Perahu bagi nelayan Aceh adalah jiwa mereka. Dan, para tukang adalah “pencipta” yang menitipkan ruhnya pada perahu-perahu itu. Selama bertahun-tahun tradisi ini terjaga. Namun, orientasi ekonomi mulai mengubahnya. Kebanyakan tukang perahu, kini sekadar perajin yang mengejar target produksi atau order dari kontraktor.

Menurut Denys Lombard, dalam bukunya Kerajaan Aceh Zaman Iskandar Muda (1607-1636), seorang tukang pembuat perahu termasuk golongan utama dalam masyarakat Aceh zaman dulu. Para tukang ini bertugas membuat kapal nelayan, yang merupakan profesi utama masyarakat Aceh pesisir. Para tukang ini pula yang bertugas membuat kapal- kapal perang, yang menjadikan Kesultanan Aceh disegani sebagai penguasa Selat Malaka dan pantai barat Sumatera.

Seorang tukang harus memilih sendiri kayu terbaik dari hutan yang akan digunakan untuk bahan perahu. Setelah dipilih hari terbaik, pohon itu baru boleh ditebang. Jatuhnya batang kayu akan menentukan kayu itu layak dipakai atau tidak. Ada perhitungan rasional, sekaligus ritual, yang mesti dilakukan sejak proses memilih kayu di hutan untuk lunas hingga saat perahu untuk pertama kali menyentuh air laut.

Saat ini, ritual itu sudah banyak ditinggalkan. Namun, di kawasan pesisir barat Aceh jejaknya masih bisa ditemukan. Para tukang perahu yang kami temui di Aceh Selatan dan Aceh Barat Daya, misalnya, masih menerapkan aturan ini. Salah satunya adalah Tukang Atim (67) dari Desa Pante Raja, Kecamatan Mangging, Kabupaten Aceh Barat Daya. Berkat kepiawaian membuat perahu, istilah ‘tukang’ pun akhirnya melekat menjadi bagian dari nama sang empu.

Lelaki ini sudah membuat perahu sejak 1965, dimulai dengan magang pada Tukang Kamar, pemilik galangan kapal terbesar di Meulaboh pada era itu. Galangan kapal ini membuat boat pesanan dari berbagai daerah di Aceh, seperti Pulau Sinabang, Banda Aceh, Aceh Selatan, dan Singkil. Perahu terbesar yang pernah dibuatnya adalah kapal penyeberangan Labuhan Haji-Simeulue berbobot 260 ton.

Pada tahun 1980, dia pulang kembali ke desa dan membuat perahu sendiri. Sejak saat itu pula Tukang Atim telah mendidik puluhan tukang perahu di wilayah Aceh Barat Daya dan Aceh Selatan.

Menurut Atim, seorang pembuat perahu harus memiliki tiga hal: panggilan, mengerti tentang kayu, dan memiliki keahlian pertukangan. Namun, yang terpenting adalah panggilan. “Tanpa adanya panggilan, orang mungkin bisa membuat perahu, tapi akan banyak salah. Perahu yang dibuat tidak membawa berkah dan bisa mengancam nasib nelayan pemakai,” kata dia.

Tukang Atim yakin, saat membuat perahu seorang tukang harus benar-benar menjiwainya. Dia harus tahu betul kayu yang dipakai, diambil dari mana, dan bagaimana jatuhnya saat ditebang. “Nasib nelayan di laut bergantung pada perahu yang kita buat,” ujar dia.

Ilmu atau pengetahuan tentang kayu dibutuhkan untuk menghasilkan perahu yang kuat menahan ombak selama bertahun-tahun. Tiap jenis kayu punya fungsi masing-masing. Misalnya, untuk lunas biasa dipakai kayu seumantok atau damar laut, untuk dinding dari meranti, dan gading-gading atau rusuk kapal dari bak mane.

“Dulu, tukang harus memilih sendiri kayu di hutan untuk bahan perahunya, terutama kayu untuk lunas. Setelah memilih kayu untuk lunas, dia harus mengayunkan kampak untuk pertama kali ke kayu itu. Pecahan pertama kayu yang lepas akibat kapak ini harus disimpan dulu,” tutur Tukang Atim.

Kemudian, seorang tukang akan menunggu “tanda” apakah pohon itu boleh ditebang atau tidak. Jika ada tanda baik—bisa dengan mimpi—berarti pohon siap ditebang.

Di sekitar pohon yang akan ditebang ini harus dibersihkan dulu, sebab kayu yang ditumbangkan harus langsung mengenai tanah. Sisi kayu yang jatuh mengenai tanah ini nantinya saat dijadikan lunas, yang juga harus berada di sisi bawah. Tidak boleh terbalik. Jatuhnya kayu saat ditebang juga harus jauh dari pangkal, tak boleh menempel. Kayu seperti ini bisa membahayakan kalau dipakai untuk membuat perahu, bisa menimbulkan korban atau mahantam banie.

“Kalau terbalik, perahu juga rawan terbalik saat di laut. Tukang harus bisa membaca tanda-tanda alam,” ungkap dia.

Interaksi dengan pemilik

Selain mengetahui betul kondisi kayu yang dipakai untuk bahan perahu, seorang tukang juga harus membangun komunikasi terus-menerus dengan calon pemilik perahu. “Kita harus mengetahui kemauan calon pemilik perahu, sehingga perahu yang dibuat betul-betul cocok dengan mereka,” kata Tukang Atim.

Untuk menentukan ukuran perahu, menurut Tukang Atim, dia memiliki rumus yang dipegang, dan diwariskan secara turun-temurun. Misalnya, jika pemesan meminta panjang lunas perahu 20 meter, berarti lebar perahu 4,5 meter dengan kedalaman 1,7 meter. Jika panjang lunas 25 meter, berarti lebar perahu 6 meter, dan kedalaman 2 meter.

Para tukang perahu sepertinya juga memiliki angka-angka emas, seperti golden section, temuan Leonardo Da Vinci dalam menentukan proporsi rumah terbaik. Proporsi terbaik untuk membuat perahu ini pun biasa diwariskan secara turun- temurun kepada calon tukang yang magang.

Tukang Atim menambahkan, setelah perahu selesai, ada upacara peusijuk atau tepung tawar. Dimulai dengan doa bersama yang dipimpin tokoh agama, dan syukuran dengan mengundang anak yatim atau fakir miskin di kampung, baru kemudian perahu ditolak ramai-ramai ke laut oleh perwakilan warga.

Tukang Mukhtar (62) dari Desa Samadua, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, juga mengaku masih menerapkan tradisi untuk membuat perahu. Mukhtar membuat boat sejak usia 15 tahun.

Salah satu kelebihan Mukhtar adalah mampu melengkungkan papan untuk perahu tanpa dipanaskan atau diklem. Dia cukup menggunakan tali yang dikencangkan, dan mengurut papan itu ditambah sedikit “ilmu” tentang kayu. Mukhtar tak pernah memakai skala atau gambar saat membuat perahu, sejak dari memotong lunas hingga selesai. Semua ia lakukan dengan intuisi, yang telah bertahun-tahun terasah.

Kemampuan Mukhtar melengkungkan perahu tanpa dipanaskan dan tanpa diklem ini diakui oleh tukang-tukang lain di galangan kapal di kawasan Labuhan Haji, Aceh Selatan. Bahkan, beberapa di antara teman- temannya menyatakan bahwa Mukhtar bisa memanjangkan kayu tanpa disambung dan dipendekkan tanpa dipotong.

Seperti Tukang Atim, bagi Mukhtar yang terpenting dalam proses pembuatan boat adalah proses pemilihan kayu. “Tak boleh menebang perahu, memotong atau melintang arah aliran air atau istilahnya kalang batang. Kayu yang membendung arah aliran air ini adalah kayu yang buruk,” kata dia.

Namun, aturan-aturan tersebut tak bisa dilakukan oleh Mukhtar saat menerima order membuat perahu bantuan untuk nelayan di kawasan Labuhan Haji, Aceh Selatan, di bawah koordinasi sebuah kontraktor. “Semua kayu sudah disediakan oleh perusahaan. Saya tinggal membuatnya, padahal tak semua kayu ini sebenarnya boleh dipakai,” papar dia.

Mukhtar juga mengaku tak tahu untuk siapa perahu-perahu yang dibuatnya ini, sehingga prinsip komunikasi dengan calon pemilik diabaikan. Ia mengaku dihadapkan pada dilema, antara prinsip pertukangan yang diyakininya dan tuntutan untuk membuat perahu sesuai permintaan dan aturan kontraktor.

Tsunami sebenarnya menjadi berkah tersendiri bagi para tukang perahu di Aceh. Kebutuhan perahu yang sangat tinggi untuk menggantikan sekitar 9.000 perahu nelayan yang hancur akibat tsunami, membuat para tukang perahu di Aceh kebanjiran pesanan. Namun, di sisi lain hal ini juga mempercepat lunturnya budaya ritual adat saat membuat perahu. Kebutuhan menghasilkan perahu dengan jumlah banyak dalam tempo yang singkat, membuat sebagian tukang memangkas ritual-ritual itu.

Zaman yang berubah

Sebelum tsunami, lunturnya tradisi ini sebenarnya sudah mulai terasa. Terutama dialami para tukang muda. Abdul Jamal (40), salah seorang pembuat perahu dari Susoh, mengatakan, perahu yang dibuatnya semata berdasarkan perhitungan logis yang cermat.

“Saya tak lagi memakai aturan-aturan adat itu. Tapi saya tetap memakai perhitungan-perhitungan yang cermat. Kuncinya, keseimbangan antara panjang, lebar, dan tinggi perahu. Kayu yang kami gunakan juga yang terbaik, yaitu yang tua dan tak ada cacat,” ujar Jamal.

Jamal mengaku pernah membuat perahu dengan kayu (bak) mane yang diambil dari kuburan yang dikeramatkan warga. “Sampai sekarang perahu itu masih bagus. Tapi pemilik perahu tak pernah tahu bahwa kayu itu dari kuburan. Kalau tahu mungkin dia juga tak mau,” kata dia.

Abdul Jamal mewakili generasi tukang perahu muda dari Aceh yang mencoba menjawab tuntutan zaman yang serba cepat. Namun, seiring dengan itu, sebuah tradisi yang sekian abad dipegang mulai pupus, salah satunya adalah hilangnya jalinan kepercayaan antara tukang dan pemilik perahu. []

Sumber: Kompas.