Hampir setiap hari, waktu Bobon Turbansyah (53) dihabiskan untuk membimbing siapa pun yang ingin bertani, mulai dari anak-anak balita hingga pejabat pertanian di seluruh Indonesia, beberapa di antaranya dari luar negeri.

Ia juga berhasil menyembuhkan penderita gangguan jiwa dan menyadarkan narapidana korban narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) melalui pertanian.

”Lihat lelaki itu. Penampilannya rapi, bukan? Padahal, dulu orangtuanya sudah menyerah karena setiap hari anak tersebut mabuk-mabukan,” bisik Bobon sambil memandang seorang lelaki berusia 23 tahun yang melangkah bergegas menuju gudang pengepakan sayur di Desa Cibodas, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung.

Lelaki yang ditunjuk Bobon itu langsung duduk dan tekun menyortir sayuran. Berkat motivasi Bobon untuk mengubah hidup menjadi lebih baik, lelaki itu mengaku kini senang bekerja dan tidak ingin lagi mengulangi hari-harinya yang tergantung pada narkoba.

Menurut Bobon, dari 30 karyawannya, tujuh di antaranya pengguna narkoba dan satu orang penderita gangguan jiwa. Mereka sembuh setelah dibina sekitar tiga tahun. Mereka berusia 20-an tahun, anak para buruh tani.

Waktu itu, pertanian di desanya masih belum mampu menyerap semua tenaga kerja sehingga banyak pemuda yang putus sekolah menganggur. Tekanan ekonomi tersebut diduga membuat mereka mudah terpengaruh hal-hal negatif.

”Orangtuanya meminta agar saya mau membantu membimbing anak-anak mereka,” ujar Bobon. Dia lalu mendekati mereka dengan lembut, tapi tegas.

”Awalnya saya katakan, mereka tak akan selalu muda. Suatu hari, mereka akan tua dan merasa sia-sia,” ucap ayah dari Anggi Heragantini (20), Karisa Deviantini (17), Egi Firmansyah (14), dan Farhan Aliansyah (10) ini.

Tidak semua ucapannya langsung didengar. Bobon pun mengajak mereka mencoba berubah dengan terlibat bekerja di lahan pertaniannya. Upah mereka dibedakan dari upah karyawan lain agar terpacu bekerja lebih baik dan mendapat hak sesuai kontribusi.

Memotivasi

Awalnya, mereka sering berleha-leha dan mencuri-curi mengisap lem hingga mabuk saat jam kerja. Untuk mengatasi itu, Bobon membentuk kelompok terdiri dari empat orang sehat dan satu pecandu. Mereka yang sehat diminta mengawasi dan mengajari pecandu bekerja dengan hati senang sehingga tidak merasa berbeda.

Karena usaha pertanian Bobon membutuhkan kualitas yang baik untuk toko swalayan, para pecandu tidak dipekerjakan di bagian yang berhubungan langsung dengan produk. Mereka ditugasi mencangkul.

Setiap perubahan baik yang berhasil dilakukan pecandu narkoba, Bobon menaikkan upah mereka. Lama-lama mereka jadi termotivasi dan akhirnya memiliki upah sama. Bobon mengupah pecandu Rp 8.000 per hari, berbeda Rp 7.000 dari karyawan lain.

Kini, seluruh pecandu sudah sadar dan sudah mampu bekerja di bidang-bidang yang langsung berhubungan dengan produk, seperti menyortir, memanen, atau memelihara tanaman.

Sementara itu, seorang pasien gangguan jiwa pun sudah mulai membaik setelah dua tahun dibimbing Bobon. Bobon sering melihat orangtua pemuda itu menangis di kebun, memikirkan anaknya yang suka melamun, tidak mau berbicara, dan tidak mau mengganti pakaian sejak memasuki usia remaja.

Bobon mulai mendatangi anak tersebut. Setiap hari Bobon berkata-kata di depan anak itu meskipun tidak didengarkan. Remaja yang tidak mau berbicara itu beberapa hari kemudian mengikutinya ke kebun.

”Sekarang, anak itu sudah bisa bicara, bahkan meminta tambahan pekerjaan,” kata Bobon gembira.

Anak petani

Bobon lahir sebagai anak petani sayur, almarhum Encas Casmali. Lahan pertanian ayahnya sering dijadikan tempat praktikum mahasiswa dan pejabat di bidang pertanian.

Kemampuan ayahnya membimbing orang dalam bidang pertanian menarik perhatiannya. Sejak lulus sekolah menengah atas tahun 1970-an, Bobon langsung bertani. Ia mengambil pembibitan kentang karena menurut penelitian iseng-iseng yang ia lakukan, bibit kentang dari Lembang memiliki produktivitas belasan kali lipat lebih tinggi dari bibit kentang daerah lain.

Bobon kini memasarkan sayur-mayur asal Jepang ke belasan toko swalayan yang pelanggannya kebanyakan orang Jepang di Jakarta, Bandung, Bali, dan Surabaya, antara lain Papaya, Sogo, Kamome, Cosmo, 99, Koko, dan Oiska. Sebagian besar sayuran ditanam petani di sekitar desanya yang dia awasi cara penanamannya.

Untuk menjaga mutu, ia juga didampingi konsultan asing dari lembaga pengawasan bibit asal Jepang. Karena mutu sayuran dan pelayanan yang baik, Bobon bisa menentukan sendiri harga sayurannya. Hampir seluruh sayurannya berharga di atas Rp 10.000 per kilogram.

Bersama istrinya, Cici Rostiamah (44), yang mengajar sejarah di SMAN 1 Lembang, Bobon tengah menjalankan program belajar bertani sebagai pelajaran muatan lokal di SMAN 1 Lembang dan Sekolah Menengah Pertama Negeri SMPN 4 Lembang. ”Saya ingin generasi muda tidak terputus hubungan dengan dunia pertanian sebab mereka tinggal di negeri agraris,” kata Bobon. []

Sumber: Kompas.