Budaya


Sumber: Kompas.

Jika banyak seniman kontemporer menikmati hidup di tengah kota besar, dia minggir dan tinggal di kampung. Ketika para pelukis gencar mengangkat budaya urban seraya berpameran dari galeri ke galeri, dia berkelana di desa-desa demi memberdayakan rakyat miskin lewat kesenian. Saat sebagian seniman makin makmur dan berjarak dari kehidupan nyata, dia masih setia pada komunitas desanya.

Dialah Moelyono (52), seniman yang memilih tinggal di Desa Winong, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, Jawa Timur. Dia bergabung dalam kehidupan masyarakat desa, mengajak mereka berkesenian, dan mengungkapkan masalahnya lewat bahasa rupa. Bersama komunitas itu, kemudian dia berusaha mendorong penyadaran, kebebasan berpikir, daya kritis, dan kemandirian. (more…)

Advertisements

Sumber: Kompas.

Rekor penonton seni kentrung pecah tahun 2008, saat Mochammad Samsuri manggung tunggal di pentas Demak Art Festival di Tembiring, Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Ketika itu ribuan penonton asyik menyimak gaya Samsuri bertutur tentang Syaridin alias Sheikh Jangkung. Alkisah, Sheikh Jangkung lahir di Desa Landoh, Tayu, Pati. Sheikh Jangkung diperkirakan hidup semasa Sunan Muria atau Raden Umar Said menjadi penyebar agama Islam. Dia punya karomah yang disegani pada zamannya. Dia menyebarkan Islam hingga ke Sumatera.

Atas partisipasi menggelar seni tutur di Demak Art Festival 2008, Samsuri memperoleh penghargaan sebagai pelestari kebudayaan, terutama sebagai tokoh kentrung. Samsuri menjadi satu-satunya seniman kentrung yang bertahan di pantai utara-timur Jawa Tengah, meskipun dia sudah uzur. (more…)

Sumber: Kompas.

Lasem, kota tua berhawa panas di pesisir utara Jawa Tengah pada tahun 1961. Seorang hoakiao muda membuat udara Lasem tambah gerah setelah mempersunting gadis Jawa, putri seorang panitera dan keponakan wedono dari Tulungagung, Jawa Timur.

Hoakiao—istilah untuk China perantauan—itu bernama Njo Tjoen Hian, putra perajin batik. Pernikahannya tersebut melawan arus masyarakat waktu itu, yang masih menganggap miring pernikahan antar-etnis dan antar-agama.

”Pada waktu itu perkawinan Tionghoa dan Jawa biasanya delik-delik (sembunyi-sembunyi). Sementara saya menikah resmi di catatan sipil,” kata Njo Tjoen Hian, yang sejak tahun 1959 lebih sering menggunakan nama Sigit Witjaksono ini.

Tentang namanya ini, Njo Tjoen Hian menjelaskan, ”Sigit Witjaksono itu merupakan versi bahasa Jawa dari Njo Tjoen Hian. Artinya sama, yaitu kebaikan dan kebijaksanaan.” (more…)

Sumber: Kompas, Senin, 14 April 2008 | 01:02 WIB

Tradisi yang membekas pada masa lalu, bagi sebagian orang, seperti ingatan. Itulah yang mendorong Djoko Sri Yono membuat reproduksi wayang beber yang pernah populer pada masa Kerajaan Majapahit hingga Mataram pada abad ke-18. Pertunjukan wayang beber kini mati suri. Wayang bebernya pun kondisinya memprihatinkan karena tinggal beberapa dan lapuk dimakan usia.

Sejak akhir 2007 Djoko Sri Yono menggali kembali tradisi melukis wayang beber yang pernah dia tekuni 45 tahun silam. Ia membuat babon atau master wayang beber dengan kisah Joko Kembang Kuning, cerita asmara Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji yang terdiri dari 24 jagong (lembar). Babon itu berbentuk tracing dari bahan plastik bening, yang digambari kontur dengan tinta china.

”Setelah 24 tracing ini selesai, saya baru menggambarnya satu per satu di atas kain. Kalau sudah komplet akan saya pamerkan. Saya tunjukkan, ini lho wayang beber yang sesuai pakem,” paparnya.

Ia membuat babon berdasarkan foto reproduksi wayang beber yang menjadi artefak di Desa Karangtalun, Kecamatan Donorejo, Pacitan (Jawa Timur), serta yang ada di Desa Gelaran, Kabupaten Gunung Kidul (Yogyakarta) sebagai perbandingan. (more…)

Sumber: Kompas.

“Saya juga tidak tahu. Saat itu air sudah di atas kepala. Saya juga sudah tidak bisa bergerak karena kaki luka. Saya hanya berpegangan pada balok kayu agar tidak tenggelam. Tahu-tahu, alat itu muncul ke permukaan. Entah bagaimana bisa terlepas dari setang kemudi Vespa,” ujar Ismail Sarong (61) saat ditemui di rumah barunya di Kampung Pande, Kutaraja, Banda Aceh, Oktober lalu.

Bagi Ismail, kemunculan alat musik tiup seurune kalé miliknya dari dalam air saat tsunami melanda Nanggroe Aceh Darussalam, 26 Desember 2004, merupakan mukjizat. Dia sudah tidak memikirkan lagi alat itu. Yang terpikirkan kondisi keluarganya, istri dan kelima anak perempuannya yang ditinggal di rumah saat bencana itu melanda. “Hanya itu yang saya pikirkan,” ujarnya. (more…)

Tip dodol tip wajik

tip gule lan kelape

didokon ning pendaringan

dirubung semut gatel.

Tembang dolanan anak-anak Banten ini sudah jarang terdengar. Pengamen jalanan, Achmad Tantowi alias Toton Greentoel (37), mengemas ulang tembang itu dalam album kaset amatiran berisi lagu-lagu berbahasa Jawa-Serang dan Sunda-Banten. Ikhtiar mencari identitas lagu daerah Banten. (more…)

Sumber: Kompas.

Tari Zapin sudah mendarah daging dalam kehidupan masyarakat Desa Meskom, Pulau Bengkalis, Provinsi Riau. Lelaki, perempuan, tua, muda, hingga anak-anak turut melestarikan tarian khas pesisir Melayu itu.

Seni tradisi tersebut tetap terjaga karena disokong beberapa penari tua yang tekun mendorong regenerasi. Salah satu di antaranya adalah Muhammad Yazid (82).

Nama Yazid sangat populer di Bengkalis karena hampir setiap hajatan penting yang ”berbau Zapin” selalu menampilkan dia. Saat pergelaran ”Zapin Berkampung” sebagai rangkaian festival Semarak Zapin Serantau di Meskom, suatu malam akhir Agustus lalu, Yazid juga didaulat untuk tampil. Dengan iringan syair Bunga Cempaka, lelaki sepuh itu memukau ratusan penonton yang berjubel di pinggiran jalan. (more…)

Next Page »