Sumber: Kompas.

Dari sekitar 387 warga Dusun Hepang, pilihan komite sekolah jatuh kepada Guarda Nona yang hanya tamatan Sekolah Menengah Kejuruan Kewapante Maumere untuk menjadi guru anak mereka. Dusun Hepang terletak sekitar 35 kilometer dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka.

Guarda Nona (30) pun dengan tekad bulat menerima amanat warga untuk mengajar anak-anak kelas I di dusun terpencil di Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Putri sulung pasangan Blasius Bas dan Susana Ineti itu dipandang layak mendapat kepercayaan warga demi mengangkat warga Hepang dari ketertinggalan dan kebodohan.

Rata-rata warga Hepang yang tak tamat sekolah dasar (SD) umumnya petani jambu mete dan kemiri. Banyak warga putus sekolah ketika duduk di kelas II atau kelas III SD. Karena itu, lebih banyak warga yang buta aksara: dari 84 keluarga, yang tamat SMP hanya empat keluarga.

Banyaknya warga Hepang yang putus sekolah antara lain disebabkan oleh kondisi medan yang berat, berbukit-bukit, infrastruktur jalan yang buruk, dan sekitar lima kilometer harus dilalui dari Hepang ke SD Katolik (SDK) Doreng. Kondisi itulah yang membuat warga mengusulkan agar sekolah dibuka di Hepang. Mereka bertekad kuat agar anak-anak bisa bersekolah, minimal sampai SMA.

Gayung pun bersambut. Dinas Pendidikan Kabupaten Sikka setuju membuka SD di Hepang yang bernaung pada SD induk, SDK Doreng. Masalahnya, SD induk saja masih kekurangan guru. Jadilah komite sekolah Dusun Hepang diminta menyediakan guru sendiri.

Warga pun berpatungan menyumbang Rp 3.000 sebulan per keluarga. Dari uang yang terkumpul itu komite sekolah sanggup membayar honor untuk guru sebesar Rp 200.000 per bulan. Mereka enggan menyebut uang Rp 200.000 itu gaji sebab nilainya relatif kecil. Mereka menyebutnya “uang sabun”.

Guru honorer

Mengapa warga Hepang memilih Nona—panggilan Guarda Nona? Meski hanya sebagai guru honorer, Nona setidaknya berpengalaman mengajar selama sekitar dua tahun di SD Inpres Hebar, Dusun Hebar, yang bertetangga dengan Dusun Hepang. Maka, mulai tahun ajaran 2007/2008 ini kegiatan belajar mengajar di Hepang bisa dimulai.

“Saya menerima tawaran warga demi anak-anak di kampung (Hepang) ini. Saya hanya membantu supaya jangan ada lagi anak-anak yang DO (drop out). Paling tidak mereka harus bisa membaca, menulis, dan berhitung. Ini modal yang cukup bagi anak-anak untuk belajar di kelas selanjutnya,” ujar ibu satu anak itu.

Nona tidak melihat angka nominal honor yang diberikan pihak komite sekolah kepadanya. Ia lebih berfokus pada masa depan anak-anak di kampung itu. Nona tak berkeberatan meski keluarganya bukan dari kalangan berada. Suaminya pun seorang petani.

“Harap dimaklumi kemampuan masyarakat petani di sini. Sampai sekarang saja masih ada keluarga yang belum membayar iuran Rp 3.000 per bulan. Entah mereka belum membayar karena apa, tetapi kemungkinan besar karena tak punya uang,” ungkapnya.

Padahal, tugas yang diemban Nona sebagai guru di Hepang bukan pekerjaan mudah meski dia hanya mengajar kelas I yang berjumlah 37 siswa. Ini mengingat umumnya warga di pedalaman cenderung memercayakan sepenuhnya anak-anak mereka kepada sekolah, entah itu menyangkut perkembangan kognitif, mental, sikap, ataupun perilaku.

Di rumah atau lingkungan keluarga, orangtua jarang yang bisa langsung membimbing anak-anaknya belajar. Selain keterbatasan kemampuan orangtua, sarana untuk belajar seperti buku, penerangan, dan perabot pun tak mendukung.

Warga Dusun Hepang belum mengenal listrik. Untuk mengakses siaran televisi, mereka menggunakan antena parabola. Jadi, kemajuan pendidikan bagi siswa tak bisa optimal kalau hanya mengandalkan sekolah.

“Ini justru menjadi tantangan guru yang mengajar di daerah terpencil. Kadang guru juga dibuat jengkel karena siswa suka ngobrol sendiri. Belum lagi menghadapi siswa yang lambat menangkap materi yang diajarkan,” paparnya.

Untuk melukiskan keberagaman anak didiknya, Nona bercerita, ada siswa kelas II SDK Doreng yang memilih kembali belajar di kelas I di Dusun Hepang karena tak tahan harus menempuh jarak yang jauh dari rumah ke sekolah. Ketika Nona mengujinya, ternyata anak itu pun belum hafal abjad.

Kesabaran memang dibutuhkan bagi siapa pun yang mengajar di daerah terpencil. Nona yang menikah dengan Hermanus Nado pada tahun 2004 menyebutkan, kuncinya adalah kemauan untuk mengabdi dan menganggap tugas mengajar sebagai suatu kesenangan.

“Saya sendiri punya keinginan, kelak bisa melanjutkan studi untuk tingkat D-III atau S-1 keguruan,” kata Nona, yang berharap dari SD rintisan ini suatu hari nanti bisa muncul anak-anak Dusun Hepang yang mampu mengembangkan dirinya, menjelajah dalam berbagai profesi, seperti guru atau bidan.

Baca Koran dan Lidi

Meski warga di kampung menunjuk Nona sebagai guru yang layak mengajar di SD yang baru dibuka di Dusun Hepang, Nona menyadari bahwa kompetensinya sebagai lulusan SMK tidaklah memenuhi standar pendidikan guru sebagaimana diwajibkan undang-undang.

Untuk menambah wawasan, Nona memilih membaca koran. Alasannya sederhana, koran adalah media cetak yang harganya relatif masih terjangkau.

“Kalau buku harganya mahal. Untuk ukuran keluarga petani seperti saya, berat sekali membeli buku itu. Jadi saya menyiasati dengan lebih banyak membaca koran,” ungkapnya.

Keterbatasan sarana dan prasarana juga dialami anak didiknya. Maka, Nona menjalankan metode sederhana untuk mengajar materi berhitung kepada siswa. Dia meminta siswa setiap hari membawa buku, alat tulis, batang lidi, potongan ranting bambu, atau batang jagung yang dipotong pendek-pendek.

Setiap siswa rata-rata membawa 40 batang. Dari alat bantu itu, kata Nona, ternyata siswa bisa lebih paham dan mampu mengerjakan tugas yang dia berikan. “Mereka sekarang sudah mahir berhitung sampai 20,” ujar Nona senang. []