Persediaan darah di Kantor Palang Merah Indonesia atau PMI Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, pada awal bulan Mei kosong. Itu membuat Hernawati Soekarseno (45), yang sejak berusia 18 tahun telah menjadi pendonor darah, merasa gundah.

Belum lagi gundahnya sirna karena belum sempat mengupayakan solusi untuk mengatasi kosongnya persediaan darah di daerah tersebut secara tuntas, terjadi gempa di Yogyakarta dan sekitarnya. Sekitar 5.000 orang tewas dan puluhan ribu orang luka-luka akibat gempa tersebut. Sudah dapat dipastikan kebutuhan darah meningkat untuk keperluan korban bencana yang menjalani operasi.

Hernawati yang sejak tahun lalu menjadi Humas Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Forum Komunikasi Dermawan Darah (Fokuswanda—organisasi yang menghimpun para dermawan darah sukarela, yang disingkat DDS, yang telah menyumbangkan darahnya demi kemanusiaan di PMI seluruh Indonesia sebanyak 75-100 kali ke atas) mengungkapkan rasa gundahnya.

Berita gempa yang terjadi di Yogyakarta dan Jawa Tengah pada Sabtu (27/5) pagi itu diketahui Hernawati melalui siaran radio BBC saat dia bersama rombongan berada di Madinah dalam rangka melaksanakan umrah.

Di depan rombongan peserta umrah asal Indonesia di Madinah, Hernawati menyebutkan perlunya donor darah untuk menolong korban gempa. “Saya paparkan tentang darah bagi kemanusiaan melalui kegiatan donor darah. Ternyata mereka antusias sekali dan menyatakan bersedia mendonorkan darahnya dan siap dihubungi setelah tiba di Indonesia,” katanya.

Hernawati, anak pertama dari empat bersaudara pasangan almarhum Marsekal Pertama Herman Yosef Soekarseno dan Roosmina, pada tahun 1979 adalah pelajar SLTA di Bandung yang menjadi pendonor darah termuda di Jawa Barat.

Mengenai apa yang terjadi di Kabupaten Sukabumi, ia menangkap dari siaran berita dari sebuah stasiun TV swasta. Ia langsung menghubungi Ketua PMI Sukabumi dan menanyakan tentang kelangkaan darah di daerah tersebut, termasuk kendala yang dihadapi.

“Sungguh memprihatinkan, PMI Kabupaten Sukabumi, yang setiap hari sekurang-kurangnya memerlukan 50-an kantong darah, tak mampu memperoleh darah sebanyak itu. Pendonor darah sangat kurang, hanya sekitar 50 kantong darah setiap bulannya diperoleh dari pendonor,” kata Hernawati seraya menambahkan, pihaknya lalu berupaya mencari jalan keluar untuk memenuhi kebutuhan tadi. Sekurang-kurangnya tiap bulan sekali diharapkan diperoleh darah dari pendonor sebanyak 50 kantong.

Dia merencanakan melakukan penyuluhan kepada masyarakat dengan sasaran utamanya adalah pelajar SLTA. “Kegiatan donor darah sebaiknya dimulai dari pelajar SLTA. Hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan rasa sosial sejak dini melalui donor darah,” kata Hernawati yang sering terjun langsung melakukan penyuluhan tentang donor darah di lingkungan kelompok ibu-ibu posyandu, masyarakat sekitar tempat tinggalnya di Jakarta, serta pemuda dan pelajar SLTA di Jakarta dan Depok.

Kebanggaan

Istri dari seorang wiraswasta yang bergerak di bidang engineering dan ibu dua anak ini menyebutkan, sampai saat ini belum ditemukan darah tiruan. “Oleh karena itu, harapan hidup mereka yang memerlukan darah hanya kepada kesediaan pendonor untuk menyumbangkan darahnya,” kata Hernawati.

Ia mengutip keterangan Ketua Umum DPP Fokuswanda Mayjen Pol (Purn) Pamudji R Soetopo yang mengatakan, ada suatu kebanggaan tersendiri di kalangan pendonor darah Indonesia. “Sebab, Indonesia adalah satu-satunya negara di dunia yang memiliki pendonor 100 kali ke atas. Hal ini diungkapkan oleh International Committee of the Red Cross (ICRC) pada acara The 3rd Regional Workshop on Voluntary Blood Donor Recruitment in the South East Asia tanggal 28 November-1 Desember 2005 di Vientiane City, Laos,” kata Hernawati mengutip keterangan Pamudji seraya menambahkan, Ketua DPP Fokuswanda akan melaporkan kepada Pengurus Pusat ICRC di Geneva tentang kerja sama Unit Transfusi Darah (UTD) PMI dengan Fokuswanda untuk dijadikan model bagi negara-negara lain.

Di balik kebanggaan itu, menurut Hernawati, kesadaran bangsa Indonesia untuk mendonorkan darah betapapun masih rendah. Diperkirakan, hanya 1 persen dari masyarakat Indonesia yang mendonorkan darahnya. “Minimal diperlukan 4,5 juta kantong darah setiap tahun untuk kebutuhan di Tanah Air, tapi pencapaian PMI baru 1,3 juta kantong,” kata Hernawati yang pernah mengikuti sekolah jazz ballet selama tiga tahun ketika mengikuti suaminya studi di Australia.

DPP Fokuswanda, menurut Hernawati, kini tengah mempersiapkan acara World Blood Donor Day pada bulan Juni ini. Organisasi dengan anggota 15.000 pendonor sejati ini sedang menyusun serangkaian acara, di antaranya pencanangan Bulan Peduli Kemanusiaan (BPK).

“BPK yang diselenggarakan Fokuswanda bekerja sama dengan UTD PMI DKI akan mengadakan aksi donor darah massal selama 1 bulan, dari tanggal 15 Juni-16 Juli 2006. Kegiatan ini menargetkan sebanyak mungkin kantong darah. Untuk itu, kami mengajak semua pihak berpartisipasi dalam aksi ini sebagai DDS,” kata Hernawati. []

Sumber: Kompas.