April 2008


Sumber: Kompas, Rabu, 12 Maret 2008 | 00:41 WIB

Sore itu, Ing Han (62) menjelaskan cara menggambar prisma segi lima kepada Maya, murid les privatnya yang duduk di kelas I SMA. ”Kita mulai dengan prinsip menggambar sudut kelipatan 18 derajat tanpa memakai busur derajat,” ujar Ing Han sambil menggambar segitiga di papan tulis.

Tangan Ing Han menggores garis tanpa sekalipun mengangkat spidol. Ia menempelkan empat potongan magnet di papan tulis sebagai patokan. Tangan kanan memegang spidol, tangan kirinya menyentuh empat magnet itu untuk memastikan posisi. Hanya sesekali ia bertanya kepada Maya, apakah tanda yang ia gambar sudah berada pada tempat yang tepat.

Ing Han adalah guru les privat Matematika dan Fisika. Banyaknya siswa SMP dan SMA yang datang dari berbagai penjuru Jakarta ke rumah Ing Han di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, menunjukkan ia piawai di bidangnya. Tak hanya mampu menjelaskan ilmu ukur ruang, ia juga terbiasa mengerjakan soal atau menurunkan rumus di luar kepala. (more…)

Advertisements

Sumber: Kompas, Jumat, 29 Februari 2008 | 02:23 WIB

Menanam bakau di sepanjang pantai bukan perkara mudah. Bibit yang ditanam bisa tersapu ombak, dimakan ketam, atau dijahili tangan manusia, lalu hilang dalam sekejap. Tetapi, Muchson tanpa henti menghijaukan kembali kawasan tempat tinggalnya di Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur.

Kenyataannya, Muchson tidak hanya telah menanam sekitar 10.000 bakau (mangrove) di sepanjang 1,5 kilometer di tepian Sungai Wonokromo, tetapi dia bahkan mampu menjadikan bakau memiliki nilai tambah. Dari tangannya, bakau tidak hanya menjadi pelindung pesisir pantai, tetapi juga bisa dijadikan produk yang bernilai jual dan laku di pasaran. (more…)

Sumber: Kompas, Senin, 14 April 2008 | 01:02 WIB

Tradisi yang membekas pada masa lalu, bagi sebagian orang, seperti ingatan. Itulah yang mendorong Djoko Sri Yono membuat reproduksi wayang beber yang pernah populer pada masa Kerajaan Majapahit hingga Mataram pada abad ke-18. Pertunjukan wayang beber kini mati suri. Wayang bebernya pun kondisinya memprihatinkan karena tinggal beberapa dan lapuk dimakan usia.

Sejak akhir 2007 Djoko Sri Yono menggali kembali tradisi melukis wayang beber yang pernah dia tekuni 45 tahun silam. Ia membuat babon atau master wayang beber dengan kisah Joko Kembang Kuning, cerita asmara Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji yang terdiri dari 24 jagong (lembar). Babon itu berbentuk tracing dari bahan plastik bening, yang digambari kontur dengan tinta china.

”Setelah 24 tracing ini selesai, saya baru menggambarnya satu per satu di atas kain. Kalau sudah komplet akan saya pamerkan. Saya tunjukkan, ini lho wayang beber yang sesuai pakem,” paparnya.

Ia membuat babon berdasarkan foto reproduksi wayang beber yang menjadi artefak di Desa Karangtalun, Kecamatan Donorejo, Pacitan (Jawa Timur), serta yang ada di Desa Gelaran, Kabupaten Gunung Kidul (Yogyakarta) sebagai perbandingan. (more…)