumpulkan uang dengan bekerja di pabrik konfeksi di Bandung selama empat tahun. Kemudian, ia mengikuti kursus bahasa Inggris selama enam bulan di Basic English Course (BEC) di Pare, Kediri.

Setelah lulus dan mengantongi sertifikat, pada tahun 1998, Hani pulang ke Desa Ngargogondo dengan membawa tekad membagi ilmu kepada warga desanya. “Saya ingin agar warga desa ini dapat belajar Inggris dengan mudah tanpa harus bersusah payah mengumpulkan uang lagi,” ungkapnya.

Rintisan kursus bahasa ini tidak berjalan dengan mudah. Anak-anak desa merasa enggan dan malu untuk diajak. Mereka menganggap bahasa Inggris di sekolah sudah cukup menyulitkan. Tak hilang akal, Hani akhirnya menggandeng kelompok orangtua, terutama bapak-bapak agar anak-anaknya mau belajar.

Siasatnya ternyata manjur, anak-anak pun tergerak ikut kursus. Namun, para orangtuanya tak mau ketinggalan. Tak urung ini membuatnya harus membuka empat kelas, yaitu kelompok anak-anak kelas satu hingga tiga SD, kelompok anak usia kelas empat hingga enam SD, kelompok SMP dan SMA, serta kelompok umum, yang banyak diikuti oleh para orangtua. Kelas umum ini dilakukan pada malam hari. Semua kelas diajar oleh Hani seorang diri, padahal waktu itu ia sudah menjadi tenaga pengajar honorer di SD.

Di tengah perjalanan, Hani mulai ragu, apakah kursus ini dapat terus berjalan tanpa ada dukungan pembiayaan. Dengan pertimbangan itu, ia lalu membuka lembaga pendidikan kursus (LPK) Simple English Course (SPEC). Sebagian dana yang didapatkan dari lembaga ini dipakai untuk membiayai kursus gratis di Desa Ngargogondo.

Berbagi ilmu

Setelah dua tahun berjalan, Hani mulai menggandeng tenaga pengajar dari LPK SPEC untuk membantunya mengajar di program kursus gratis. Sekarang ada 12 tenaga pengajar yang berasal dari SPEC.

“Bahkan, belakangan saya juga menyuruh mereka yang lulus dari SPEC agar mencoba mengajar terlebih dahulu di Desa Ngargogondo,” paparnya.

Kini, Hani mengaku sudah bisa bernafas lega. Kursus gratis di Desa Ngargogondo bisa terus berjalan, dengan cukup diserahkan kepada 12 tenaga pengajar. Tidak hanya itu. LPK SPEC yang dirintisnya di Kecamatan Borobudur, saat ini juga sudah membuka cabang di Serpong, Tangerang, serta Kota Magelang.

Namun, semangat membagi ilmu dengan cara mengajar tetap dibawanya sampai sekarang. Ketika diminta untuk memberikan pelatihan atau kursus singkat di mana pun, dia selalu berupaya mengarahkan para peserta didiknya agar berkemampuan sebagai seorang guru, sehingga dapat menularkan ilmunya kepada orang lain.

“Bagi saya, prinsip bagi orang yang ingin maju adalah teaching by learning, and learning by teaching. Dengan memintarkan orang lain, kita sekaligus juga akan memintarkan diri sendiri,” papar Hani. []