Tangan tuanya dengan saksama dan hati-hati memindahkan kardus-kardus dalam lemari kecil di warungnya. Tangan itu merogoh lemari yang gelap, meraba-raba mencari plastik kresek hitam yang membungkus baju kampret dan celana pangsi hitam.

Jarum jam menunjuk pukul 11.30. “Bu, di mana bajuku? Kamu lihat tidak? Coba, di mana ya bajuku?” ujar Salam Mulyadi, sembari mengaduk- aduk isi lemari di rumahnya di kompleks Kebun Binatang Bandung.

Minggu pertama hingga ketiga, setiap bulannya, ia dan teman-temannya yang sudah renta mementaskan kesenian Sunda Ketuk Tilu. Kesenian tari zaman baheula ini merupakan asal-muasal berbagai seni tari sunda lainnya, termasuk Tayub, Ibing, dan Jaipongan.

Pemain rebab sudah menjemputnya. “Ayo, Pak Salam. Penonton sudah menunggu,” ujar Dodong, temannya.

“Nah, ini dia!” ucap Salam Mulyadi, sambil menarik plastik yang berada di paling pojok. Ia langsung berganti pakaian. Tak lama, kakek berusia 88 tahun itu sudah berjalan beriringan dengan Dodong yang berusia 74 tahun menuju panggung pertunjukan. Tepat di tangga pertama, Salam mundur. “Dodong…sebentar, aku belum pakai minyak, nanti enggak bisa berdiri,” seru Salam, sambil memegang tempurung lututnya.

Polisi penghibur

Setelah sinden menyanyikan dua tembang, barulah Salam datang. Angin semilir yang masuk melalui pintu ruang pertunjukan yang hanya seluas sekitar 100 meter persegi itu menebarkan wangi minyak sereh dari tubuh Salam. “Saya bikin sendiri dari minyak sereh, wijen, dan gandapura,” bisiknya. “Kalau tidak pakai minyak, lutut saya sering berbunyi dan sakit sekali kalau menari.”

Tak mau buang waktu, Salam langsung menari meskipun bangku penonton masih banyak yang kosong. Ia biasa menari bersama teman-teman penari lelaki dan ronggeng hingga pukul 14.00. Salam tak pernah bosan meskipun ia sudah menarikan Ketuk Tilu selama lebih dari setengah abad.

Dunia kesenian sudah mengakar di hati pria asal Madura ini. Di masa mudanya, Salam merupakan salah seorang Tentara Joko Tuli, pasukan keamanan Madura. Tahun 1945 ia menjadi Polisi Angkatan Laut di Surabaya. Dalam tugas mengamankan negeri yang baru merdeka itu, anak dari Kiai Balhum ini tidak menggunakan senjata melainkan kesenian.

Setelah lepas dari penjajahan, banyak kelompok masyarakat terlibat konflik. Untuk meredamnya, ia dan para polisi lainnya ditugaskan ke berbagai daerah untuk menghibur rakyat agar tidak larut dalam ketegangan. Hiburannya berupa drama, tari, hingga sulap yang disisipi pesan perdamaian. “Hiburan keliling masih paling efektif karena desa-desa belum dapat menangkap siaran radio,” ungkap Salam.

Tahun 1956, ia ditugaskan sebagai pengawal pribadi R Ema Brata Kusuma, tokoh masyarakat Jawa Barat yang juga perancang Kebon Binatang Bandung. Ema dikenal tokoh penggerak pencak silat. Gerakan pencak silat mengingatkan Salam pada gerakan tari Ketuk Tilu. Ia pun lantas berinisiatif membawa pemain rebab, kendang, dan gong untuk mengiringi para pesilat. Sejak saat itulah kemudian timbul gagasan untuk membentuk kelompok kesenian Ketuk Tilu.

Sebelumnya, sejak menetap di Bandung, malam-malam Salam sering berjalan kaki menelusuri jalan setapak tempat kerbau lewat hendak ke sawah. Jalan itu menghubungkan jalan dari rumahnya di Geger Kalong menuju Sukajadi. Di Sukajadi, sering sekali digelar acara Ketuk Tilu. Bisa dikatakan saat itu adalah masa kebangkitan Ketuk Tilu setelah dihentikan oleh Jepang pada tahun 1942.

Gurunya dosen

Tahun 1972, Salam diminta berpentas di Kebun Binatang Bandung. Mereka main di lapangan terbuka dekat tempat yang kini dijadikan museum. Salam membentuk kelompok Ketuk Tilu yang anggotanya para jawara dari berbagai daerah. Tujuannya, agar para jawara lebih halus perasaannya. Mereka yang belum bisa menari atau bermain musik diajari olehnya.

Awalnya, Salam dan kawan-kawan berpentas tanpa tenda di hari libur, dan selalu siang hari, di kebun binatang. Jika hujan, terpaksa para niyaga, penari, dan ronggeng berhenti berpentas. “Daripada alat-alat musik kami rusak,” ujar Salam, mengenang.

Lalu, pihak kebun binatang pun memberi tenda sebab Ketuk Tilu amat diminati. Para penonton sering ikut menarikan oray-orayan (ular-ularan) bersama penari Ketuk Tilu sehingga acara menjadi seru. Namun, acara itu kini memang jarang terulang.

Salam kini menjadi guru bagi orang yang meminati kesenian tersebut. Para mahasiswa dan dosen seni tari dari berbagai sekolah seni yang ingin mempelajari Ketuk Tilu pasti datang padanya. “Saya sudah biasa dibangunkan malam-malam oleh para mahasiswa yang hendak ujian,” tuturnya.

Salam diundang ke kampus-kampus untuk membagikan keahliannya. Tak jarang ia bepergian ke berbagai provinsi untuk mengenalkan keseniannya ini. Ia juga mempunyai sejumlah murid dari luar negeri, seperti dari Perancis, Kanada, dan Inggris.

Ia mengaku, uang bukan yang ia cari dari Ketuk Tilu. Dia merasa cukup puas menjadi guru bagi mereka yang meminati kesenian ini.

“Meski saya orang Madura, tetapi diri ini dan anak-cucu hidup di tanah Sunda. Cuma ini yang bisa diberikan orang Madura buat orang Sunda,” ujar ayah 11 anak—semua sarjana—dari tiga istri ini, sambil merapikan ikat sunda di kepalanya. []

Sumber: Kompas.