Sumber: Kompas.

Penampilannya biasa saja. Bahkan, sebagian orang yang belum mengenal dia merasa heran karena lelaki yang salah satu kakinya tidak lagi utuh itu tetap lancar mengemudikan mobil Nissan Terano. Dialah Paulus Tadeus Bambang Triono (61), juragan agen koran dan majalah tunggal di Nusa Tenggara Timur. Omzetnya sekitar satu miliar rupiah per bulan.

Untuk mencapai semua itu, kata Bambang, kuncinya sederhana saja, yakni semangat dan jangan pernah mengeluh. Menurut dia, keluhan itu merupakan awal dari kemiskinan.

Meskipun dia dilahirkan di Kota Solo, Jawa Tengah, tetapi pria ini mengaku sudah telanjur cinta dengan tanah Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia merasa kerasan tinggal di NTT bersama sang istri, Lucia Widihartati (61), dan kedua anak serta menantunya. Mereka tinggal dikelilingi ribuan ekor ayam dan beraneka jenis tanaman.

”Hidup ini perjuangan. Ini harus betul-betul diingat agar kita tidak mengeluh. Sebab, sekali kita mengeluh, itu akan menjadi awal dari kemiskinan,” katanya menegaskan.

Bambang lalu bercerita tentang masa sebelum ia bisa hidup seperti sekarang. Sampai sekitar tahun 1980-an, ia masih sering mendapat cercaan dan hinaan. Kondisi ini berawal dari sakit di kakinya yang tak kunjung sembuh. Ia merasa lelah setelah berusaha berobat ke berbagai tempat, sebelum akhirnya setuju bagian kakinya yang sakit itu diamputasi.

”Setelah itu saya jadi suka terus-menerus becermin. Saya becermin sambil berkata kepada diri sendiri, apa yang sudah kau lakukan untuk kebaikan Bambang? Itu pertanyaan yang selalu saya lontarkan ketika becermin,” ujarnya sambil menirukan gayanya becermin.

Sebelumnya, Bambang bekerja sebagai pegawai negeri sipil pada Departemen Kesehatan di NTT. Namun, perubahan fisiknya kemudian membuat atasannya justru memecat dia secara tak langsung. Ia dianggap tidak produktif. Bambang pun kemudian menjalani pensiun dini.

Meskipun demikian, di lubuk hatinya Bambang menganggap hal itu sebagai suatu hinaan yang tiada terkira. Perasaan itulah yang membuat dia tak ingin mengambil sepeser pun uang pensiunnya sejak sekitar 20 tahun lalu.

”Biarkan saja. Sekarang saya sudah bisa menikmati hasil jerih payah sendiri, daripada sekadar mengambil uang pensiun yang tidak seberapa itu dari pemerintah. Mengambil uang pensiun itu justru menjadikan saya merasa ’sakit’ lagi,” kata Bambang serius.

Membaca gratis

Modalnya bisa dikatakan cuma nekat ketika ia memberanikan diri menjadi agen koran dan majalah. Saat itu ia berpikir, mengapa tidak menjadi agen majalah? Selain mendapat uang dan mempermudah orang lain mendapatkan majalah, Bambang berharap bisa ikut membaca dengan gratis.

”Hal yang penting buat saya adalah bisa ikut membaca. Saya tidak merasa perlu mendapat untung besar, buat apa membohongi konsumen,” kata Bambang yang mendapat ide untuk menjadi agen penerbitan setelah melihat nikmatnya penjaja penerbitan yang bisa ikut membaca dengan gratis.

Maka, tahun 1990-an, dengan gigih Bambang berkeliling ke berbagai tempat mengantarkan majalah dan koran. Ia memulainya dengan melayani 10 pelanggan surat kabar. Jumlah pelanggannya terus bertambah seiring berjalannya waktu.

Awalnya, ia menggunakan gerobak untuk bekerja, lalu kemudian berhasil mengumpulkan uang untuk membeli kendaraan roda dua dan selanjutnya berganti lagi dengan kendaraan roda empat.

Ia mengakui tidak gampang menjadi agen koran atau majalah, khususnya dari penerbitan yang berkantor pusat di Jakarta. Hinaan pernah dia terima dari redaksi sebuah majalah nasional hanya karena penampilan fisik dan kesederhanaannya. Bambang dianggap tak cukup meyakinkan.

”Saya sempat sampai menggebrak meja karena seorang petugas satpam berniat mengusir saya dari ruangan ber-AC itu. Saya pikir, ini ’gila’ karena saya ini kan agen yang juga berjuang secara tidak langsung untuk marketing majalah mereka. Tetapi, mereka malah memperlakukan saya tidak selayaknya seorang tamu,” ceritanya.

Saling membutuhkan

Menurut Bambang, redaksi sebuah penerbitan tak berarti ketika tidak ada agen yang mau menjual produknya. Di sisi lain, pihak agen pun bukan apa-apa jika tak ada media yang dipasarkan.

Apalagi agen di NTT yang harus bersikap ”ekstra sabar” menghadapi konsumen sebab sebuah penerbitan sering kali sampai di tangan pelanggan lama setelah tanggal terbit yang tercantum.

”Maklum, penerbangan ke NTT khusus masih jarang dan susah. Kalau melalui laut, perjalanannya akan lebih parah lagi dan lebih berisiko,” ujarnya.

Namun, tidak ada kata menyerah dalam kamus Bambang saat harus menghadapi keluhan para konsumen. Ia berusaha melayani dan mendengarkan keluhan konsumen dengan berbagai cara.

”Ada hal yang saya pegang, yakni kepercayaan itu adalah segalanya,” ujar Bambang yang mengikhlaskan sebagian waktunya untuk berbagi dan mendengarkan keluhan pelanggan.

Jika koran atau majalah telat datang, tanpa merasa mendapat beban tambahan, Bambang sesegera mungkin menulis surat selebaran yang isinya alasan keterlambatan tersebut. Tidak jarang ia menelepon langsung para pelanggannya.

”Saya ingin pelanggan tak dirugikan dan mereka tetap merasa kami perhatikan. Kalau produk penerbitan itu bisa sampai di tangan pelanggan tepat waktu, saya juga menelepon secara random. Saya minta mereka berterima kasih. Ini timbal balik agar pelanggan tak hanya bisa marah bila penerbitan terlambat datang,” ujarnya.

Setelah belasan tahun berjuang, Bambang berhasil menjadi agen tunggal koran dan majalah di Kupang. Sedikitnya 800-an pelanggan surat kabar tetap setia bersamanya.

Bambang juga membangun toko buku dengan nama Semangat. Ia ingin menjadi penyebar semangat bagi masyarakat di Kupang agar mereka tak mudah ”patah arang”.

”Satu juta itu juga berawal dari angka satu. Jadi, jangan pernah menganggap remeh apa yang kita terima, sesedikit apa pun itu. Tetaplah bersyukur,” katanya.

Bambang pun melebarkan sayapnya. Tak hanya berhenti sebagai agen koran dan majalah, ia juga menekuni usaha berbagai jenis tanaman, mulai dari tanaman hias, tanaman buah, hingga tanaman obat-obatan. Meskipun memelihara tanaman tersebut pada awalnya dia lakukan untuk menyalurkan hobi semata.

”Saya memelihara ayam juga karena memang hobi sekaligus memberi contoh langsung. Kalau kita mau berusaha sungguh-sungguh dan mau bekerja keras, pasti ada hasilnya,” kata Bambang.

Diversifikasi usaha terus dia lakukan. Berawal dari sedikit anak ayam, belakangan Bambang pun menjadi juragan ayam. Ribuan ayam kini berada di kandang-kandang yang berdiri di atas tanah miliknya seluas sekitar 20 hektar.

Dalam menjual ayam ia berusaha menyediakan apa pun yang diinginkan konsumen. ”Saya menjual ayam sesuai harga pasar. Jika pelanggan merasa harganya terlalu mahal, saya menawarkan ayam yang berharga lebih murah, meski lebih kecil,” kata Bambang. []