Batu bara selama ini lebih dikenal sebagai sumber energi yang relatif murah. Bisa dikatakan tidak banyak masyarakat yang mengenal batu bara sebagai bahan baku untuk produk kerajinan yang memiliki nilai seni.

Batu bara yang diciptakan menjadi produk kerajinan yang bernilai seni ini jelas memiliki nilai tambah yang cukup tinggi. Nilai tambah itu tidak hanya terkait dengan nilai jual produk, tetapi juga nilai seni yang menyertai barang tersebut.

Membuat produk kerajinan dari bahan batu bara itu ternyata juga bisa dilakukan tanpa seseorang harus memiliki pendidikan seni, seperti seni pahat dan seni lukis. Tanpa pendidikan seni secara formal pun, orang yang tekun mengembangkan bakat atau potensi dalam dirinya dapat berkreasi membuat produk kerajinan dari batu bara. Hal itulah yang dilakukan Supriadi.

“Saya tidak pernah belajar seni secara formal. Sekolah saya hanya tamat STM Jurusan Listrik,” kata Supriadi. Namun, dari tangannyalah ribuan produk kerajinan berbahan baku batu bara, seperti patung, vandel, trofi, miniatur, sampai asbak, telah diciptakan.

Sebagian produk kerajinan itu dipajang pada pameran Kadin Batam-ASEAN Small and Medium Interprises (SME’s) Expo di Batam yang berlangsung tanggal 4-8 Juli lalu. Sebagian foto produk kerajinan yang tidak terbawa dalam pameran itu ditunjukkannya antara lain lewat memori telepon genggam.

Supriadi mampu menciptakan berbagai patung dan produk kerajinan dari bahan baku batu bara dengan bakat yang dikembangkan sejak masih anak-anak. “Sudah sejak kecil saya senang memahat dari kayu atau tanah liat,” ceritanya. Dia juga suka menggambar dengan pensil tukang bangunan.

Bahkan, dengan keterampilan itu pula dia pernah meraih juara III lomba melukis tingkat nasional saat duduk di kelas V SD. Atas prestasi itu, Supriadi mendapat penghargaan dari Wali Kota Sawahlunto dan Gubernur Sumatera Barat. Saat duduk di bangku SMP pun ia masih sering mengikuti lomba melukis.

Setelah dewasa, bakat seni itu semakin dikembangkannya. Tahun 1985 Supriadi mencoba dengan mulai bekerja sebagai pelukis di Pasar Seni Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Akan tetapi, pekerjaan sebagai pelukis di pasar seni itu ternyata kurang memuaskan bagi dirinya.

Mengapa? Supriadi mengaku sering kali dia teringat dengan sumber kekayaan alam yang terdapat di daerah asalnya, yaitu batu bara. Lalu, semacam desakan seakan muncul dalam benaknya untuk mengembangkan aset daerah itu lewat karya seni.

“Waktu itu belum terbayang bagaimana bentuknya. Saya hanya ingin mengembangkan batu bara lewat sentuhan seni,” tutur Supriadi.

Kembali ke Sawahlunto

Oleh karena itu, tahun 1990 dia kembali ke Sawahlunto dan memulai karier sebagai perajin atau pemahat patung dari batu bara. Hari demi hari, saat orang semakin mengetahui produk yang dihasilkannya, pesanan barang pun mulai mengalir ke tangan Supriadi.

Pesanan produk kerajinan pahat dari batu bara datang dari berbagai kalangan, dari pejabat pemerintah daerah, institusi, sampai perorangan. Pesanan produk itu antara lain berupa miniatur Kota Sawahlunto dan jam gadang di Sumatera Barat.

Meski dia juga menciptakan desain produk berbahan baku batu bara, produk kerajinan pahat yang diciptakan Supriadi umumnya bergantung pada keperluan pemesan. Misalnya, trofi patung kuda untuk penghargaan dalam kejuaraan pacuan kuda tingkat nasional.

“Kalau turis-turis asing atau pekerja asing di Sumbar, terutama yang asal Jepang, lebih tertarik memesan patung naga,” ujarnya.

Dengan bakat melukis, tak sulit bagi Supriadi untuk berimajinasi dan menciptakan produk-produk kerajinan itu. Dengan keterampilan itu, segenggam atau seonggok batu bara yang “kurang” bernilai dapat diubahnya menjadi produk yang memiliki nilai jual.

Sebagai gambaran, harga asbak yang dipahat berbahan batu bara sekitar Rp 50.000 per buah, sedangkan patung naga buatan Supriadi berharga sekitar Rp 2 juta. Harga produknya amat bervariasi, ada yang mencapai Rp 10 juta.

Memang tak semua jenis batu bara dapat dipahat menjadi produk kerajinan. Jenis batu bara yang dapat dipahat umumnya jenis batu bara yang lebih keras, yaitu jenis black seal. Jenis batu bara tersebut banyak terdapat di Ombilin, Sumatera Barat.

Rumah adat

Kunci pembuatan produk kerajinan berbahan baku batu bara, kata Supriadi, hanyalah keterampilan, daya kreasi, kesabaran, dan ketelitian. Namun, semua itu tak bisa mendadak muncul. Dia mengaku terus menekuni dan selalu mencoba-coba desain baru.

Jerih payahnya untuk memberi nilai tambah pada batu bara membuahkan hasil. Pada tahun 1993, usaha yang digeluti Supriadi menjadi bagian dari usaha kecil dan menengah (UKM) binaan PT Tambang Batubara Bukit Asam (PT TBBA).

Dengan menjadi UKM binaan, Supriadi mendapat bantuan kredit lunak. Selain itu, ia juga sering diikutsertakan dalam berbagai kegiatan pameran, seperti pameran Kadin Batam-ASEAN SME’s Expo.

Dari pengalamannya, kata Supriadi, untuk produk kerajinan, inovasi, dan kreativitas memegang peran penting. Konsumen biasanya selalu mencari desain-desain baru.

“Sekarang saya sedang mengembangkan desain rumah- rumah adat di Nusantara. Saya sudah membuat beberapa rumah adat dari batu bara,” ujarnya.

Untuk membantu dia memenuhi pesanan, Supriadi juga mendidik beberapa orang muda di daerahnya. “Ada 35 orang yang saya didik untuk membuat produk kerajinan dari batu bara,” ucap Supriadi.

Rencana dia yang lain adalah membuat kerajinan berupa miniatur tempat-tempat wisata dunia, seperti tembok raksasa di China atau menara Eiffel di Perancis. Ini agar produknya bisa dipasarkan ke mancanegara.

Dengan cara itu, Supriadi berharap negeri ini bisa semakin dikenal sebagai negara yang mampu mengelola sumber tambang, tidak merusak lingkungan, dan memberikan nilai tambah untuk sumber daya alamnya.

“Biar Indonesia tidak hanya dikenal sebagai negara yang kaya sumber daya alam, yang terus tereksploitasi, dan suka mengekspor bahan mentah saja,” ujarnya. []

Sumber: Kompas.