Desa Betung masih sangat miskin sekitar 15 tahun lalu. Adalah usaha ukiran akar dan kayu yang membangunkan perekonomian di sana. Jafar (49) merintisnya.

Desa di Kecamatan Pemayung, Kabupaten Batanghari, Provinsi Jambi, itu semula hanyalah hutan karet dan pinang. Penduduknya merupakan buruh-buruh penyadap karet milik tauke (juragan) dan mengandalkan Sungai Batanghari untuk mendapatkan ikan untuk lauk-pauk sehari-hari. Ketergantungan terhadap alam sangat lekat.

Saat ini pun ketergantungan tersebut masih hidup. Hanya saja, sudah banyak yang berusaha mandiri, tanpa bergantung pada lahan karet pemilik modal. Mereka beralih memanfaatkan akar dan kayu untuk kerajinan ukiran.

Jafar, pria kelahiran Desa Betung, 12 November 1957, merintis usaha ukiran akar dan kayu ini pada tahun 1992. Ia tadinya cuma buruh ukir kayu pada sebuah perusahaan kecil di Kota Jambi. Selama tiga tahun mendapat gaji tak memadai, Jafar memutuskan keluar, pulang kampung.

Di tengah kebingungannya mendapatkan pekerjaan baru, saat berjalan-jalan masuk hutan, ia menemukan banyak akar pohon tembesu, sisa penebangan kayu tersisa dalam tanah. Tebersit ide untuk memanfaatkan akar-akar tersebut. Ia pun menggali salah satu akar, lalu mengangkutnya ke rumah dengan sebuah gerobak. Setelah memiliki sejumlah alat pesanan dari pandai besi, Jafar mulai memahat akar itu. Hasilnya, adalah kursi-kursi jongkok, bulat berbentuk ukiran di pinggirnya.

Suami dari Senen (40), dan ayah empat anak ini, membawa hasil pahatannya ke pasar dengan gerobak dorong. Jualannya laku. Pulang dalam perasaan gembira, Jafar langsung masuk hutan lagi dan kembali menggali akar-akar sisa tebangan lainnya. Ia pun memberanikan diri coba-coba berkreasi sehingga jadilah asbak, tempat buah, dan set kursi meja. Barang-barang itu mulai dipajang di depan rumahnya, di tepian Jalan Jambi-Muaro Bulian Km 29, Kabupaten Muaro Jambi. Karena semakin banyak hasil pahatannya yang dipajang, mulai mampirlah orang-orang pendatang yang kebetulan lewat jalan tersebut. Usahanya makin berkembang.

Rupanya kemahiran ukir akar tembesu mulai dilirik penduduk lainnya. Jafar membuka diri ketika sejumlah warga ikut menggali akar pohon, lalu membawa ke rumahnya. Mereka belajar memahat pada dirinya. Hingga ketika semakin banyak warga yang mulai membuka usaha yang sama, desa itu pun menjadi lebih hidup. Sepanjang jalan lintas Sumatera itu ramai dikunjungi pembeli.

Setidaknya ada 40 hingga 50 kios didirikan untuk memajang produk-produk akar ukiran. Perajin-perajin baru tersebut awalnya adalah pekerja kebun karet yang diupah sangat murah oleh para tauke. Maka, ketika usaha itu laris manis, banyak dari mereka yang berangsur meninggalkan kebun karet.

“Sejak tahun 1994 desa kami jadi ramai dikunjungi orang, bahkan ada pembeli dari Bali, Korea, dan Eropa,” tuturnya.

Ia ingat betul, ada orang Korea membeli produk-produknya sampai penuh dua truk, langsung diangkut sekaligus. Pada masa-masa itu volume pembelian sebesar ini dianggap sangat hebat.

Dalam perjalanannya, Jafar mengganti akar dengan kayu rengas, yang di kebunnya sendiri ada seluas empat hektar, yang masih banyak tersedia. Ini karena ketersediaan akar sisa tebangan pohon-pohon tua semakin terbatas.

Meski menggunakan kayu rengas, sentra kerajinan rintisannya lebih dikenal dengan nama Industri Kayu Ukir Betung karena nama desa itu lebih dikenal ketimbang nama kayunya.

Salah satu keunikan hasil pahatannya adalah jalinan ukir yang tak terputus. Setiap produk menjadi sebuah senyawa karena saling terhubung. Memang, membuatnya jauh lebih sulit. Adapun bentuk ukirannya lebih mirip ukiran kayu Jepara, dengan nuansa alam yang dominan. Kursi tamu, misalnya, dipahat bergelombang seperti bentuk akar yang tak beraturan. Ada juga hasil pahatan bermotif binatang, seperti harimau, ular, naga, buaya, dan ikan.

Menurut Jafar, untuk menyelesaikan satu set kursi dan meja ukir, ia butuh waktu satu minggu karena memang cukup rumit pengerjaannya. Ia sendiri memilih kayu rengas karena warna dagingnya lebih lembut dan seratnya halus.

Pada 2002 Sungai Batanghari yang melewati desa Jafar meluap hingga membanjiri gerai produksinya. Kayu-kayu hasil ukiran habis dirusak genangan air setinggi hampir satu meter di rumah-rumah milik warga. Saat itu Jafar hampir putus asa.

Namun, ia akhirnya memutuskan kembali meneruskan usaha tersebut. “Usaha ini sudah berkembang kalau ditinggal begitu saja karena keputusasaan kami, desa ini bisa kembali meredup,” tuturnya.

Peristiwa bom Bali dan berlanjut dengan kenaikan harga bahan bakar minyak membuat sebagian pelanggannya menghentikan pemesanan ukiran kayu betung. Sentra ini tetap bertahan meski tak lagi sedinamis 12 atau 10 tahun yang lalu.

Adalah keuletan yang membuat usaha ukir kayu betung tetap bertahan hingga kini. Akar dan kayu rengas tidak lagi sebanyak dahulu sehingga Jafar harus masuk lebih dalam ke hutan untuk memperolehnya.

Dibutuhkan perjalanan sekitar 10 kilometer dari rumahnya untuk mendapat akar sisa tebangan. Akar dan kayu itu lalu diangkut dengan gerobaknya, sendirian, sehingga saking jauhnya jarak tempuh Jafar bisa seharian baru sampai di rumah panggung yang sederhananya yang terbuat dari kayu rengas. Pekerjaan ini memang jadi lebih berat, tetapi ia tetap mengerjakan semuanya sampai sekarang.

Mungkin memang karena tak ada pilihan lain bagi dirinya untuk memperoleh uang. Namun, kesetiaan menjaga keberlanjutan usaha rakyat ini sesungguhnya tercermin lewat keuletannya. []

Tentang Jafar

Nama: Jafar

Tempat dan tanggal lahir: Jambi, 12 November 1957

Istri: Senen

Anak-anak: Liana (27), Linda (22), Sopiah (20), dan Oding (15).

Pendidikan: Sekolah dasar (tidak selesai)

Sumber: Kompas.