“Pak Zainal, sabar ya. Sepertinya anak Bapak memiliki kelainan,” kata seorang rekan kerjanya, yang kebetulan dokter di Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Jawa Barat, beberapa hari setelah istrinya melahirkan anak keduanya, Rima Nur Yuliyanti, 17 Juli 1988.

Zainal Arifin (48) yang saat itu bekerja sebagai staf perencanaan di kantor tersebut amat sedih mendengar pernyataan rekannya. Ia mengerti apa yang tersurat dari kata-kata itu; bayinya berkebutuhan khusus.

Dari fisiknya sudah jelas, bayinya adalah tunagrahita. Makin besar tubuhnya, makin mudah mengidentifikasi ketunagrahitaan itu. Secara umum, kata Zainal, fisik orang tunagrahita antara lain berambut kaku, tangannya gemuk seperti bayi tetapi kasar, lidahnya tebal serta pendek jika dijulurkan, alisnya tebal kaku, dan beberapa anak biasanya bermata sipit seperti orang mongol.

Kenyataan itu menyeret Zainal pada bayangan buruk tentang masa depan anaknya yang amat gelap. Orang awam selalu mengira, jangankan untuk belajar, bekerja, atau memiliki keturunan, merawat diri saja penyandang tunagrahita tidak akan bisa.

Pikiran-pikiran inilah yang menyebabkan Zainal mengalami depresi. Ia mengunjungi psikiater dan menelan obat-obatan penenang karena setiap malam selalu gelisah dan menangis memikirkan nasib anak perempuannya yang selalu ia panggil Ima.

Apa yang terjadi padanya ternyata tidak membantunya keluar dari masalah. Apalagi gajinya sebagai pegawai negeri sipil saat itu hanya Rp 45.000 per bulan. Padahal, kebutuhan rumah tangga mencapai Rp 100.000 sampai Rp 150.000 per bulan, sebab Rima membutuhkan berbagai terapi untuk bisa tumbuh dan berkembang sesuai kemampuan tubuh dan jiwanya.

Pengobatan rutin untuk anak tunagrahita terus dilakukannya terhadap anaknya, meskipun sangat mahal karena membutuhkan dokter-dokter spesialis, terutama dokter syaraf, psikiater, dan psikolog.

Kerja serabutan

Tak ingin terjebak dalam masalah tanpa solusi, suami Aan Rostiati (43) yang bekerja di Rumah Sakit Jiwa di Kota Bandung ini segera berjuang untuk membangun masa depan anaknya. Di dalam doanya, ia berkata, “Jika aku berhasil, aku bertekad akan membantu Ima dan teman-temannya.”

Pekerjaan apa pun dilakukannya. Sepulang bekerja di Kanwil Departemen Kesehatan sekitar pukul 14.00, Zainal langsung menawarkan diri menjadi pembantu tukang bangunan untuk mendapatkan upah Rp 1.000 per hari. Upah itu amat berharga demi pengobatan Ima.

Jika tidak ada pekerjaan bidang bangunan, ia menjadi sopir angkutan umum jurusan Ciroyom-Sukajadi. Zainal-lah yang pertama membuka jurusan ini. Ketika itu, dia melihat banyak warga membutuhkan jurusan ini, tetapi tidak ada transportasi umum yang melintas di tempat tersebut. Ia bekerja sebagai sopir sampai pukul 20.00.

Karena uang pengobatan masih juga kurang, ayah dari Yopi Nurdiyansyah (24), Ima (18), Debi Nur Sustiyanti (16), dan Noviyanti Nur Fadiyah (5) ini pun beralih menjadi sopir colt jurusan Bandung-Cikampek. Penghasilannya lebih banyak karena ia bekerja hingga pukul 24.00. Namun, jika ada tawaran menjadi pembantu tukang bangunan, ia tetap menerimanya.

Suatu hari pada tahun 1996, seorang dokter di kantornya meminta Zainal membangun rumahnya. Zainal yang awalnya hanya pembantu tukang bangunan segera menolak karena tidak percaya diri. Namun, dokter tersebut ngotot. Zainal pun akhirnya yakin dan menjalankan proyek tersebut. Diajaknya beberapa temannya sesama tukang bangunan.

Entah kenapa, Zainal kemudian dikenal sebagai kontraktor. Ia banyak mendapatkan order membangun rumah. Ia pun bekerja sama dengan adiknya yang kuliah di Desain Interior, Institut Teknologi Bandung untuk membantu mendesain konsep rumah yang ada di pikirannya.

“Sejak saat itu, rezeki saya seperti roket,” kata Zainal, bersyukur dan memutuskan berhenti jadi pegawai negeri.

Bangun sekolah

Zainal ingat tekadnya. Ketika Ima bersekolah di sekolah luar biasa (SLB), ia merasa tak cocok terhadap kurikulum yang diberikan sekolah karena terkesan terlalu akademik. Padahal, kebutuhan anak tunagrahita adalah keterampilan. Melalui keterampilan, kecerdasan anak tunagrahita akan melaju dengan baik.

Berangkat dari ketidakpuasannya, Zainal lalu membangun SLB Asih Manunggal di Jalan Singaperbangsa, Kota Bandung. Ia menerima murid dari berbagai kalangan. Di sekolah yang sederhana itu ia leluasa mengolaborasikan kurikulum pemerintah dengan kurikulum yang diciptakan para orangtua siswa.

Berbagai ide untuk memberdayakan anak-anak tunagrahita mengalir dari para orangtua. Zainal juga membangun “kantin kurikulum” bagi siswa.

Pukul 08.00 anak-anak dibimbing oleh guru melakukan berbagai keterampilan seperti membuat jajanan gorengan, lalu dijual kepada orangtua di sekolah. “Dengan praktik langsung, anak mudah belajar matematika. Mereka tahu, kalau membeli tujuh gorengan seharga Rp 50, maka pembeli harus membayar Rp 350,” kata Zainal.

Lewat kantin pula, anak-anak belajar bahasa Inggris. Banyak merek makanan dan minuman berbahasa Inggris. Saat itulah guru memperkenalkannya, dan mereka menyimpan pengetahuan baru itu dengan baik karena tahu esok hari kemungkinan ada yang menanyakan nama barang tersebut. Mereka juga mulai belajar mengenal huruf dan angka dari bungkus makanan. Tak hanya itu, mereka juga mengenal harga diri karena dilatih untuk bekerja.

Selain membuat jajanan gorengan, anak-anak juga diajarkan berbagai keterampilan lain seperti merias diri, membungkus barang, membuat keset, telur asin, dan lainnya.

Dengan uang pribadinya, Zainal dan para orangtua tunagrahita sering jalan-jalan ke pelosok Jawa Barat mencari anak tunagrahita yang tidak mampu. “Hampir sebagian besar anak tunagrahita lahir dari keluarga tidak mampu sehingga tidak bisa sekolah dan dikembangkan potensinya,” ungkap Zainal, yang kini merupakan anggota badan pendiri Persatuan Orangtua Tunagrahita Indonesia.

Ia dan teman-temannya pernah menemukan seorang anak tunagrahita di Cimahi yang dikurung dari pukul 08.00 sampai pukul 16.00 karena tak ada yang menjaga. Ibunya yang miskin harus bekerja di pabrik kerupuk dengan penghasilan Rp 10.000 per hari.

Bersama orangtua lain, ia berhasil menggalang dana bantuan yang diwujudkan dengan membuatkan warung untuk ibu tersebut; dengan demikian ia tidak perlu ke luar rumah dan bisa merawat anaknya lebih intensif.

“Kami para orangtua tunagrahita percaya, jika kami menyayangi anak-anak tunagrahita lain, suatu hari ketika kami sudah tiada, ada orang lain yang mengasihi anak-anak kami,” ungkap Zainal yang anaknya kini menjadi penari bali klasik dan sering diundang berpentas. []

Sumber: Kompas.