Pemuda Gholib hanya punya sepeda ontel (kayuh) yang dibawanya dari Jawa, uang saku dari pemerintah Rp 7.000, dan utang dari seorang keponakan Rp 50.000. Itulah modalnya saat tiba di lokasi transmigrasi di Satuan Kelompok Perumahan D, Desa Rambah Muda, Kecamatan Rambah, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, tahun 1982.

Selang 25 tahun kemudian, Gholib (51) sudah menunaikan ibadah haji bersama istrinya, Munasarah (41), memiliki 40 hektar lahan kebun sawit dan karet, yang 28 hektar di antaranya sudah menghasilkan sekitar Rp 30 juta per bulan, dua rumah yang salah satunya di Jawa, mobil, beberapa toko, serta mampu membiayai sekolah enam anak yang empat di antaranya kuliah di Jawa.

Kisah tentang Haji Gholib dan Hajah Munasarah—demikian mereka dipanggil warga desa—dimulai dari perjalanan melelahkan dari desa kecil di Bojonegoro, Jawa Timur, pada awal Mei 1982. Munasarah muda tak pernah tahu tujuan dari perjalanan ke Jakarta. Suaminya, Gholib, hanya menjelaskan, mereka akan naik pesawat terbang dari Jakarta, menuju sebuah tanah harapan, tempat mereka akan membesarkan anak-anak kelak.

Saat menunggu pesawat yang akan menerbangkan mereka, barulah Munasarah mengerti, suaminya telah mendaftarkan diri menjadi transmigran. Munasarah galau, tetapi kepercayaan pada suaminya membuatnya pasrah.

Setelah naik pesawat Hercules dari Jakarta, pasangan muda yang baru dikaruniai anak berumur lima bulan itu tiba di Pekanbaru, Provinsi Riau. Bagi Munasarah, inilah pertama kalinya menginjak tanah Sumatera, Pulau Emas atau Swarna Dwipa.

Menangis

“Saya memang awalnya tak bilang mau transmigrasi kepada istri, takut dia tak mau. Tetapi, hidup di Jawa yang susah tanpa lahan untuk bertani membuat saya harus mencari peluang yang lebih baik walau harus meninggalkan kampung halaman,” tutur Gholib yang lahir di Desa Gajah, Kecamatan Baureno, Kabupaten Bojonegoro.

Dari Pekanbaru, keluarga kecil ini bersesakan dengan 60 transmigran lain dalam bus menuju Satuan Kelompok Permukiman D, Desa Rambah Muda, yang saat ini berada di Kecamatan Rambah Hilir, Kabupaten Rokan Hulu.

“Sepanjang jalan, kami hanya melihat hutan. Beberapa kali bus harus menyeberang dengan jembatan ponton. Butuh waktu satu hari satu malam dari Pekanbaru untuk menuju Rambah Muda,” kata Munasarah.

Ketika mereka tiba di rumah baru, malam sudah menjelang. Hujan yang turun dengan deras menyambut mereka. Bunyi air hujan yang memukul atap rumah dari seng menakutkan Munasarah. Malam itu, dia menangis.

Seumur hidup itulah pertama kali Munasarah mendengar hujan bisa menimbulkan bunyi yang begitu ribut. Di kampung halamannya, rumahnya yang beratap genting tanah bakar tak menimbulkan bunyi gemerisik akibat hujan. Suaminya, Gholib, mencoba menenangkannya dan menjelaskan bahwa sebuah cara hidup baru telah dimulai.

Membanting tulang

Semangat Gholib menular pada Munasarah. Ketika transmigran lain masih bermalas-malasan sambil menghabiskan jatah hidup dari pemerintah, keluarga muda ini justru membanting tulang. Gholib mulai mencangkul tanah jatah miliknya seluas 2 hektar. Sering kali dia bekerja hingga malam. “Saat bulan purnama, biasanya saya mencangkul. Saya tak sabar ingin segera bisa menanam dan memetik hasilnya,” ungkap Gholib.

Munasarah tak ketinggalan. Dia pintar menghemat beras jatah bantuan pemerintah dan menjual kelebihannya di Pasar Muara Rumbai dengan berjalan kaki sejauh 10 kilometer. Uang hasil penjualan beras dibelikan tembakau untuk suaminya dan kebutuhan pokok lainnya. “Tetapi, di desa ternyata banyak yang mau membeli tembakau yang awalnya saya belikan untuk bapak. Itulah awal kami mulai jualan,” kata Munasarah menjelaskan.

Usaha jual-beli oleh keluarga ini pun berkembang pesat. Gholib memanfaatkan sepeda ontelnya untuk belanja lebih banyak lagi barang dagangan hingga ke pasar Dalu-dalu, perbatasan dengan Sumatera Utara, sejauh sekitar 15 kilometer dari rumahnya.

Munasarah melengkapi tokonya dengan kerupuk buatan sendiri. Kini, toko keluarga ini sudah berkembang pesat dan menjadi toko terbesar di Rambah Mudo dengan nilai ratusan juta rupiah. Munasarah memegang kendali toko keluarga ini, sementara Gholib tetap terfokus pada pertanian.

Berbuah manis

Ketika belum ada transmigran yang melirik perkebunan kelapa sawit, Gholib mulai mencari alternatif tanaman lain. Dalam bayangan Gholib, lahan seluas 2 hektar terlalu luas jika hanya ditanami padi dan palawija.

Akhirnya, Gholib melirik tanaman keras, yaitu sawit dan karet. “Seorang kenalan dari Medan mengenalkan sawit dan karet itu. Waktu itu, saya merasa tanaman ini akan jadi tanaman masa depan,” paparnya.

Jalan memang masih berliku sesudah itu. Akan tetapi, proyeksinya benar. Lebih dari segalanya adalah kerja keras. Firdaus telah hilang, orang harus kerja keras.

Kini, Gholib tinggal menunggu hasil sadapan getah karet dan bulir-bulir tandan buah segar kelapa sawitnya. Namun, dia tak lupa pada akarnya. Saudara dan tetangganya di Jawa yang kesulitan secara ekonomi diboyong dan diberinya pekerjaan. []

Sumber: Kompas.