Tengah malam itu hujan bagai tercurah dari langit. Ajid bersama istri dan enam anaknya berkumpul berimpitan dalam sebuah gubuk beratapkan seng bekas. Gubuk menempel di ujung lapangan di Kampung Mesjid, Jombang, Tangerang, beberapa ratus meter dari Stasiun Kereta Api Sudimara. Kegemparan terjadi saat gubuk ambruk tak kuasa menahan gempuran air hujan.

Ajid dan anggota keluarganya panik. Dalam sekejap keluarga Ajid basah kuyup, membuat tubuh keluarga itu menggigil. Penderitaan harus mereka lalui sampai subuh tiba, saat hujan reda, saat Ajid berupaya menegakkan kembali gubuknya yang sudah rata tanah.

“Itu pengalaman saya yang paling pahit. Saya rasakan penderitaan itu bersama seluruh anggota keluarga,” kenang Ajid, sang kepala keluarga, saat kami temui pertengahan September lalu di tempat penampungan barang-barang bekas di Desa Jombang, Kecamatan Ciputat, Tangerang.

Peristiwa yang tercatat baik dalam salah satu bilik ingatan Ajid itu terjadi tujuh tahun lalu saat ia menggelandang tanpa pekerjaan, tanpa masa depan yang jelas.

Saat itu dua anaknya, Rani dan Nur Anisa, terpaksa menjadi pemulung di Stasiun Sudimara. Kakak-beradik itu memungut apa saja yang bisa dijual, mulai koran bekas, plastik kemasan minuman, hingga logam.

Dua anak Ajid lainnya, Sri Ratnawati dan Sukaesih yang sudah lebih besar, menyimpan harapan pergi ke tanah Arab menjadi tenaga kerja. Tetapi, keduanya gagal berangkat karena tidak tahu caranya pergi. Sedangkan tabungan Ajid hasil menjual seluruh harta bendanya di Indramayu sudah habis.

Kalau sekarang Ajid mengaku sudah bisa sedikit bernapas lega, itu semata karena perjuangannya. Juga karena terinspirasi oleh kegigihan kedua putrinya, Rani dan Nur, yang menjadi pemulung. Ajid, pria kelahiran Indramayu, 29 November 1956, kini menjadi “bos” dari 25 pemulung. Seluruh anak buahnya ia tampung dan kumpulkan dalam sebuah “markas” penampungan barang-barang bekas di lahan seluas 1.000 meter persegi.

“Kalau tidak merasakan perjuangan Rani dan Nur sebagai pemulung, mungkin saya tidak akan terpikir bekerja seperti ini,” tutur Ajid yang biasa dipanggil “Bos” oleh anak buahnya.

Persentuhannya dengan barang-barang bekas boleh dikatakan saat melihat perjuangan kedua anaknya itu. Sebelumnya dia berganti-ganti profesi; mulai sopir di Astra, petugas satpam hotel, sopir taksi, sampai kembali lagi ke kampungnya di Indramayu untuk bekerja serabutan.

Bermula dari uangnya yang masih tersisa, ia menyewa tanah seluas 300 meter persegi di Kampung Mesjid, tidak jauh dari ia dan keluarganya menggelandang kedinginan. Ia mulai turun sendiri mencari barang-barang bekas seperti yang dilakukan kedua anaknya. Beberapa pria yang menganggur membantunya. Tanah yang ia sewa Rp 500.000 per dua tahun itu pun sudah penuh dengan barang-barang bekas.

Hidupi pemulung

Kisah perjalanan hidup Ajid dan keluarganya adalah cerita biasa yang tidak terlalu istimewa. Tetapi, keberaniannya untuk kembali ke Jakarta, padahal sebelumnya sudah gagal, juga harus diberi tempat. Ia tahu, kembali ke Jakarta hanya dua pilihan: berhasil atau gagal. Gagal, mau tidak mau harus menjadi gelandangan. Ukuran “berhasil” sendiri memang relatif.

Tetapi, Ajid mengaku berhasil ketika kini mampu menghidupi lebih dari 70 jiwa, yakni anak dan istri para pemulung anak buahnya. Ajid bersama keluarganya juga hidup bersama para pemulung anak buahnya.

Setiap hari ia menampung barang-barang bekas dari mereka, antara lain plastik bekas kemasan air minum, koran, kertas semen, beling, sampai logam. Setelah barang-barang bekas itu disortir, dibersihkan, dan cukup “menggunung”, lalu diangkut pengepul lainnya setiap dua minggu sekali.

Ajid merupakan “manajer” yang menjadi inspirasi para pemulung lain. “Bos sangat bertanggung jawab. Ia memperlakukan kami dengan baik. Kami diberi tempat tinggal, juga gerobak. Kami tinggal memulung, lalu menjualnya kepada Bos,” ungkap Suroso, salah seorang anak buah Ajid. Ajid membuat gerobak roda dua sendiri dengan modal rata-rata Rp 150.000. Kini ia punya 25 gerobak.

Kepada seluruh pemulung yang bekerja untuknya, Ajid menyediakan bedeng yang masing-masing berpenerang listrik 25 watt. Anak-istri pemulung yang sudah berkeluarga ditampung pada masing-masing bedeng, demikian juga bagi yang masih lajang. Bahkan, Ajid memberi bedeng tersendiri bagi tiga pemulung anak-anak, Heri, Hedi dan Hadi.

“Karena mereka sudah akil balig, tidak baik kalau tidur bersama kedua orangtuanya,” Ajid beralasan. Ketiga anak itu mengikuti ayahnya, Yono, yang juga pemulung, untuk membiayai sekolahnya masing-masing.

Pernah seorang anak buah Ajid bernama Agus ditangkap polisi karena dituduh mencuri. Agus ditangkap polisi di Pasar Ciputat pukul tiga dini hari saat ia memulung kardus mi yang isinya baju-baju bekas. Polisi memergoki dan langsung menangkapnya. Untuk menebus anak buahnya, Ajid harus keluar uang Rp 250.000.

Ajid sangat tertutup bicara soal penghasilan. Tetapi, rata-rata anak buahnya bisa menerima hasil penjualan Rp 600.000 per bulan. “Bagi saya, yang penting anak buah bisa hidup, meski dalam keadaan begini,” katanya. []

Sumber: Kompas.