Tubuhnya kecil dan tampak ringkih, tetapi tidak semangatnya. Tugas Slamet Rahayu (59) adalah memastikan pengobatan tuberkulosis dijalani penderita sampai selesai. Untuk itu ia harus mendatangi para penderita yang mangkir kontrol dan ambil obat sebelum dinyatakan sembuh oleh dokter.

Pria asal Muntilan, Jawa Tengah, ini bekerja di Poliklinik Pemberantasan Penyakit Paru milik Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Jakarta di Jalan Baladewa, Tanah Tinggi, Jakarta Pusat, sejak tahun 1978.

Awalnya Slamet yang berpendidikan sekolah dasar ini hanya membantu-bantu dengan imbalan uang makan Rp 100 per hari. Karena ketekunannya, Slamet kemudian dipercaya mengurus kartu, memanggil pasien sesuai antrean untuk berobat, serta membantu menyimpan rekam medis pasien.

Sejak berdiri tahun 1978, Klinik PPTI Baladewa memberikan pengobatan gratis pada penderita TB kurang mampu. Untuk menekan angka drop out, mereka harus menandatangani kontrak yang dicap RT, RW, dan kelurahan.

Salah satu klausul kontrak, jika pasien berhenti minum obat sebelum enam bulan harus mengganti semua biaya pengobatan yang telah diterima. Pasalnya, pasien yang tidak berobat tuntas bisa menyebabkan resistensi kuman terhadap obat. Kuman tersebut bisa menyebar di masyarakat dan pemberantasannya perlu obat lini kedua yang lebih mahal.

Untuk memastikan penderita minum obat dengan baik dan benar, mereka harus mengambil obat dua kali seminggu di klinik. Jika penderita tidak datang, Slamet akan mendatangi rumahnya, menanyakan sebabnya, dan memberi pengertian agar penderita datang lagi ke klinik. Slamet melakukan hal itu sepulang kerja, bahkan pada hari Sabtu dan Minggu tanpa henti, karena jumlah penderita yang mangkir cukup banyak.

Jika rumah penderita dekat, Slamet naik sepeda. Dalam sehari sekitar 3-5 orang harus dikunjungi. Kalau jauh, misalnya di Leuwiliang, Bogor, Slamet naik angkot.

“Biasanya pakai uang saya dulu. Kalau sudah ada bukti dan laporan, biaya kunjungan diganti,” tutur Slamet.

Seringkali penderita menolak menemui Slamet karena khawatir disuruh mengganti biaya akibat tidak tuntas berobat. Selain itu, tidak mudah meyakinkan penderita untuk datang kembali.

Biasanya penderita berhenti berobat karena merasa lebih sehat, tidak punya ongkos pergi ke klinik, atau mengalami efek samping dari obat. Untuk itu Slamet harus bisa menjelaskan dan meyakinkan penderita TB tentang bahaya berhenti berobat sebelum tuntas atau memberi jalan keluar atas kesulitan penderita.

Sering pula terjadi penderita ternyata sudah meninggal. Jika itu terjadi, biasanya Slamet meminjam surat keterangan kematian untuk difotokopi dan menjadi bukti laporan kegiatan klinik.

Saat mengunjungi penderita, Slamet tidak pernah mengenakan masker. “Nanti mereka tersinggung. Saya pasrah saja kalau ketularan TB,” ujarnya enteng.

Tahun 1979 ia terkena TB. Enam bulan diobati, ia sembuh. Kini Slamet minum obat untuk mencegah agar tak tertular lagi.

Senin (26/3), Slamet mendapatkan penghargaan dari PPTI atas jasanya dalam penanggulangan TB. Menurut Sekretaris Jenderal PPTI Soediono, Slamet merupakan salah satu dari 236 orang yang dianggap berjasa menunjang kegiatan PPTI di samping para dermawan, pengurus PPTI, pegawai klinik, maupun kader PPTI di daerah.

“Selama 20 tahun Klinik PPTI Baladewa berdiri, Slamet rajin mencari penderita TB walau gajinya kecil. Hasilnya, angka drop out klinik kurang dari 1 persen,” kata Soediono.

Hal ini meningkatkan kepercayaan para donor sehingga terus membantu kegiatan PPTI. Selain donor pribadi, Klinik PPTI mendapat bantuan obat dari lembaga seperti WHO, Ausaid, serta Pemerintah DKI Jakarta.

Adapun gaji Slamet termasuk tunjangan Rp 900.000 per bulan. Dengan itu ia membiayai keluarga, satu istri, dan enam anak. Kini empat anaknya telah menikah. Tinggal dua anak, lulusan SMP tetapi sudah bekerja, yang masih serumah.

Mengapa Slamet begitu penuh dedikasi? “Saya merasa berutang nyawa kalau ada pasien yang tidak minum obat sampai tuntas sehingga sakitnya makin parah dan meninggal dunia. Kalau saya mampu membuat dia datang ke klinik dan minum obat tentu dia tidak meninggal,” papar Slamet.

Sungguh semangat pengabdian ini patut ditiru. Semangat untuk memelihara kehidupan. []

Sumber: Kompas.