Matahari musim kemarau di Kampung Golempang tepat berada pada puncaknya. Di gubuk yang merangkap sebagai kandang kambing Uha Juhari berteduh. Sekeliling tanah garapannya yang sudah menjadi gurun ditanami pohon buah naga. “Bulan November nanti akan panen,” ujarnya bersemangat.

Kampung Golempang terletak di Desa Cibeureum Wetan, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Pemandangan di kaki selatan Gunung Tampomas (1.684 meter) itu ironis. Eksploitasi isi perut bumi kampung tersebut berupa pasir dan batu telah menjadikan daerah itu menyerupai mangkuk raksasa, dengan permukaan berupa kerikil dan batu belaka.

Luasnya mencapai ratusan hektar, bahkan mungkin mencapai seribu hektar. Bahan galian pasir dari daerah ini terkenal dengan nama pasir cimalaka. Penggalian bahan galian di daerah ini sudah berlangsung lebih dari sepuluh tahun. Karena lemahnya pengawasan, daerah itu lingkungannya hancur sehingga menyerupai gurun.

Tahun 1986 Uha Juhari kembali dari pengembaraan sebagai transmigran. Ia menyaksikan drama kerusakan lingkungan di daerahnya itu dengan perasaan getir. Di benaknya terbayang keadaan kampungnya di masa lalu. Golempang merupakan tempat kelahirannya, lebih dari 60 tahun lalu. Uha lahir Maret 1946. “Tahun 1940 sampai 1960, Golempang merupakan kampung yang banyak dihuni penduduk,” kata Uha, mengenang masa kecilnya.

Sebagai seorang petani dan merasa masih memiliki sisa-sisa pengalaman melakukan Gerakan Gandrung Tatangkalan (Rakgantang), yakni sebuah gerakan penghijauan, hatinya merasa sedih. “Sebagai murid Mang Ihin, saya sangat prihatin menyaksikan daerah asal saya,” katanya.

Mang Ihin adalah julukan akrab Solihin Gautama Purwanegara, mantan Gubernur Jawa Barat periode 1970-1975. Pada masa pemerintahannya, ia gencar melakukan penghijauan melalui Rakgantang yang melibatkan seluruh masyarakat Jawa Barat.

Dicemooh

Uha sama sekali tidak membayangkan dirinya bakal menjadi pendekar lingkungan. Pada mulanya, ia hanya ingin menebus kepedihan hatinya, ketika tahun 1987 membeli sebidang tanah seluas 100 tumbak (1.400 meter persegi). “Semua orang, termasuk keluarga saya, mencemoohkan,” ujarnya. Mereka tidak habis pikir, untuk apa tanah yang sudah gersang itu dibeli.

Akan tetapi, tekad Uha sudah bulat untuk menghijaukan tempat kelahirannya. Daerah yang gersang itu kemudian ditanami pohon cebreng atau dadap inggris. Cebreng merupakan akronim dari bahasa Sunda, cleb artinya ditanam, kemudian breng berarti tunas-tunasnya muncul.

Uha mula-mula memelihara ayam. Kemudian ia beralih menanam semangka. Tetapi, hasilnya tidak terlalu bagus. Setelah panen, ia membawa hasil panennya ke Depok. Selama dua hari menunggui dagangannya, inspirasinya muncul tatkala melihat mobil-mobil pikap yang mengangkut kambing dari arah Bogor menuju Jakarta.

Ternak itu sangat mengganggu pikirannya. “Kambing?” Ia berpikir keras, mengapa tidak banting setir? Apalagi daun cebreng yang ditanamnya merupakan makanan yang disukai ternak kambing.

Dengan modal awal Rp 105.000 yang dia gunakan untuk membeli sepasang kambing pejantan dan betina, serta dua ekor lainnya yang dipelihara berdasarkan sistem paro dari petani lainnya, Uha memulai usahanya memelihara kambing sejak Februari 1994. Ternyata setelah dua tahun, jumlahnya sudah 35 ekor. Kini ternak peliharaannya sudah lebih dari seratus ekor. Lantaran banyak ternak peliharaannya, ia dijuluki “Uha Kambing”.

Mengubah gurun

Cita-cita ayah lima anak dan kakek tujuh cucu ini bukan hanya menjadi peternak kambing. Dengan beternak kambing, ia berharap bisa mewujudkan impiannya sejak awal, yakni mengembalikan keadaan kampung asalnya yang sudah menyerupai gurun menjadi daerah yang hijau. “Saya ingin menyelamatkan tiga mata air yang masih terdapat di kampung ini,” ujarnya penuh semangat.

Mengembalikan tingkat kesuburan tanah yang sudah rusak dan gersang bukanlah pekerjaan ringan. Sepanjang hari, Uha menghabiskan waktunya bekerja di bawah terik matahari yang menyengat, sehingga berpengaruh pada penglihatannya.

Selain cebreng yang dijadikan makanan ternaknya, lahannya ditanami sengon, jati, petai, avokad, dan beberapa jenis tanaman lainnya. Untuk memudahkan pertemuan dengan petani lainnya yang tergabung dalam Kelompok Simpay Tampomas, ia membangun balai pertemuan.

Berkat kerja keras yang tak kenal lelah selama lebih dari lima tahun, kini lahan miliknya seluas kurang lebih dua hektar sudah tidak segersang dulu lagi. Petani sederhana dengan cita-cita yang luhur itu berhasil mengajak dan menggerakkan petani lainnya sehingga keadaan serupa sekarang ini bisa kita jumpai pada lahan milik petani-petani lainnya yang menjadi anggota Kelompok Simpay Tampomas.

Pantas jika wilayah kampung tersebut dijadikan proyek percontohan rehabilitasi lahan kritis sehingga kelompok tani di desa itu memperoleh fasilitas dan pendampingan teknis serta kelembagaan dari petugas yang menangani rehabilitasi hutan dan lahan. []

Sumber: Kompas.