Sentra tenun ikat Ina Ndao di Jalan Gunung Raja II, Naikoten I Kupang, tidak pernah sepi. Puluhan orang setiap hari datang dan pergi dari rumah, yang dilengkapi ruang produksi, toko, asrama, dan kelompok magang.

Mereka berasal dari 16 kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Timur (NTT) dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk belajar dan meneliti tenun ikat.

“Program pelatihan dari kabupaten, diarahkan ke sentra Ina Ndao. Jumlahnya antara 20-25 orang per kabupaten, secara bergilir. Petugas terus mendampingi mereka selama di kampung, setelah dapat pelatihan,” kata Dorce Lussi, pengelola tenun ikat Ina Ndao di Kupang, pertengahan Februari.

Sejak berdiri 1991, sentra tenun ikat Ina Ndao telah melatih ribuan orang. Pelatihan yang diberikan adalah kelenturan kain, kerapian, dan pewarnaan.

Sentra Ina Ndao setiap bulan memproduksi 40 lembar kain, yang dihasilkan 20 penenun tetap. Belum termasuk produksi dari para binaan di 16 kabupaten/kota yang berjumlah ratusan lembar setiap bulan.

Satu lembar kain dihargai dari bahan baku, lama proses penenunan, keindahan, jenis benang, dan pewarnaan. Ada benang yang cepat luntur meski bahan baku dari pabrik. Harganya bervariasi, Rp 30.000-Rp 200.000 per lembar.

Kain berukuran 150 cm x 70 cm dikerjakan seorang perajin selama 3-4 hari. Pengerjaannya dari pagi sampai sore hari. Akan tetapi, sering hanya dikerjakan 2-3 jam per hari, sehingga satu kain butuh waktu pengerjaan sampai tiga bulan.

Sudah ribuan anak binaan yang sukses di kampung-kampung. Meski demikian, Ina Ndao terus memberi pendampingan dan binaan. Ini untuk menjaga kualitas, keindahan, keunikan dan kepercayaan pasar.

Setiap bulan Ina Ndao mendatangkan bahan baku benang dari Surabaya, 1-3 kontainer untuk kebutuhan selama 3-4 bulan. Bahan baku ini lalu dikirim ke setiap perajin di daerah binaan Ina Ndao. Bahan baku benang kapas diproses di Ina Ndao, kemudian dikirim ke peminat.

Dorce Lussi mengungkapkan, sentra tenun ikat Ina Ndao mulai bernapas saat krisis moneter, 1997. Saat itu ada pesanan dari Ikatan Wanita Buruh Indonesia sebanyak 200 lembar dengan harga Rp 500.000.

Pemerintah Provinsi NTT mewajibkan baju tenun ikat khas NTT bagi para PNS setiap Kamis, dan baju rompi bagi para siswa tingkat TK hingga SMA di semua wilayah NTT. Pesanan pun terus meningkat dari tahun ke tahun.

Sentra ini sudah mengembangkan ratusan usaha kecil dan menengah (UKM) di berbagai bidang, dengan modal Rp 1 juta- Rp 5 juta per UKM. Berkat pendampingan, dari Ina Ndao, semua UKM itu tetap bertahan sampai hari ini, dan mempekerjakan ratusan orang.

Setiap hari, puluhan mahasiswa dari sekitar 30 perguruan tinggi di Kupang melakukan penelitian di sentra Ina Ndao. Ada di antara mereka yang belajar menenun di situ, dan tinggal bersama pekerja setempat.

Pasaran tenun ikat NTT sudah merambah ke sejumlah provinsi di Indonesia seperti Bali, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Papua, dan Kalimantan. Bahkan, beberapa daerah di Papua minta tenaga dari NTT untuk mengadakan pelatihan kepada kaum perempuan di pedalaman Papua, tetapi baru tahap penjajakan.

Sekitar 150-300 lembar tenun ikat setiap bulan dikirim ke daerah-daerah tadi untuk interior rumah, mas kawin, koleksi maupun busana. Umumnya pesanan kain jenis tenun ikat dibuat dari kapas, sedangkan untuk busana buatan pabrik.

Dorce Lussi, kelahiran Ndao, 26 Juli 1962 itu bertekad merambah ke dunia mode guna mengangkat bakat remaja NTT. Penampilan mereka tak kalah dengan perempuan di kota lain. Hanya karena keterbatasan dana dan promosi, bakat-bakat itu tidak dikembangkan.

Istri Yus Lussi dan ibu dari Helen Lussi serta Hanny Lussi ini mempekerjakan hampir 100 karyawan dengan gaji Rp 500.000-Rp 2 juta per bulan. Mereka adalah lulusan sarjana dan SMA yang berminat di bidang tenun ikat dan UKM lain.

Sekitar 30 orang hasil binaannya sudah mandiri. Tetapi, pihak Ina Ndao terus memantau proses tenun sampai akhir, untuk mempertahankan mutu dan kualitas tenun. Satu UKM memproduksi kain tidak berkualitas, maka rusaklah citra tenun NTT secara keseluruhan.

Dorce sudah mendatangi lima negara untuk mengikuti pameran, baik dibiayai pemerintah daerah, atas undangan penyelenggara, maupun usaha sendiri. Kain tenun ikat NTT dalam berbagai ajang perlombaan selalu menempati posisi pertama atau kedua.

Tahun 2006 dalam pameran kerajinan tenun nasional, NTT menempati posisi kedua, yang diwakili jenis tenun aitupas dari Timor Tengah Selatan.

Sentra Ina Ndao berawal dari kegiatan menenun di rumah bersama sang mama, Nelci Ndun (alm). Ndun menjanda setelah suaminya Mateus Lole meninggal dunia, ketika Lussi berusia 3 bulan. Sebagai anak tunggal, ia dibesarkan oleh mamanya dari hasil menenun.

“Setelah selesai menenun, Mama bawa ke pasar di Ndao. Kain ditukarkan dengan gula, jagung, dan pisang untuk kami berdua. Saya belajar dari keuletan Mama untuk menenun sampai kami pindah ke kota Kupang mengikuti suami yang kerja sebagai pegawai negeri sipil di Kupang,” tutur Lussi.

Ia ingat pesan mamanya: jangan tinggalkan budaya asli. Dalam tradisi NTT, setiap perempuan tidak boleh melupakan keterampilan menenun.

Bagi perempuan NTT, menenun merupakan simbol kecantikan, keterampilan, kelemahlembutan, kesabaran, dan kejujuran. Semua sifat perempuan tergambar di sana. Hampir 95 persen kegiatan menenun di NTT dijalankan oleh kaum perempuan. []

Tentang Dorce Lussi
Nama: Dorce Lussi
Lahir: Ndao, 26 Juli 1962
Pendidikan: Lulus SMP Rote 1979
Kegiatan:

  • Pengelola Sentra Tenun Ikat Ina Ndao sejak 1991.
  • Pameran di lima negara, atas biaya pemerintah, diundang penyelenggara, atau biaya sendiri.
  • Memproduksi 40 lembar kain tenun ikat per bulan.
  • Sebanyak 95 persen penggarapnya perempuan.

Sumber: Kompas.