Teriakan “iiikkk, iiikkk” dari mulut A Rahman Saleh (50) menggema di seputar obyek wisata kawasan Hutan Pusuk, Desa Bentek, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Rahman sedang memanggil kawanan kera abu-abu untuk diberi makan buah pisang meski hanya satu-dua yang datang menghampiri.

“Minggu begini, banyak pengunjung memberi makan sehingga monyet-monyet itu umumnya malas ke sini,” kata Rahman.

Ia kemudian mengajak beberapa wisatawan lokal menuju lokasi sekitar 100 meter dari tempat semula. Di lokasi hewan-hewan itu biasa mangkal, rombongan bule memang sedang memberikan roti, kacang, dan penganan ringan lain kepada monyet-monyet itu.

“Mungkin karena suka diganggu orang lokal, seperti menangkap anak-anaknya, membuat monyet-monyet itu lebih jinak dengan turis bule,” tutur Rahman.

Memanggil monyet dengan suara khas lalu memberinya makanan menjadi atraksi utama yang disediakan suami Rosdiatin (50) itu kepada wisatawan. Para pengunjung tidak sekadar menonton, melainkan juga melemparkan makanan bagi monyet-monyet itu meski terkadang binatang itu suka nakal: mengambil sendiri makanan yang sedang disantap oleh pengunjung.

Kebetulan pasangan Rahman dan Rosdiatin berjualan makanan ringan di seputar kawasan itu. Tempat usaha mereka seluas 10 are di sebuah dataran tinggi, dilengkapi beberapa berugak (balai-balai), dan taman terbuka, tempat gerombolan monyet itu “bertamu” jika dipanggil Rahman.

Dari lokasi Rahman berjualan pisang goreng, mi instan, minuman dingin dan hangat, sambil duduk melepas penat di berugak, pengunjung bisa menyaksikan tingkah polah monyet-monyet atau menikmati pemandangan perairan obyek wisata Tiga Gili, pulau kecil dan perkampungan penduduk Desa Pemenang.

“Kami mulai berjualan sejak 1998, jadi pedagang kaki lima. Kemudian pindah ke sini beberapa bulan lalu, setelah lewat kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Lombok Barat selaku pemilik dan memberi kami izin mengelola tempat ini,” ungkap Rahman yang sehari-hari bekerja di Dinas Pertanian Pemerintah Kota Mataram.

Pusuk yang berarti puncak, bagian kawasan Hutan Rinjani, Lombok, adalah tempat persinggahan bagi turis, baik asing maupun domestik, menuju beberapa obyek wisata di Lombok Barat bagian utara, seperti Gili Air, Gili Meno, dan Gili Terawangan, Kecamatan Pemenang. Selain itu, bisa pula ke Air Terjun Sendanggile, Desa Senaru, Kecamatan Bayan, yang merupakan gerbang pendakian Gunung Rinjani (3.726 meter).

Menurut Rahman, di kawasan Pusuk yang jalannya berkelok-belok dan terjal itu ada 10 lokasi tempat monyet biasa bergerombol. Mereka menunggu pengendara sepeda motor, penumpang mobil angkutan umum maupun mobil pribadi, yang sudi melemparkan makanan ke jalan.

Menunggu sumbangsih dari pengguna jalan bagi kera-kera itu tidak lepas dari kondisi lingkungan hutan yang telah terdegradasi alias gundul.

“Di atas sana, bapak bisa main bola,” kata Rahman, menggambarkan luluh lantaknya ekosistem dan ekologi kawasan itu akibat penebangan kayu hutan yang sembarangan. Ketika habitatnya terganggu, pola hidup satwa di kawasan itu pun berubah akibat langkanya sumber pakan di hutan.

Realitas itulah yang mendorong Rahman untuk mewujudkan idenya menyuguhkan atraksi lebih beragam yang dapat membawa kesan khusus bagi wisatawan asing khususnya sepulang dari Lombok.

Hasil pengamatan

Nada panggil “iiikkk-iiikkk” yang khas itu diciptakan Rahman setelah bertahun-tahun mengamati perilaku monyet. Agar monyet terbiasa mendengar “nada panggil”, dilakukanlah “sosialisasi”, dan baru dimengerti setelah satu tahun. Sapaan “iiikkk-iiikkk” itu dia tirukan dari salah satu suara yang umum diperdengarkan para kera, ungkap ayah tiga anak ini.

Rahman pun mengamati sekilas aspek psikologis dan mengidentifikasi fisiologi monyet-monyet tersebut guna mengetahui populasinya. Asumsi sementara, populasi monyet di 10 lokasi mangkal dalam delapan tahun terakhir tidak banyak berubah.

Itu terindikasi dari bentuk kaki, panjang badan, selain jumlah anggotanya yang relatif tetap dalam satu koloni: rata-rata 30 ekor. Dari seluruh populasi kera abu-abu di sana, hanya ada satu kera albino (bulu dan kulitnya putih). Kera albino itu pernah menampakkan diri enam tahun lalu, kemudian menghilang lagi, kata Rahman.

Dalam pengamatan Rahman, monyet juga punya sikap ksatria. Umpamanya, ada makanan yang mungkin jatuh tepat di batas wilayah setiap kelompok. Untuk mendapatkan makanan itu, pemimpin kelompoknya berkelahi, dan pemenangnya berhak atas makanan tersebut, sedangkan yang kalah tidak berani mendekat. Setiap kawanan (kelompok) berjumlah 20-30 ekor memiliki kapling wilayah dengan radius 100-200 meter.

Untuk mendekatkan monyet berinteraksi dengan pengunjung, seperti di obyek wisata di Pulau Bali (Sangeh, Uluwatu, Alas Kedaton, dan lainnya), Rahman punya cara penjinaknya.

“Kalau memberi makan, jangan pandang mukanya karena dia akan menunjukkan taringnya, pertanda monyet itu marah. Makanya, berilah makanan tanpa melihat wajahnya,” kata Rahman, lulusan Fakultas Pertanian Universitas Mataram tahun 1985 yang lumayan lancar berbahasa Inggris dan Belanda.

Lalu, jangan sekali-kali menarik ulur makanan karena monyet akan menyergap makanan ke tangan pemberinya. Ini pernah dialami seorang wisatawan asing. Yang terpenting pula jangan ganggu anak-anaknya karena monyet bisa marah besar.

“Pernah kami punya berugak, atap ilalangnya diacak-acak, dirusak dan tiangnya diguncang-guncang oleh seekor induk monyet. Mungkin karena anak monyet itu diganggu seseorang,” tutur Rahman pula. []

Sumber: Kompas.