Lingkungan


Sumber: Kompas.

Awalnya Baharuddin Sanian tengah mencari kemungkinan kerabatnya yang hilang atau meninggal akibat gempa dan gelombang tsunami. Sesampai di Banda Aceh, di antara ribuan mayat korban bencana dahsyat itu, ia termangu melihat tumpukan sampah berbagai jenis, dari besi hingga plastik.

Saat sampah mulai dibersihkan, Baharuddin heran. Tak banyak orang mau memunguti sampah plastik. Pemulung tak banyak yang mau mengambil sampah plastik. ”Mungkin karena nilainya rendah, sampah plastik tak banyak yang mengambil. Berbeda dengan besi yang harganya mahal kalau dijual kembali,” katanya. (more…)

Advertisements

Sumber: Kompas.

Siang hari itu Alimun memperlihatkan buah-buah kakao dari kebunnya di Desa Bobo, Kecamatan Palolo, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah. Dengan bangga ia menunjukkan buah-buah kakao yang rata-rata sebesar buah pepaya lokal.

Buah kakao itu ada yang berwarna kuning, ada yang merah tua. Semuanya tampak segar. Ini jauh berbeda dibandingkan dengan buah kakao biasa yang kecil dan kulit buahnya mengerut. Perbandingannya, bila 1 kilogram kakao lokal berisi 25 buah, kakao dari kebun Alimun 10-16 buah.

Buah-buah kakao di kebunnya adalah hasil sambung samping dan persilangan antara bibit kakao lokal dan bibit asal Jember dan dari beberapa daerah lain. Persilangan dan sambung samping dilakukan sendiri oleh Alimun.

Ada dua alasan mengapa ia bersemangat menerapkan sistem sambung samping pada tanamannya. Pertama, akibat serangan hama penggerek buah yang sudah bertahun-tahun menyerang tanaman kakao petani setempat dan hampir semua petani kakao di Sulteng. Hasilnya, selain mendapat batang dan buah baru dari pohon yang sama, hama penggerek buah juga sedikit demi sedikit teratasi. (more…)

Sumber: Kompas.

Tiap kali angin musim barat dan angin musim timur berembus, wilayah pesisir pantai Rembang, Jawa Tengah, selalu bergejolak. Nelayan tidak melaut, tambak-tambak rusak, dan sejumlah permukiman diempas gelombang pasang.

Peristiwa itu terjadi sejak 48 tahun silam. Waktu itu, warga pesisir pantai membabat habis mangrove untuk tambak bandeng. Hal serupa terjadi pada era 1990-an tatkala budidaya udang windu merebak. Warga kembali menebangi mangrove untuk memperluas tambak. Tak heran jika keberadaan mangrove di pesisir sepanjang 60 kilometer itu sangat minim.

Dari enam kecamatan yang masuk kawasan pesisir, sabuk hijau mangrove hanya terpusat di tiga desa dalam tiga kecamatan. Wilayah itu adalah Desa Tungulsari (Kecamatan Kaliori), Desa Pasar Bangi (Kecamatan Rembang), dan Desa Dasun (Kecamatan Lasem). Di tiga daerah itulah warga pesisir dapat tidur nyenyak. Gelombang pasang tak lagi segarang dulu. Para petani garam dan petambak pun dapat bekerja dengan tenang. (more…)

Sumber: Kompas, Jumat, 29 Februari 2008 | 02:23 WIB

Menanam bakau di sepanjang pantai bukan perkara mudah. Bibit yang ditanam bisa tersapu ombak, dimakan ketam, atau dijahili tangan manusia, lalu hilang dalam sekejap. Tetapi, Muchson tanpa henti menghijaukan kembali kawasan tempat tinggalnya di Wonorejo, Surabaya, Jawa Timur.

Kenyataannya, Muchson tidak hanya telah menanam sekitar 10.000 bakau (mangrove) di sepanjang 1,5 kilometer di tepian Sungai Wonokromo, tetapi dia bahkan mampu menjadikan bakau memiliki nilai tambah. Dari tangannya, bakau tidak hanya menjadi pelindung pesisir pantai, tetapi juga bisa dijadikan produk yang bernilai jual dan laku di pasaran. (more…)

Teriakan “iiikkk, iiikkk” dari mulut A Rahman Saleh (50) menggema di seputar obyek wisata kawasan Hutan Pusuk, Desa Bentek, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Rahman sedang memanggil kawanan kera abu-abu untuk diberi makan buah pisang meski hanya satu-dua yang datang menghampiri.

“Minggu begini, banyak pengunjung memberi makan sehingga monyet-monyet itu umumnya malas ke sini,” kata Rahman.

Ia kemudian mengajak beberapa wisatawan lokal menuju lokasi sekitar 100 meter dari tempat semula. Di lokasi hewan-hewan itu biasa mangkal, rombongan bule memang sedang memberikan roti, kacang, dan penganan ringan lain kepada monyet-monyet itu. (more…)

Dia tak takut untuk berubah. Pria yang awalnya bercita-cita menjadi guru ini harus bertahan hidup sebagai nelayan selama puluhan tahun. Kini, Mahmudin berhasil menjadi pengusaha karang hias dari Kepulauan Seribu yang beromzet jutaan rupiah per bulan.

Pria kelahiran Pulau Panggang, Kepulauan Seribu, DKI Jakarta, yang kini berusia 45 tahun itu memulai budidaya karang hias sekitar awal tahun 2003. Mahmudin yang suka belajar dan mengajar ini tak ragu mencoba pengetahuan yang didapatnya dari Kepala Balai Taman Nasional Laut Kepulauan Seribu atau BTNLKpS Sumarto. (more…)

Bila Anda menuju Desa Santong, Anda mesti melewati Dusun Empak Mayung, Kecamatan Kayangan, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Di Dusun Empak Mayung yang terletak paling hilir di kecamatan itu ada lahan seluas 12 hektar yang tampak hijau dan sejuk oleh rindang dedaunan beragam jenis pohon dan tanaman.

Kondisi lahan rusak akibat perambahan hutan Rinjani, dan bertambah parah oleh aksi penggalian batu apung yang selama ini justru menjadi sumber penghasilan penduduk setempat. Padahal, tanah di kawasan yang berjarak sekitar 60 kilometer arah utara Mataram itu terbilang labil dan poros. (more…)

Next Page »