Sumber: Kompas.

“Saya juga tidak tahu. Saat itu air sudah di atas kepala. Saya juga sudah tidak bisa bergerak karena kaki luka. Saya hanya berpegangan pada balok kayu agar tidak tenggelam. Tahu-tahu, alat itu muncul ke permukaan. Entah bagaimana bisa terlepas dari setang kemudi Vespa,” ujar Ismail Sarong (61) saat ditemui di rumah barunya di Kampung Pande, Kutaraja, Banda Aceh, Oktober lalu.

Bagi Ismail, kemunculan alat musik tiup seurune kalé miliknya dari dalam air saat tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam, 26 Desember 2004, merupakan mukjizat. Dia sudah tidak memikirkan lagi alat itu. Yang terpikirkan kondisi keluarganya, istri dan kelima anak perempuannya yang ditinggal di rumah saat bencana itu melanda. “Hanya itu yang saya pikirkan,” ujarnya.

Saat tsunami melanda provinsi paling barat Indonesia itu, Ismail baru saja usai meniup seurune di sebuah acara di Lapangan Blang Padang. Bersama dengan putra bungsunya, Rusdian (25), yang mengiringinya bermain musik, Ismail sudah pergi dari rumah sejak pagi buta.

Tidak lama setelah gempa terjadi, sekitar pukul 08.00, Ismail bergegas pulang berboncengan dengan Rusdian. Namun, motornya tidak dapat bergerak cepat karena dari arah yang berlawanan ribuan orang berlari sambil berteriak mengenai air yang naik ke daratan.

“Saya tidak bisa bergerak. Terkurung oleh ribuan orang yang berlarian ke sana-kemari. Tidak lama air sudah sampai ke dekat Masjid Raya Baiturrahman. Saya pun terpaksa menyelamatkan diri. Tidak sampai ke rumah,” ujarnya. Ismail meminta putra bungsu itu menyelamatkan diri ke tempat yang aman, terpisah dari dirinya.

Ismail sempat beberapa kali terantuk balok-balok kayu yang mengambang bersamaan dengan masuknya air ke Kota Banda Aceh. Namun, dia selamat setelah ditolong beberapa orang. Mereka membawanya ke gedung yang cukup tinggi dan tidak roboh akibat gempa. Baru pada sore harinya, bersama Rusdian yang baru ditemukannya, Ismail mencari keluarga mereka yang diterjang tsunami. “Tidak ada yang tersisa. Semuanya berpulang,” kata Ismail dengan mata berkaca-kaca.

Mulai hilang

Bagi Ismail, kehidupan berkesenian sudah merupakan sesuatu hal yang tidak asing lagi. Keluarganya, terutama dari garis bapak, adalah keluarga yang berkecimpung dalam kesenian, terutama sebagai pemain rapai gambus.

Bahkan, sejak menginjak usia sekolah menengah pertama, Ismail sudah tampil bersama dengan kelompok rapai gambus saudaranya sebagai penyanyi. Ketertarikannya terhadap alat musik seurune kalé baru pada tahun 1970-an.

Ismail bercerita, pertengahan era 1970-an, di Aceh jarang sekali seniman musik yang bisa meniup alat musik seurune kalé. Kala itu, jumlah seniman yang bisa meniup seurune bisa dihitung dengan jari.

Dia menjelaskan, senja kala alat musik ini terjadi karena pada pertengahan era 1970-an tari-tarian tradisional Aceh, yang sebelumnya diiringi musik tradisi, sudah digantikan dengan alat musik modern, semisal band. Atau bahkan dengan kaset yang bisa diputar kapan pun sesuai dengan keinginan. Akibatnya, seni tradisi terpinggirkan dalam setiap penampilan tari-tari tradisional. “Jarang ada yang mengundang seniman tradisi saat pentas tari,” ujarnya.

Menurut Ismail, hanya ada dua peniup seurune kalé di Banda Aceh, yakni Bapak Leman (Keutapang, Aceh Besar) dan Cek Manyuk (Banda Aceh). Salah satu dari mereka, selain meniup seurune, juga menjadi produsen alat musik tiup tersebut. Seorang lagi yang dikenal memiliki seurune kalé adalah saudara sepupu Ismail, Abdullah Radja (almarhum). “Dia punya alatnya, tapi tidak bisa meniupnya,” katanya.

Menghadapi kenyataan seni tradisi mulai hilang ditelan modernisasi alat-alat musik, Ismail merasa tertantang. Dia meminta Leman membantunya mempelajari cara meniup alat tersebut. Namun, jawaban yang diterimanya sangat tidak mengenakkan.

“Tarik napas dalam-dalam dari hidung, kemudian embus pelan-pelan dari mulut. Pasti bunyi. Jawaban itu, bagi saya, tidak mengenakkan hati, tetapi tidak menciutkan niat untuk belajar. Kata-kata itu membuat saya tertantang. Kalo dia bisa, kenapa saya tidak,” katanya yakin.

Berbekal seurune yang dipinjam dari sepupunya, Abdullah Radja, Ismail belajar meniup seurune secara perlahan. Salah-salah tiup atau bunyi-bunyi fals atau sember yang keluar dari corong seurune tidak menyurutkan langkah Ismail untuk terus belajar. Dengan kegigihannya, dalam beberapa pekan Ismail sudah cukup mahir memainkan alat musik tiup tersebut.

Meski demikian, kemampuannya meniup alat musik itu terus diasah sampai dia mendapat pengakuan dari rekan-rekan seniman di kelompok musiknya sebagai peniup seurune yang bisa diandalkan.

Tahun 1975 Ismail mendapat kepercayaan dari Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Aceh menjadi pengisi acara pembukaan anjungan Aceh di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta. Sejak saat itu Ismail lebih dikenal sebagai peniup seurune kalé ketimbang sebagai pemain rapai geundrang atau rapai jeune. Ismail sering diminta tampil di berbagai acara, baik di acara hajatan, sunatan, maupun acara-acara lainnya, di kampung-kampung dan di kota-kota bersama seniman lainnya. Meski hanya dibayar dengan buah-buahan atau hasil panen, hal itu tidak menjadi masalah bagi Ismail.

Kucing-kucingan

Laki-laki yang baru sekitar setahun menikah lagi dengan Jariah Umar yang ditemuinya setelah tsunami melanda Aceh, sebelum bermain seurune kalé, lebih dikenal sebagai pemain rapai geundrang atau rapai jeune.

Bersama kelompok yang dibentuknya bersama Abdullah Radja, dia bermain rapai keliling Aceh. Tidak hanya di kota-kota besar, tetapi juga ke pelosok desa di wilayah itu.

Menurut Ismail, seperti halnya seni-seni tradisi lainnya di Pulau Sumatera, seni tradisi yang berkembang di Aceh tidak terlepas dari pengaruh kaum pendatang, seperti Portugis, India, Belanda, China, Persia, dan juga kesenian asal Melayu. Lirik-lirik yang biasa dinyanyikan kelompok rapai gambusnya diambil dari ayat-ayat Al Quran. Lirik tersebut, katanya, biasa dilagukan saat jemaah masjid melakukan zikir seusai melaksanakan salat berjemaah.

“Liriknya dari sana. Iramanya biasanya irama-irama musik dari Persia, India, hingga Melayu. Di Aceh ini, semua seni tradisinya hasil percampuran dari berbagai daerah,” ujarnya.

Bapak dari enam anak ini menuturkan, di era Orde Baru dan keadaan darurat militer tidak gampang bagi seniman Aceh untuk berkesenian. Ismail mengaku sering harus bermain kucing-kucingan dengan aparat bila akan berlatih. Aparat, katanya, sering membubarkan kegiatan berkesenian karena takut keramaian akan membuat masyarakat melakukan perlawanan.

“Mereka takut syair dan lirik yang dinyanyikan membangkitkan semangat perlawanan. Padahal, sama sekali tidak,” tuturnya. Tidak jarang Ismail dan teman-teman sekelompoknya harus berlatih di tempat pemakaman umum alias kuburan untuk menghindari aparat.

Setelah tsunami

Setelah rumahnya hancur diterjang tsunami, Ismail bersama Rusdian sempat tinggal di barak pengungsian selama hampir dua tahun. Baru pada Juli 2007 dia menempati rumah baru bantuan Bank Pembangunan Asia, tidak jauh dari rumah lama yang dulu ditempatinya bersama istri dan keenam anaknya.

Pensiunan pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NAD ini menuturkan, sebulan setelah bencana dirinya diminta oleh lembaga pendidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk membantu mengembalikan kondisi psikologis para seniman Aceh yang turun drastis akibat tsunami.

“Sempat saya tolak. Soalnya, saya juga terkena dampak. Keluarga saya hanya tersisa dua orang. Semuanya hancur. Saya juga harusnya dibantu. Bukan membantu,” tuturnya.

Akan tetapi, akhirnya dia bersedia membantu lembaga itu. Setiap hari mulai pagi hingga malam dia berkeliling ke barak-barak pengungsian, mencari seniman-seniman yang masih hidup dan membantu rehabilitasi kondisi psikologis mereka. Usahanya tidak sia-sia. Beberapa bulan setelah tsunami, secara perlahan kehidupan berkesenian di Aceh tumbuh kembali.

Direktur Institut Kesenian Jakarta Sardono W Kusumo yang juga teman akrabnya, bersama dengan rekan seniman lainnya, membantu pembangunan kembali sanggar kesenian milik Ismail. Bangunan Sanggar Putroe Ijo ini berada di samping rumah tinggalnya sekarang. Puluhan anak didiknya—juga seniman Aceh lainnya—sering berkumpul di sanggar itu untuk berlatih atau sekadar berbincang mengenai masa depan kesenian Aceh.

Ismail berharap generasi penerus peniup seurune kalé terus tumbuh di Aceh. Seni tradisi Aceh jangan dilupakan. []