Guru


Sumber: Kompas.

Saat tak ada yang peduli pendidikan bagi suku Hoaulu, Joris Lilimau tampil berperan. Ia mengenalkan sekolah bagi suku yang tinggal di kawasan hutan Taman Nasional Manusela, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku, itu.

Jumat (30/4) pukul 06.30 waktu setempat, masih terluang waktu satu jam sebelum pelajaran di Sekolah Dasar Kecil Hoaulu dimulai. Namun, para murid sudah datang dan duduk di kelas. Saat sang guru datang, 30 murid di dua kelas itu mengikuti kegiatan belajar-mengajar, tanpa seorang pun berani mengobrol. (more…)

Sumber: Kompas.

Dari sekitar 387 warga Dusun Hepang, pilihan komite sekolah jatuh kepada Guarda Nona yang hanya tamatan Sekolah Menengah Kejuruan Kewapante Maumere untuk menjadi guru anak mereka. Dusun Hepang terletak sekitar 35 kilometer dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka.

Guarda Nona (30) pun dengan tekad bulat menerima amanat warga untuk mengajar anak-anak kelas I di dusun terpencil di Desa Nenbura, Kecamatan Doreng, Kabupaten Sikka, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Putri sulung pasangan Blasius Bas dan Susana Ineti itu dipandang layak mendapat kepercayaan warga demi mengangkat warga Hepang dari ketertinggalan dan kebodohan.

Rata-rata warga Hepang yang tak tamat sekolah dasar (SD) umumnya petani jambu mete dan kemiri. Banyak warga putus sekolah ketika duduk di kelas II atau kelas III SD. Karena itu, lebih banyak warga yang buta aksara: dari 84 keluarga, yang tamat SMP hanya empat keluarga. (more…)

Jaring nelayan membentang di lorong sekolah dasar jarak jauh 01 dan 03 Dusun Lempongpucung, Desa Ujungalang, Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah, pekan lalu. Untuk masuk ke dua kelas lokal yang ada, semua siswa harus meloncati jaring itu.

Kalau tidak diberi jaring, kambing-kambing ikut masuk kelas mengikuti pelajaran,” kata Wartati (42), guru Sekolah Dasar (SD) Negeri 01 Ujungalang, berseloroh. Perempuan separuh baya itulah yang merintis terbangunnya sebuah sekolah dasar jarak jauh di Lempongpucung, yang sebagian besar penduduknya telah beralih dari nelayan menjadi petani. (more…)

Kalau saja Elly Liligoli (36) tidak pulang ke kampung halamannya di tepian Danau Rana, mungkin anak-anak suku Rana masih belum bisa menulis dan membaca, apalagi berbahasa Inggris seperti saat ini. Kedatangan Elly menjadi obor penerang masa depan anak-anak Rana di pedalaman Pulau Buru, Provinsi Maluku.

Elly tiba di tanah kelahirannya, Dusun Kaktuan, Desa Wamlana, Kecamatan Air Buaya, Kabupaten Buru, pada suatu Sabtu malam tahun 2001. Kaktuan adalah setitik ingatan yang direkam saat kanak-kanak sebelum Elly ikut orangtuanya pindah ke Desa Waemulang di Buru selatan. (more…)

Kemarahan pada dunia pendidikan yang terus membara di hati membuat wanita ini terpacu melawan “pembodohan” dan buta aksara dengan caranya sendiri. Berbekal sepeda onthel (kayuh), ia mencoba menumbuhkan rasa cinta membaca di kalangan masyarakat yang bisa disebut “terbawah”.

Kiswanti, begitu wanita ini terlahir. Ia tinggal di daerah Lebak Wangi, Bogor, di sebuah rumah yang tak seberapa besar. Meski seadanya, rumah tipe 36 itu menjadi tempat pertemuan komunitas Lebak Wangi. Tepatnya, Warung Baca Lebak Wangi atau Warabal. (more…)

Raja Dima Siregar (37) hanya petani dari desa. Namun, bagi warga Dusun Sigoring-goring, Desa Pangirkiran Dolok, Kecamatan Barumun Tengah, Tapanuli Selatan, dia adalah pahlawan.

Pahlawan, karena dia menjadi guru bagi anak-anak dusun dari kelas I hingga kelas VI hanya dengan bayaran 80 kaleng beras per tahun satu kaleng beras setara dengan 16 kilogram. Selain itu, dia juga guru mengaji tanpa imbalan. Saya melakukan ini karena merasa harus melakukannya. Saat itu anak- anak tidak sekolah selama tiga bulan karena tidak ada guru, saya tidak tega melihatnya, kata Raja Dima. (more…)

Sumber: Kompas.

Kedua orangtuanya hanya bisa marah dan menahan kecewa ketika MH Aripin Ali (36) lari meninggalkan bangku kuliahnya pada semester terakhir di sebuah universitas swasta di Tasikmalaya, Jawa Barat. Kuliah di perguruan tinggi tidak memberikan apa-apa bagi dirinya kecuali janji ijazah.

Sejak itu Aripin jadi penganggur. Ia ditampung oleh kawan-kawannya mahasiswa di Bandung. Sehari-hari pekerjaannya memasak, bersih-bersih rumah, dan melayani kawan-kawannya. Dalam pencarian dirinya, Aripin sempat bergabung dengan kelompok keagamaan yang bergerak di bawah tanah.

Aripin tidak berhenti mencari. Di waktu luangnya, Aripin menjelajahi sejumlah perpustakaan di Bandung. Dalam penjelajahan itulah ia berkenalan dengan filsafat dan teologi. Buku-buku itu tidak sepenuhnya ia pahami, namun Aripin terus membaca. Pemikirannya menjadi terbuka, betapa dogma bisa membutakan. Sesama pemeluk agama bisa membunuh dan saling mengkafirkan hanya karena perbedaan aliran. (more…)

Next Page »