March 2007


Tubuhnya kecil dan tampak ringkih, tetapi tidak semangatnya. Tugas Slamet Rahayu (59) adalah memastikan pengobatan tuberkulosis dijalani penderita sampai selesai. Untuk itu ia harus mendatangi para penderita yang mangkir kontrol dan ambil obat sebelum dinyatakan sembuh oleh dokter.

Pria asal Muntilan, Jawa Tengah, ini bekerja di Poliklinik Pemberantasan Penyakit Paru milik Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Jakarta di Jalan Baladewa, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, sejak tahun 1978. (more…)

Advertisements

Desa Betung masih sangat miskin sekitar 15 tahun lalu. Adalah usaha ukiran akar dan kayu yang membangunkan perekonomian di sana. Jafar (49) merintisnya.

Desa di Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, itu semula hanyalah hutan karet dan pinang. Penduduknya merupakan buruh-buruh penyadap karet milik tauke (juragan) dan mengandalkan Sungai Batanghari untuk mendapatkan ikan untuk lauk-pauk sehari-hari. Ketergantungan terhadap alam sangat lekat.

Saat ini pun ketergantungan tersebut masih hidup. Hanya saja, sudah banyak yang berusaha mandiri, tanpa bergantung pada lahan karet pemilik modal. Mereka beralih memanfaatkan akar dan kayu untuk kerajinan ukiran. (more…)

Perahu bagi nelayan Aceh adalah jiwa mereka. Dan, para tukang adalah “pencipta” yang menitipkan ruhnya pada perahu-perahu itu. Selama bertahun-tahun tradisi ini terjaga. Namun, orientasi ekonomi mulai mengubahnya. Kebanyakan tukang perahu, kini sekadar perajin yang mengejar target produksi atau order dari kontraktor.

Menurut Denys Lombard, dalam bukunya Kerajaan Aceh Zaman Iskandar Muda (1607-1636), seorang tukang pembuat perahu termasuk golongan utama dalam masyarakat Aceh zaman dulu. Para tukang ini bertugas membuat kapal nelayan, yang merupakan profesi utama masyarakat Aceh pesisir. Para tukang ini pula yang bertugas membuat kapal- kapal perang, yang menjadikan Kesultanan Aceh disegani sebagai penguasa Selat Malaka dan pantai barat Sumatera. (more…)

Bulu matanya penuh embun karena berjalan selama 1,5 jam sejak subuh. Kampung dan sekolahnya berjarak sekitar lima kilometer. Sesampai di sekolah, ia kedipkan mata dan embun-embun yang menggantung itu membasuh matanya. “Segar sekali,” kata Mohamad Zaini Alif (31) mengenang masa SMP.

Tak hanya embun yang menemani lelaki dari Kampung Bolang, Desa Cibuluh, Kecamatan Tanjung Siang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, ini berangkat sekolah, pepohonan karet dan kluwak di kebun-kebun pun menjadi bagian hidup peneliti mainan tradisional ini. (more…)

Sentra tenun ikat Ina Ndao di Jalan Gunung Raja II, Naikoten I Kupang, tidak pernah sepi. Puluhan orang setiap hari datang dan pergi dari rumah, yang dilengkapi ruang produksi, toko, asrama, dan kelompok magang.

Mereka berasal dari 16 kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Timur (NTT) dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk belajar dan meneliti tenun ikat.

“Program pelatihan dari kabupaten, diarahkan ke sentra Ina Ndao. Jumlahnya antara 20-25 orang per kabupaten, secara bergilir. Petugas terus mendampingi mereka selama di kampung, setelah dapat pelatihan,” kata Dorce Lussi, pengelola tenun ikat Ina Ndao di Kupang, pertengahan Februari. (more…)

Hari beranjak siang saat bidan Eros Rosita (35)—atau biasa dipanggil bidan Ros—memulai perjalanan ke kampung-kampung Baduy Luar dari Kampung Kaduketug, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Di pundaknya tergantung kotak pendingin berisi vaksin dan vitamin.

Ia juga menenteng peralatan lain seperti alat pengukur tekanan darah, stetoskop, dan funduskop. Jalan yang dilalui licin karena terguyur hujan tadi malam.

Bagi mereka yang terbiasa dengan trotoar kota yang datar, perjalanan sepanjang empat kilometer ke Kampung Gajeboh itu terasa cukup berat. Jalan setapak yang dilalui naik-turun menyusuri punggung bukit berbatas jurang dangkal. Kadang- kadang harus melewati kebun buah atau ladang padi penduduk. Batu-batu yang disusun seperti anak tangga pada bagian jalan yang naik-turun cukup membantu, walau napas tetap memburu saat menapakinya. (more…)