November 2007


Sumber: Kompas.

“Saya juga tidak tahu. Saat itu air sudah di atas kepala. Saya juga sudah tidak bisa bergerak karena kaki luka. Saya hanya berpegangan pada balok kayu agar tidak tenggelam. Tahu-tahu, alat itu muncul ke permukaan. Entah bagaimana bisa terlepas dari setang kemudi Vespa,” ujar Ismail Sarong (61) saat ditemui di rumah barunya di Kampung Pande, Kutaraja, Banda Aceh, Oktober lalu.

Bagi Ismail, kemunculan alat musik tiup seurune kalé miliknya dari dalam air saat tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam, 26 Desember 2004, merupakan mukjizat. Dia sudah tidak memikirkan lagi alat itu. Yang terpikirkan kondisi keluarganya, istri dan kelima anak perempuannya yang ditinggal di rumah saat bencana itu melanda. “Hanya itu yang saya pikirkan,” ujarnya. (more…)

Usianya sudah hampir 90 tahun. Kerut di raut wajah, rambut bahkan alis pun memutih, tetapi ia masih tetap bersemangat saat diajak berbincang. Tuturnya lugas dan blak-blakan.

Baba Gendu, demikian lelaki kelahiran 10 Agustus 1916 ini biasa dipanggil warga Kampung Poncol, Bekasi Timur. Di usia tuanya, Baba Gendu menangani dan mengobati ratusan pasien cacat mental dan gangguan jiwa, yang ditampung di pantinya, Yayasan Galuh Rehabilitasi Cacat Mental, di Jalan M Hasibuan, Margahayu, Bekasi Timur. Sebuah kegiatan yang sudah dijalankan Baba Gendu sejak 23 tahun silam.

Ditemui Sabtu (2/7) di panti sekaligus tempat tinggal bagi 220 pasien dan rumah bagi sekitar 20 pengurus panti, Baba Gendu bertutur, beberapa pejabat yang pernah berkunjung ke panti rehabilitasi ini kerap mengeluh soal kebersihan dan kelayakan panti ini. (more…)

Apakah arti koran bekas, ataupun kertas bekas pembungkus semen? Soalnya memang pada kreativitas. Di tangan M Yusuf, pria berusia 35 tahun, barang-barang itu ia manfaatkan sebaik-baiknya, tidak sekadar menjadi penghuni tong sampah.

Ia mengolah koran bekas maupun kertas bekas pembungkus semen menjadi hiasan, yang barangkali bahkan menjadi hiasan yang menghuni ruang tamu mewah. Dia juga mampu mengolah kertas bekas menjadi sandal, yang barangkali dipakai oleh sementara kalangan untuk “tampil beda”. (more…)

Belasan kotak tripleks berukuran 1 x 1 x 0,5 meter terletak di dalam rumah Hendrik Jaenudin (29). Kotak-kotak serupa juga bisa ditemui di bagian ruangan lainnya. Dari dalam beberapa kotak terdengar derik jangkrik yang biasanya hanya terdengar pada malam hari.

Kotak ini berisi jangkrik yang sedang bertelur, ujar Hendrik di rumahnya Blok Resi, Desa Tambi Lor, Kecamatan Sliyeg, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Sabtu (8/7). Di Tambi Lor, nama Hendrik memang identik dengan jangkrik. Padahal, empat tahun lalu ia sama sekali tidak pernah bersentuhan dengan segala sesuatu yang terkait dengan jangkrik. (more…)

Tip dodol tip wajik

tip gule lan kelape

didokon ning pendaringan

dirubung semut gatel.

Tembang dolanan anak-anak Banten ini sudah jarang terdengar. Pengamen jalanan, Achmad Tantowi alias Toton Greentoel (37), mengemas ulang tembang itu dalam album kaset amatiran berisi lagu-lagu berbahasa Jawa-Serang dan Sunda-Banten. Ikhtiar mencari identitas lagu daerah Banten. (more…)

Teriakan “iiikkk, iiikkk” dari mulut A Rahman Saleh (50) menggema di seputar obyek wisata kawasan Hutan Pusuk, Desa Bentek, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Rahman sedang memanggil kawanan kera abu-abu untuk diberi makan buah pisang meski hanya satu-dua yang datang menghampiri.

“Minggu begini, banyak pengunjung memberi makan sehingga monyet-monyet itu umumnya malas ke sini,” kata Rahman.

Ia kemudian mengajak beberapa wisatawan lokal menuju lokasi sekitar 100 meter dari tempat semula. Di lokasi hewan-hewan itu biasa mangkal, rombongan bule memang sedang memberikan roti, kacang, dan penganan ringan lain kepada monyet-monyet itu. (more…)

Pada 1970-an sejumlah warga Jepang membuka usaha budidaya mutiara di Kabupaten Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Orang-orang dari Negeri Sakura itu sangat tertutup. Mereka tak rela teknologi budidaya mutiaranya diketahui warga setempat.

Setiap kali proses produksi dilakukan, terutama saat membedah kerang-kerang penghasil mutiara (Pinctada maxima), semua pekerja yang bukan orang Jepang harus keluar dari lokasi budidaya, termasuk Ko Seng (62), warga Banggai Kepulauan, yang membantu permodalan PT Para Mutiara. Ini adalah perusahaan budidaya mutiara milik warga negara Jepang, Fukuda.

Sebagai orang yang memberi bantuan modal pada saat Fukuda mengalami krisis keuangan, Ko Seng bebas keluar masuk lokasi budidaya PT Para Mutiara. Namun, saat operasi bedah kerang mutiara dilakukan, ia diminta keluar. Bahkan, ia diusir jika ketahuan mengintip. (more…)

Next Page »