Kalau saja Elly Liligoli (36) tidak pulang ke kampung halamannya di tepian Danau Rana, mungkin anak-anak suku Rana masih belum bisa menulis dan membaca, apalagi berbahasa Inggris seperti saat ini. Kedatangan Elly menjadi obor penerang masa depan anak-anak Rana di pedalaman Pulau Buru, Provinsi Maluku.

Elly tiba di tanah kelahirannya, Dusun Kaktuan, Desa Wamlana, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, pada suatu Sabtu malam tahun 2001. Kaktuan adalah setitik ingatan yang direkam saat kanak-kanak sebelum Elly ikut orangtuanya pindah ke Desa Waemulang di Buru selatan.

Keesokan harinya, perasaan Elly perih saat menjumpai kenyataan ratusan anak-anak Rana tidak bersekolah dan masih buta huruf. Terbayang dalam benaknya masa depan suram menanti adik-adiknya itu. “Saya menangis saat melihat sekian banyak anak-anak tidak sekolah. Bagaimana masyarakat Rana bisa maju kalau tidak bisa membaca, menulis, dan berhitung. Saya tidak rela adik-adik saya selamanya bodoh,” kata Elly.

Sore harinya, Elly mengajak warga mendirikan sekolah. Ajakan itu ternyata disambut dingin. Mereka trauma karena pernah beberapa kali membangun sekolah, tetapi hingga bangunannya roboh tidak pernah ada gurunya. Elly tidak patah semangat. Ia meyakinkan setiap warga bahwa kali ini gurunya sudah ada, yaitu dirinya sendiri.

Setelah warga bersedia membangun sekolah, Elly ke Ambon untuk berbelanja buku pelajaran, buku tulis, pena, pensil, dan kapur tulis. Seluruh isi tabungannya sebanyak Rp 3,3 juta dihabiskan untuk belanja sarana pendidikan yang dibagikan gratis kepada para siswa.

Sepulang dari Ambon, Elly memulai kegiatan persekolahan di rumah Awat Tomhisa karena sekolah darurat masih dibangun. Elly mendidik 125 anak Rana membaca, menulis, berhitung, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, serta pelajaran lainnya seperti di SD formal.

Pelajaran disampaikan dalam bahasa daerah Buru dicampur bahasa Indonesia. Maklum, anak-anak Rana masih sulit memahami kosakata bahasa Indonesia. Elly juga pelan-pelan memasukkan kosakata bahasa Inggris.

Mengajar di kebun

Pada tahun pertama dan kedua, proses pendidikan belum lancar. Para siswa banyak yang tidak masuk sekolah saat musim panen kacang, jagung, dan padi ladang. Mereka ikut orangtuanya ke kebun selama musim panen. Akibatnya, pelajaran terputus selama beberapa minggu.

Namun, Elly tidak menyerah begitu saja. Ia pun ikut ke kebun yang ada di seberang Danau Rana. Elly mengajar baca tulis dari satu rumah kebun ke rumah kebun lainnya. Ia menggunakan dinding rumah sebagai papan tulis dan arang untuk menulis.

Pendidikan di kebun itu sekaligus pendekatan kepada orangtua yang belum mengizinkan anaknya sekolah. Ia memancing kebanggaan para orangtua saat anaknya bisa membaca, menulis, dan berhitung.

Pendekatan itu sangat efektif dan anak-anak mulai rutin sekolah meskipun saat musim panen. Seperti pada kunjungan Kompas akhir bulan Februari lalu, saat panen kacang, 118 siswa SD dan 14 siswa SMP tetap bersekolah.

Tahun 2003, sekolah darurat selesai dibangun. Sekolah itu berdinding anyaman bambu, beratap daun sagu, dan berlantai tanah. Meja tulis dan kursi dibuat dari bambu yang kemudian diganti papan kayu. Tahun itu, Elly mengajak temannya, Jidon Liligoli, yang tinggal di Waemulang untuk ikut mengajar.

Tahun 2005, sekolah pindah ke bangunan SD baru bantuan Pemerintah Kabupaten Buru. Dari SD itulah, untuk pertama kali dalam sejarah 17 anak suku Rana lulus Ebtanas pada 2006. Mereka mengikuti Ebtanas di SD Ahilal, Desa Waspaid, Air Buaya.

Untuk mengikuti Ebtanas, para siswa harus berjalan seharian menuju kamp Waenibe milik sebuah perusahaan HPH. Perjalanan itu melalui hutan, menyeberangi sungai, dan naik turun bukit. Mereka menginap semalam dan keesokan harinya menumpang truk kayu menuju Wamlana, dilanjutkan naik angkutan umum ke Waspaid.

Tidak digaji

Keberhasilan meluluskan 17 siswa SD itu mendorong Elly meminta pemerintah untuk membangun SMP di Kaktuan. Tetapi, hingga kini, SMP itu belum dibangun. Ia pun nekat melaksanakan pendidikan SMP dengan meminjam salah satu ruang SD mulai Juli 2006.

“Sekolah harus tetap dijalankan. Kasihan anak-anak yang telah lulus SD kalau tidak bisa melanjutkan ke SMP. Saya tidak mau semangat mereka padam dan usahanya selama ini putus di tengah jalan,” ujar Elly yang enerjik itu.

Elly telah memutuskan mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan anak-anak Rana. Kecintaannya pada anak-anak Rana telah menyisihkan godaan pada kemapanan yang bisa ia raih bila mengurus kebun cokelat miliknya di Waemulang.

Selama menjadi guru, ia tidak pernah menerima gaji meskipun sejak Januari 2006 mengantongi SK guru honorer. Di Kaktuan, Elly hidup menumpang di rumah salah satu saudaranya. Kebutuhan hidupnya terpenuhi dari uluran tangan orangtua siswa. Kadang ia diberi uang sekadarnya untuk membeli sabun mandi.

Namun, ada yang selalu membuat dirinya risau, yaitu tidak adanya buku-buku pelajaran dan fasilitas pendidikan di sekolahnya. Sejak 2001, tidak pernah ada bantuan buku-buku pelajaran dari pemerintah. Karena itu, Elly selalu mengeluarkan uang pribadinya untuk membeli buku-buku pelajaran, itu pun sebatas untuk pegangan mengajar.

Dalam keterbatasan itu, semoga api cinta di sanubari guru Elly tetap menyala, menghangati, dan menerangi masa depan anak-anak suku Rana di jantung Pulau Buru. []

Sumber: Kompas.