Hari beranjak siang saat bidan Eros Rosita (35)—atau biasa dipanggil bidan Ros—memulai perjalanan ke kampung-kampung Baduy Luar dari Kampung Kaduketug, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak. Di pundaknya tergantung kotak pendingin berisi vaksin dan vitamin.

Ia juga menenteng peralatan lain seperti alat pengukur tekanan darah, stetoskop, dan funduskop. Jalan yang dilalui licin karena terguyur hujan tadi malam.

Bagi mereka yang terbiasa dengan trotoar kota yang datar, perjalanan sepanjang empat kilometer ke Kampung Gajeboh itu terasa cukup berat. Jalan setapak yang dilalui naik-turun menyusuri punggung bukit berbatas jurang dangkal. Kadang- kadang harus melewati kebun buah atau ladang padi penduduk. Batu-batu yang disusun seperti anak tangga pada bagian jalan yang naik-turun cukup membantu, walau napas tetap memburu saat menapakinya.

Kami iri dengan anak-anak Baduy yang berjalan lincah, nyaris berlari sambil mengangkut pikulan penuh durian hasil panen. Beberapa warga Baduy lanjut usia berjalan ringan mendahului setelah bertegur sapa dengan kami.

Kelelahan tidak tampak pada bidan Ros. Ia tetap bersemangat sambil menjawab pertanyaan sepanjang jalan. Lulusan sekolah perawat kesehatan ditambah dengan pendidikan D1 Kebidanan tahun 1994 ini bertugas di Kabupaten Lebak sejak 1997.

Ros yang bersuamikan seorang guru SMP Leuwidamar itu tinggal di Kampung Ciboleger, tepat di samping Puskesmas Cisimeut, bersama dua anaknya. Kampung Ciboleger yang bisa ditempuh sekitar dua jam bermobil dari Rangkasbitung, ibu kota Kabupaten Lebak, berbatasan dengan Kampung Kaduketug, pintu masuk Desa Kanekes, tanah ulayat masyarakat Baduy.

Wilayah tugas Ros adalah Desa Bojong Menteng dan Desa Kanekes. Desa Kanekes terdiri atas 58 kampung yang tersebar di sekitar hutan lindung. Kampung terjauh adalah Cikeusik di wilayah Baduy Dalam, berjarak sekitar 25 km dari Ciboleger. Untuk sampai ke kampung itu perlu setidaknya enam jam jalan kaki dari Ciboleger, melintasi hutan yang masih perawan. Namun, karena harus mampir melakukan kegiatan posyandu di sejumlah kampung yang dilewati sebelum sampai Cikeusik, perjalanan tidak cukup sehari sehingga harus menginap.

Tugas Ros adalah memberi pelayanan kesehatan, termasuk keluarga berencana, membina posyandu, serta membantu persalinan sulit yang tidak mampu ditangani paraji atau dukun bayi. Sejak tahun 2005, bidan Ros dibantu seorang perawat laki-laki, Dede, karena Ros mendapat beasiswa dari pemerintah untuk melanjutkan kuliah di Akademi Kebidanan Rangkasbitung.

Ada tujuh posyandu di Kanekes. Namun, hanya empat yang ada di Baduy Luar yang aktif melakukan penimbangan anak balita dan pemeriksaan ibu hamil. Adapun posyandu lain yang terletak di Baduy Tengah dan Baduy Dalam hanya aktif saat pemberian imunisasi.

Karakter warga Baduy, terutama Baduy Dalam, yang masih kuat tradisinya sesuai penuturan Saleh Danasasmita dan Anis Djatisunda dalam buku Kehidupan Masyarakat Kanekes (1986) adalah masyarakat yang mandiri, pantang menyusahkan orang lain. Karena itu, mereka akan menolak pemberian orang lain, termasuk program pemerintah —dalam hal ini program kesehatan—jika mereka merasa masih bisa menyelesaikan masalahnya sendiri.

Kampung-kampung Baduy Dalam sulit dicapai. Perjalanan untuk melaksanakan posyandu sambil membawa vitamin A, biskuit, dan susu perlu waktu lebih dari sehari. Apalagi perjalanan naik-turun punggung bukit dan menembus hutan itu hanya bisa dengan jalan kaki, tanpa bantuan tukang angkut barang.

Biasanya Ros pergi bersama Dede. Karena itu ia hanya sanggup masuk ke kampung-kampung Baduy Dalam dua bulan sekali. Kalau warga Baduy Dalam perlu oralit, susu, atau biskuit, sebelum Ros berkeliling, seorang warga Cibeo, Mursid (30-an), akan turun dan minta pada bidan Ros.

Menurut Ohan Suhanda, Kepala Puskesmas Cisimeut, untuk melakukan imunisasi dan pengobatan—terutama frambusia (patek)—di kampung-kampung Baduy Dalam, tim kesehatan Puskesmas Cisimeut masih mengandalkan Rasyidi (56), ayah Ros yang menjadi petugas kesehatan sejak 1974 dan telah dipercaya para tetua adat serta warga Kanekes. Karena itu, walau sudah pensiun, Rasyidi masih membantu pelayanan kesehatan di wilayah Baduy Dalam.

Kampung pertama di Baduy Luar yang kami singgahi adalah Kampung Balingbing. Sarpin (36), penduduk setempat yang menjadi kader posyandu bersama istrinya, Misnah, dan dua perempuan kader lain tampak sibuk mempersiapkan peralatan untuk penimbangan anak balita serta makanan tambahan yang hendak dibagikan.

Tak lama kemudian para anak balita digendong ibu masing- masing mulai berdatangan. Sarpin pun sibuk menimbang dan mencatat berat badan mereka. Kemudian, bidan Ros meneteskan vitamin A di mulut anak- anak itu. Para bayi mulai menangis ketakutan, sedangkan anak-anak yang lebih besar tenang-tenang saja karena tahu setelah itu mereka akan mendapat segelas bubur kacang hijau dan sebungkus biskuit.

Biskuit didapat dari pembagian Departemen Kesehatan lewat dinas kesehatan setempat. Adapun bubur kacang hijau dibiayai dari uang Inpres Desa Tertinggal (IDT) yang dibagikan ke posyandu Rp 100.000 per tahun, ditambah pemberian sukarela dari insentif yang diterima kader Rp 20.000 per bulan, serta transpor petugas. Sejak 2006 para kader juga dapat seragam.

“Buat saya, jika masyarakat mau berkumpul saat kegiatan posyandu saja saya sudah senang. Tahun 1994, waktu pertama kali bertugas sebagai kader, kami datangi rumahnya saja mereka pada lari,” tutur Sarpin.

Tubuh para anak balita itu cenderung kurus. Misalnya, Sani, yang belum genap dua tahun dalam gendongan ibunya, Tinah (19). Sani masih minum air susu ibu. Makanan Sani sehari-hari, menurut pengakuan Tinah, adalah nasi dengan ikan sepat asin, kadang-kadang tempe atau sayuran seperti daun singkong atau melinjo.

Hal serupa tampak di kampung-kampung lain. Menurut penuturan Sarpin, dari 92 anak balita yang ada di empat kampung (Balingbing, Marengo, Gajeboh, dan Cicakal), ada 39 yang memiliki kartu menuju sehat (KMS). KMS adalah kartu untuk memantau tumbuh kembang anak lewat pencatatan berat badan mereka per bulan. Sesuai catatan Sarpin, pada Januari 2007 ada 36 anak yang ditimbang. Dari jumlah itu, 10 anak naik berat badannya, sisanya tetap atau berat badannya turun.

Berdasarkan data Puskesmas Cisimeut, yang membawahi Desa Kanekes, jumlah seluruh anak balita di Desa Kanekes ada 915 anak, yang ditimbang 869 anak. Sepanjang tahun 2006, tercatat 8 anak mengalami gizi buruk (di bawah garis merah) dan 189 anak berada di bawah garis timbang (gizi kurang).

Untuk meningkatkan status gizi, tutur Ros, biasanya anak- anak itu diberi susu bubuk, bubur, atau biskuit. Pemberian disampaikan setiap dua minggu kepada orangtua anak selama tiga bulan. “Seringkali biskuit atau susu dibagi ke adik atau kakaknya, sehingga anak balita yang kurang gizi sulit naik berat badannya,” tutur Ros.

Status gizi itu tidak terlepas dari pola makan warga Kanekes. Menurut Ros, masih kuat kepercayaan masyarakat bahwa makan telur atau ikan membuat anak menjadi cacingan. Seringkali mereka hanya makan berlauk garam atau tempe saja. Warga Kanekes juga kurang suka mengonsumsi sayuran. Meski diberi contoh, mereka tidak berminat mengikuti.

Bidan dan paraji

Di Kampung Gajeboh, bidan Ros memeriksa kandungan dua ibu hamil di rumah Ambu Rawi, paraji setempat. Ros juga memberikan penyuluhan apa yang harus mereka perhatikan selama kehamilan. Kepada Ambu Rawi, Ros berpesan, begitu ada tanda penyulit pada ibu waktu bersalin agar segera menghubunginya.

Ambu Rawi adalah satu dari tiga paraji Desa Kanekes yang telah dilatih di Puskesmas Cisimeut mengenai cara menolong persalinan yang benar dan higienis. Dari catatan Puskesmas Cisimeut, sepanjang tahun 2006 ada 227 ibu hamil, 220 orang di antaranya melahirkan, 60 orang ditolong bidan. Hanya satu kematian ibu tercatat pada 2006 karena perdarahan.

Umumnya persalinan warga Kanekes dibantu paraji. Ketika ada kesulitan, paraji biasanya berupaya menangani terlebih dulu sebelum menyerah dan memanggil bidan. Akibatnya, pertolongan medis menjadi terlambat. Apalagi perjalanan ke kampung Baduy di waktu malam tidak mudah. Bahkan, untuk ke kampung yang lebih jauh dari Cicakal tidak ada lagi anak tangga dari batu dan perjalanan seringkali harus dibantu dengan tambang. Tahun 2005 ada dua ibu yang meninggal karena persalinan, masing-masing akibat eklamsia (kejang dan penurunan kesadaran pada perempuan karena kehamilan) serta perdarahan.

Harapan warga

Untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi warga Kanekes, Jaro Dainah, Kepala Desa Kanekes yang kami temui di awal perjalanan, mengungkapkan harapan agar Puskesmas Cisimeut dilengkapi peralatan seperti rontgen dan USG. “Supaya penduduk Baduy tidak perlu terlalu jauh pergi berobat ke kota,” katanya.

Jaro Dainah juga berharap tenaga bidan ditambah dan tidak merangkap bertugas di desa lain, mengingat wilayah Desa Kanekes relatif luas. Warga Kanekes telah menyediakan tanah di Kampung Keboncau, Kecamatan Bojong Manik, yang lebih dekat dengan kampung-kampung Baduy Dalam. Di tanah itu, mereka berharap pemerintah membangun pos kesehatan desa.

Ohan Suhanda menyatakan, hal itu sudah disampaikan ke Dinas Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial Kabupaten Lebak. Ia juga mengusulkan, para tenaga kesehatan yang bertugas di Desa Kanekes diberi insentif lebih besar, mengingat sulit dan luasnya wilayah yang menjadi tanggung jawabnya.

“Luas Desa Kanekes 5.100 hektar. Secara geografis, kampung-kampung Baduy tergolong daerah sulit dicapai,” kata Ohan.

Sebagai gambaran, bidan Ros yang diangkat sebagai pegawai negeri tahun 2000 kini golongan IIB dengan gaji pokok Rp 800.000. Ia menerima insentif transpor Rp 25.000 per bulan. Untuk setiap persalinan warga Kanekes yang dibantu, Ros mendapat Rp 150.000 dari pemerintah. Kanekes termasuk daerah tertinggal sehingga warganya mendapat asuransi kesehatan penduduk miskin. Dari jumlah itu, Rp 50.000 disisihkan untuk pembuatan akta kelahiran dan Rp 50.000 untuk paraji. Total setiap bulan Ros menerima sekitar Rp 1.100.000.

Saat ditanya, jika boleh memilih, hendak bertugas di mana, Ros menyatakan ingin tetap di Kanekes saja. “Kalau ditinggal kasihan masyarakat,” tuturnya.

Saat ini, yang menjadi tantangan bagi tenaga kesehatan adalah kuatnya adat istiadat sehingga menyulitkan pelaksanaan upaya kesehatan preventif. Karena itu, perlu dipikirkan intervensi terkait nilai dan kepercayaan masyarakat untuk memperlancar upaya peningkatan status kesehatan masyarakat. []

Sumber: Kompas.