Tiga tahun lalu kampungnya mengalami kekeringan akibat kemarau selama enam bulan. Masyarakat bersusah payah menyambung-nyambungkan pipa air dari gunung ke kampung. Air bersih yang mengalir hanya cukup untuk minum. Sementara untuk mencuci dan mandi terpaksa harus diirit sedemikian rupa.

Padahal, membersihkan diri dan barang rumah tangga adalah keharusan sebab kampung ini berada di muka tempat pembuangan akhir (TPA) sampah Leuwigajah yang kotor, bau, dan mendatangkan penyakit.

Kampung tempat Asep Abass (35) lahir dan dibesarkan adalah Kampung Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi. Kondisinya sangat mengenaskan.

Selain air tanah makin surut, udara pun tidak sejuk lagi karena setiap kemarau asap mengepul menutupi kampung yang terkurung bebukitan. Asap dan gas timbul dari tumpukan sampah.

Di musim hujan, kampung diserbu lalat yang tidak jarang mengerebuti pepohonan mengakibatkan pohon tidak tumbuh dengan baik. ”Tidak ada pohon yang bagus di kampung ini,” kata Asep. Sungai pun jaraknya jauh, yaitu Sungai Citarum yang sudah dicemari limbah industri.

Asep yang senang jalan-jalan menikmati hutan dan sungai lalu tenggelam dalam kenangan indahnya air sungai dan hutan.

”Kalau Ciwidey, Subang, Lembang, Kuningan, dan tempat-tempat lain memiliki gunung hijau dan air mengalir deras dan jernih, kenapa kampung saya yang berada di muka bukit tidak bisa seperti itu?” tanya Asep.

Dari pertanyaannya pada diri sendiri itu akhirnya Asep berinisiatif menghijaukan bukit Gajah Langu dan Puncak Salam di kampungnya. Dua bukit itu hanya ditumbuhi alang-alang.

”Dari saya kecil bukit itu memang hijau, tetapi hijau oleh alang-alang, bukan pohon berkayu. Lahannya pun tidak produktif. Di beberapa bagian sering longsor,” ujar suami dari Yulianti (32) yang kini memiliki dua anak, Warlian Rigid Suderajat (3) dan Wanda Ayu Lianti (1 bulan), ini.

Tiap hari Minggu, Asep kecil sering ikut ayahnya mendaki bukit seluas 50 hektar sambil membawa cangkul. Mereka sering iseng menanami berbagai jenis pohon di sana.

Beberapa petani memanfaatkan bukit untuk menanami singkong sebagai makanan pokok. Sebagian lahan juga dimiliki secara pribadi oleh beberapa orang.

Awalnya sulit memberi pengertian kepada masyarakat untuk mereboisasi bukit. Untung, Asep menemukan cara jitu. Ia sering menceritakan kepada penduduk kampung betapa indahnya sebuah desa yang ia datangi karena memiliki hutan yang hijau dan sungai yang bagus. Air pun tidak pernah menjadi masalah di daerah itu.

Beberapa warga mulai tergoda dengan cerita Asep. Hari-hari berikutnya, Asep membawa satu-dua warga ke tempat-tempat indah itu. Mereka makin terpesona dan sering memperbincangkan hutan dan sungai.

Dari uang tabungan

Dengan menabung sedikit demi sedikit dari upahnya sebagai pekerja serabutan bidang kelistrikan di pabrik-pabrik, tiga tahun lalu Asep mulai membeli bibit pinus dari Jayagiri, Lembang. Dia hanya menebak bahwa pinus cocok untuk tanah yang agak kering dan berbatu.

Karena tabungannya hanya sedikit, alumnus Jurusan Teknik Tenaga Listrik, Universitas Ahmad Yani, Kota Cimahi, ini hanya mampu membeli 3.000 bibit yang tingginya baru sekitar 10 sentimeter dengan harga Rp 300 per pohon. ”Bibit pinus yang tingginya sudah setengah meter harganya mahal, sekitar Rp 5.000 waktu itu,” kata Asep.

Penanaman dilakukan bersama 20 petani di kampungnya. Tahun lalu, mereka mendapat bantuan 3.000 bibit buah-buahan dari Pemerintah Kota Cimahi.

Sampai kini Asep dan para petani masih sering mengumpulkan biji buah-buahan untuk dibibitkan. Selain itu, Asep dan petani muda dan tua selalu meluangkan waktu pada hari Minggu memelihara pohon yang mereka tanam.

”Kalau tidak dipelihara, bisa-bisa pohon itu kalah dengan alang-alang yang tumbuh liar. Lagi pula, sambil mendaki bukit, petani bisa menyiangi alang-alang untuk dibawa pulang sebagai pakan kambing dan sapi mereka. Jadi, kegiatan kami sangat sinergis,” ujar Asep.

Asep mengatakan, pemilik lahan di bukit itu sudah memberi izin lahannya dihijaukan. Sayangnya, sampai kini belum sepuluh persen luasan bukit yang bisa mereka tanami.

”Andaikan pemerintah memberi lagi bibit, kami siap menanam dan memeliharanya,” ujar Asep yang berharap pemerintah mau meneliti pohon apa saja yang cocok ditanam di sana agar apa yang mereka lakukan efektif.

Dari hasil kerjanya, Asep dan warga kampung memang belum merasakan efek nyata. ”Tetapi, kami yakin lima atau sepuluh tahun lagi lingkungan Kampung Cireundeu akan lebih baik seperti yang kami harapkan. Kalau bisa menjadi aset bagi Kota Cimahi,” ujar Asep yang terus memimpikan tanah yang subur menghijau dengan air bergemericik seperti dalam dongeng akan terwujud di kampungnya. []

Sumber: Kompas.