May 2007


Sejumlah anak remaja usia siswa SMP hari Sabtu pagi itu tengah mengupas bawang putih yang ditampung dalam besek anyaman bambu berukuran besar. Sebagian lagi sedang menggendong anak-anak usia balita. Sementara anak-anak seusia murid TK asyik bermain di pelataran.

Itulah pemandangan di Panti Asuhan Hindu Dharma Jati II, yang terletak di Jalan Trengguli Nomor 80 Penatih, Denpasar, Bali.

“Mereka tengah menyiapkan bumbu untuk membuat bakso. Di sini mereka dilatih banyak keterampilan. Saya tidak ingin melihat anak-anak dari keluarga miskin hanya berpangku tangan,” ujar Wayan Nika (56). Wayan Nika adalah pendiri dan sekaligus pengasuh Panti Asuhan Hindu Dharma Jati, yang selalu ramai dengan suara celoteh anak-anak. (more…)

Pemuda Gholib hanya punya sepeda ontel (kayuh) yang dibawanya dari Jawa, uang saku dari pemerintah Rp 7.000, dan utang dari seorang keponakan Rp 50.000. Itulah modalnya saat tiba di lokasi transmigrasi di Satuan Kelompok Perumahan D, Desa Rambah Muda, Kecamatan Rambah, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, tahun 1982.

Selang 25 tahun kemudian, Gholib (51) sudah menunaikan ibadah haji bersama istrinya, Munasarah (41), memiliki 40 hektar lahan kebun sawit dan karet, yang 28 hektar di antaranya sudah menghasilkan sekitar Rp 30 juta per bulan, dua rumah yang salah satunya di Jawa, mobil, beberapa toko, serta mampu membiayai sekolah enam anak yang empat di antaranya kuliah di Jawa. (more…)

Kalau saja Elly Liligoli (36) tidak pulang ke kampung halamannya di tepian Danau Rana, mungkin anak-anak suku Rana masih belum bisa menulis dan membaca, apalagi berbahasa Inggris seperti saat ini. Kedatangan Elly menjadi obor penerang masa depan anak-anak Rana di pedalaman Pulau Buru, Provinsi Maluku.

Elly tiba di tanah kelahirannya, Dusun Kaktuan, Desa Wamlana, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, pada suatu Sabtu malam tahun 2001. Kaktuan adalah setitik ingatan yang direkam saat kanak-kanak sebelum Elly ikut orangtuanya pindah ke Desa Waemulang di Buru selatan. (more…)

Kemarahan pada dunia pendidikan yang terus membara di hati membuat wanita ini terpacu melawan “pembodohan” dan buta aksara dengan caranya sendiri. Berbekal sepeda onthel (kayuh), ia mencoba menumbuhkan rasa cinta membaca di kalangan masyarakat yang bisa disebut “terbawah”.

Kiswanti, begitu wanita ini terlahir. Ia tinggal di daerah Lebak Wangi, Bogor, di sebuah rumah yang tak seberapa besar. Meski seadanya, rumah tipe 36 itu menjadi tempat pertemuan komunitas Lebak Wangi. Tepatnya, Warung Baca Lebak Wangi atau Warabal. (more…)

Persediaan darah di Kantor Palang Merah Indonesia atau PMI Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada awal bulan Mei kosong. Itu membuat Hernawati Soekarseno (45), yang sejak berusia 18 tahun telah menjadi pendonor darah, merasa gundah.

Belum lagi gundahnya sirna karena belum sempat mengupayakan solusi untuk mengatasi kosongnya persediaan darah di daerah tersebut secara tuntas, terjadi gempa di Yogyakarta dan sekitarnya. Sekitar 5.000 orang tewas dan puluhan ribu orang luka-luka akibat gempa tersebut. Sudah dapat dipastikan kebutuhan darah meningkat untuk keperluan korban bencana yang menjalani operasi. (more…)

Selama 25 tahun, Uu Nasrullah (61) berkeliling pulau sebagai tukang kredit. Kini ia dikenal sebagai ahli sutra dan dijadikan guru oleh para petani di berbagai provinsi dan mahasiswa. Rumah biliknya sering dikunjungi ahli sutra dari berbagai negara.

Ini dari petani di Bengkulu. Mereka ingin mengabari saya bahwa mereka sudah bisa membuat benang sutra, kata Uu sambil mengeluarkan benang sutra dari sebuah amplop coklat. Uu sering diundang ke beberapa provinsi untuk melatih petani ulat sutra. (more…)