Sejumlah anak remaja usia siswa SMP hari Sabtu pagi itu tengah mengupas bawang putih yang ditampung dalam besek anyaman bambu berukuran besar. Sebagian lagi sedang menggendong anak-anak usia balita. Sementara anak-anak seusia murid TK asyik bermain di pelataran.

Itulah pemandangan di Panti Asuhan Hindu Dharma Jati II, yang terletak di Jalan Trengguli Nomor 80 Penatih, Denpasar, Bali.

“Mereka tengah menyiapkan bumbu untuk membuat bakso. Di sini mereka dilatih banyak keterampilan. Saya tidak ingin melihat anak-anak dari keluarga miskin hanya berpangku tangan,” ujar Wayan Nika (56). Wayan Nika adalah pendiri dan sekaligus pengasuh Panti Asuhan Hindu Dharma Jati, yang selalu ramai dengan suara celoteh anak-anak.

Sekitar 20 tahun lalu bapak anak-anak telantar Bali ini memiliki cita-cita mengentaskan anak-anak yatim piatu ataupun dari keluarga tidak mampu. Bermodal uang yang dia kumpulkan dari gaji sebagai seorang guru dan penghasilan sebagai fotografer di beberapa hotel berbintang di Bali, Wayan Nika memulai pengabdian tulusnya.

Uang tabungan itu akhirnya dia belikan sebidang tanah seluas sekitar satu hektar di daerah Klungkung pada tahun 1973. Saat itu Wayan Nika masih sekolah di sebuah sekolah menengah ekonomi atas di Buleleng. Bangunan baru mulai didirikan tiga tahun kemudian, saat Wayan Nika masih menempuh pendidikan di Institut Hindu Dharma. Lulus sarjana muda. Wayan Nika diangkat menjadi pegawai negeri sipil tahun 1978 dan mengabdi sebagai guru.

Tak mudah mendirikan panti asuhan dengan modal sendiri. Namun, dengan ketekunan dan ketulusan, pada 15 Oktober 1985 Panti Asuhan Hindu Dharma Jati yang ada di Klungkung mulai beroperasi. Arealnya sekarang bahkan sudah bertambah menjadi dua hektar. Panti asuhan ini pun disebut sebagai Panti Asuhan Hindu Dharma Jati I.

Buka di Denpasar

Panti asuhan yang menampung anak-anak tanpa orangtua ataupun putus sekolah ini berkembang seiring niat dan ketulusan Wayan Nika untuk mengentaskan mereka dari kemiskinan dan kebodohan. Tahun 1987 suami dari Ni Nyoman Suwasti (47) itu membuka lagi panti asuhan dengan nama yang sama di bilangan Denpasar. Panti asuhan yang saat ini menampung 226 anak telantar itu disebut sebagai Panti Asuhan Hindu Dharma Jati II.

Di panti asuhan dengan bangunan gaya Bali itu anak-anak dididik tak hanya untuk keterampilan, tetapi juga pendidikan formal. Siang hari diajari menjahit, membuat bakso, berlatih atletik, dan juga seni tari. Petang harinya mereka dididik formal oleh guru-guru pengajar bantuan. Anak asuh yang sudah dewasa diberi tugas mengasuh anak panti asuhan yang masih kecil (balita).

“Tenaga pengajar diberi gaji oleh Dinas Pendidikan. Ada yang penuh mengajar mulai pukul 13.00 hingga 15.00 dan dilanjutkan pukul 19.00 hingga 21.00, tetapi ada juga yang mengajar tidak penuh,” kata Wayan Nika.

Wayan Nika yang berlatar belakang sebagai guru, dan lulusan program magister untuk bidang Kajian Budaya di Universitas Udayana, itu mengaku lebih mengedepankan pendidikan keterampilan dan perilaku kepada anak asuhnya. Namun, tentu saja tanpa meninggalkan pendidikan berbasis kurikulum, yang saat ini diberikan melalui pendidikan luar sekolah dengan model Kejar (Kelompok Belajar) Paket A, Kejar Paket B, dan Kejar Paket C.

Seiring dengan kebutuhan untuk mempertahankan hidup anak-anak asuhnya, bantuan datang ke panti asuhan ini. Selain bantuan tetap dari Yayasan Darmais Rp 2,7 juta setiap bulannya dan dari bantuan tunai langsung kompensasi BBM sebesar lebih kurang Rp 6 juta per bulan, panti asuhan ini juga mendapat bantuan dari masyarakat, baik berupa uang tunai maupun bahan kebutuhan makan. Bahkan, bantuan tenaga pelatih keterampilan juga datang tanpa diminta.

Tanpa pamrih

Pengabdian Wayan Nika membuahkan hasil. Sejak panti asuhan dioperasikan tahun 1985, sudah 1.400-an orang berhasil dididik dan keluar dari panti asuhan. Kebanyakan mereka bekerja di berbagai hotel di Bali. Sebagian dari mereka yang telah berhasil tak jarang membawa sumbangan semampu mereka.

Namun, tragedi bom Bali menciptakan keprihatinan tersendiri. Bekas anak asuh Wayan Nika yang bekerja di bidang perhotelan, dengan kondisi pariwisata yang belum pulih akibat peledakan bom itu, juga mengalami masa-masa sulit. Dalam kondisi seperti ini, sebagai bapak asuh Wayan Nika tak jarang membawakan beras bagi anak-anaknya yang sudah dewasa dan bahkan yang sudah berkeluarga.

Dalam kesederhanaan, ayah dari Ni Wayan Ekayani (22) dan Ni Made Dwiyani (21) itu masih mengangkat lima orang sebagai anak angkatnya, selain mengasuh 221 anak telantar di Denpasar dan 128 di Klungkung. Semua anak angkat yang masih berumur balita itu merupakan anak tanpa orangtua. Ada di antara mereka yang sengaja diberikan ke panti asuhan oleh orangtuanya yang merasa tidak mampu memeliharanya.

Anak-anak di panti asuhan tersebut terlihat akrab dan saling toleransi satu sama lain. Terlihat pula mereka menyayangi Wayan Nika sebagai layaknya ayah kandung mereka.

Tentang usaha bakso, anak-anak asuh Wayan Nika tak hanya sebatas membuatnya. Mereka juga dilatih berjualan. Saat ini ada lima tempat, ada yang disewa dan ada yang dipinjamkan, untuk dipakai berjualan. “Saya melatih mereka agar dapat mandiri,” kata Wayan Nika.

Selain dilatih membuat bakso, anak-anak asuh di panti asuhan itu juga cukup terampil memasak masakan lainnya. Karena kecakapan inilah, sering dari mereka dipanggil oleh tempat usaha katering besar untuk membantu memasak.

Sementara itu, mereka yang berlatih tari terkadang pentas di pura. Ketika mereka dapat ngayah (pentas di pura tanpa harus dibayar), itu merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi orang Bali. Begitu pula mereka yang berlatih atletik mampu bergabung dengan tim atletik untuk mewakili Bali dalam berbagai perlombaan.

Atas pengabdiannya mengasuh dan mengentaskan anak-anak telantar itu, Wayan Nika layak disebut sebagai bapak anak telantar di Bali. []

Sumber: Kompas.